Biarkan Anak Kelak Tentukan Pilihannya, Apa Harus Tindik Telinga atau Tidak

Biarkan Anak Kelak Tentukan Pilihannya, Apa Harus Tindik Telinga atau Tidak

Ilustrasi (Guillaume Jaillet via Unsplash)

Netizen Hollywood dan sekitarnya sempat dihebohkan dengan sosok Kylie Jenner yang mengunggah video Snapchat ketika ia mencium bayinya yang berusia lima bulan. Sekilas, video tersebut tampak seperti video-video biasa unggahan netizen lainnya.

Tetapi, ada hal yang kemudian menjadi sorotan dalam video tersebut. Bayi Kylie Jenner yang bernama Stormi itu telah ditindik telinganya dan dipasangkan anting di usianya yang baru lima bulan.

Sosok Kylie Jenner dan keluarganya yang seringkali memicu kontroversi langsung menuai respons negatif dari berbagai pihak di media sosial maupun media massa. Banyak yang mempertanyakan etika dan keamanan dari tindik telinga pada bayi perempuan.

Sejumlah pakar kesehatan di Amerika Serikat sebetulnya sudah lama mengkritik tindik telinga pada bayi, karena banyak kasus yang ditemui seperti infeksi dan alergi, serta beberapa bayi yang tidak sengaja menelan anting yang mereka pakai.

Karena itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuk menunggu anak cukup besar terlebih dahulu agar ia dapat menentukan sendiri, apakah ia ingin ditindik telinganya atau tidak.

Persoalan tindik ini sebenarnya hanya untuk kepentingan penampilan saja, tidak lebih. Kalaupun orang tua memang ingin menindik telinga anaknya ketika masih bayi, sangat diimbau agar tindakan tersebut dilakukan sesuai prosedur dan sanitasi yang baik untuk menghindari infeksi.

Rasanya opini mengenai etika tindik pada bayi jarang ditemukan dan dilontarkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Tindik telinga pada bayi perempuan sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah.

Tindik telinga bayi ini bahkan sudah menjadi bagian dari budaya turun-temurun dan erat kaitannya dengan tuntutan sosial yang seolah menjadi keharusan untuk membedakan bayi perempuan dengan bayi laki-laki.

Contohnya, ketika salah satu artis Indonesia, yaitu Atiqah Hasiholan melalui akun Instagramnya menjelaskan mengapa ia tidak menindik telinga bayi perempuannya. Menurut Atiqah bahwa untuk segala sesuatu yang bersifat permanen dan estetis, biar anaknya saja yang nanti menentukan sendiri, apakah ia mau menindik telinganya atau tidak.

Penjelasan ini merupakan respons dari komentar netizen yang mempertanyakan mengapa anak dari Atiqah Hasiholan – yang berusia satu bulan saat itu – tidak ditindik telinganya. Padahal, ia adalah perempuan. Pendapat itu begitu kontras dengan apa yang dialami Kylie Jenner dan bayinya.

Sebagian besar orang tua di Indonesia yang memiliki bayi perempuan rata-rata sudah menindik telinga anak mereka sejak bayi. Hal itu kemudian menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan rumah sakit dan bidan pun membuka jasa tindik telinga bayi.

Sedikit kembali pada Kylie Jenner dan bayinya. Ternyata, cukup banyak netizen dari Amerika Latin seperti Meksiko yang membela Kylie Jenner. Sebab, mereka juga menganggap bahwa tindik telinga pada bayi perempuan merupakan sesuatu yang umum seperti di Indonesia.

Namun, seringkali bayi perempuan yang akan ditindik di Meksiko tidak memiliki tempat khusus untuk melakukannya, baik di bidan maupun rumah sakit seperti di Indonesia. Mereka seringkali melakukannya sendiri di rumah dengan peralatan seadanya atau melakukan itu di tempat bikin tato.

Tentu saja ini bukanlah kondisi terbaik untuk para bayi. Tak heran, banyak pakar kesehatan yang kemudian mengkritik keamanan dari tindik bayi ini.

Alasan lain yang mengkritik tindik bayi ini adalah dari sisi etika yang berkaitan dengan otoritas tubuh. Hal inilah yang disebut Atiqah Hasiholan dan AAP, dimana anak juga berhak memiliki otoritas atas tubuhnya, terutama menyangkut sesuatu yang berdampak permanen.

Secara tidak langsung, itu menjadi ide yang kontra-normatif di tengah masyarakat yang menganggap tindik pada bayi perempuan adalah sebuah keharusan. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa tindik telinga pada bayi diprotes keras oleh masyarakat di belahan benua lain.

Para orang tua melakukan tindik pada bayi ini berdasarkan budaya yang sudah turun-temurun, yang kemudian menjadi sebuah konstruksi sosial dan jarang dipertanyakan keberadaannya.

Di sisi lain, wacana otoritas tubuh itu sendiri membuka pemikiran lain mengenai tindik telinga, dimana perempuan bahkan sudah kehilangan otoritas atas tubuhnya semenjak ia masih bayi.

Terlebih, tindik telinga ini tidak memiliki manfaat yang signifikan selain sebagai estetis belaka. Tidak seperti vaksin yang sama-sama melibatkan jarum yang ditusukkan menembus kulit, namun memiliki manfaat yang signifikan bagi kesehatan.

Meski begitu, saya sendiri sebagai perempuan Indonesia yang telinganya telah ditindik ketika masih bayi sebenarnya sedikit lega. Kenapa? Karena saya tidak mengingat rasa sakitnya.

Jika orang tua saya saat itu memutuskan untuk membebaskan pilihan soal tindik-menindik ini ketika saya sudah cukup dewasa, mungkin saya tidak akan memilih untuk menindik telinga, walaupun ingin.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.