Tik Tok: Sama Rata Sama Rasa di Era Posmodernisme

Tik Tok: Sama Rata Sama Rasa di Era Posmodernisme

(Ilustrasi/ scaig.cn)

Di pertengahan tahun 2018, dunia sedang heboh oleh aplikasi bernama Tik Tok. Kalian pasti pernah dengar dong nama aplikasi itu? Atau, jangan-jangan kalian juga pemain Tik Tok? Akui saja, tak perlu gengsi.

Untuk yang belum tahu, Tik Tok adalah aplikasi yang bisa digunakan untuk menyunting video dan musik lalu menghubungkannya dengan hal lain di luar video tersebut.

Bingung dengan penjelasan saya? Baiklah, saya kasih contoh.

Misalnya, musik Connie Talbot berjudul Count on Me. Musik itu dihubungkan dengan video berisi adegan laki-laki yang berupaya melamar perempuan menggunakan uang dan ponsel. Lamaran itu gagal. Perempuan tersebut baru bersedia menerima lamaran sang lelaki setelah ia disodori cincin.

Durasi video musik hasil hibrida ini tidak lama, hanya lima belas detik. Tapi coba lihat, jumlah penontonnya bisa mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu.

Itu baru satu contoh video musik yang dibuat di aplikasi Tik Tok. Ada banyak lagi jenisnya. Bahkan, untuk video-video yang sangat lucu dan unik, kontennya bisa jadi viral ke seluruh dunia.

Menarik bukan? Siapa sih orang zaman sekarang yang tidak mau viral, eh?

Hingga Juni 2018, Tik Tok sudah diunduh lebih dari 45 juta kali dan menjadi aplikasi paling laris di seluruh dunia. Total terdapat lebih dari 150 juta pengguna aktif.

Hal ini membuat Tik Tok menjadi aplikasi dengan perkembangan paling pesat setelah ditemukan pada September 2016 oleh Zhang Yiming.

Oke, sekarang apa makna yang bisa kita peroleh dari aplikasi yang isinya hanya orang-orang yang sedang menirukan irama dan nyanyian selama lima belas detik itu? Apakah ada kedalaman yang bisa kita gali dari sensasi dan gelak tawa sesaat itu?

Saya jadi ingat seorang kritikus seni asal Amerika Serikat, Arthur Danto (1924 – 2013). Dia pernah membuat satu ungkapan yang cukup mencengangkan, bahwa “seni sudah mati”.

Apa yang dimaksud dengan ungkapan “seni sudah mati” itu bukan berarti tidak ada lagi orang yang membuat karya seni. Tapi, karya seni sudah sukar mencari kebaruan dan nilai tinggi-rendahnya sudah berdasar pada kesepakatan serta medan sosial saja.

Dengan kata lain, karya seni yang muncul menjadi itu-itu saja dan cenderung daur ulang belaka. Tidak ada lagi muatan filosofis berlebihan ataupun nilai-nilai adiluhung. Bandingkan dengan kesenian di era Renaisans atau Romantik di Eropa.

Apa yang dikatakan Danto sebenarnya senada dengan banyaknya ungkapan di wilayah yang lain. Ini memang ungkapan yang khas di era posmodernisme. Misalnya, ungkapan tentang “sejarah sudah mati” atau “filsafat sudah mati”. Intinya sama, tidak ada lagi hal yang baru saat ini.

Lantas, apa kaitannya kalimat dari Arthur Danto dan segala jargon posmodernisme tersebut dengan fenomena Tik Tok? Fenomena Tik Tok menunjukkan bahwa tidak ada lagi seni yang benar-benar eksklusif.

Sejak era Youtube, memang video dan musik sudah mulai menunjukkan tanda-tanda dimiliki secara komunal. Namun, Tik Tok bertindak lebih ekstrem dengan memungkinkan siapapun secara egaliter melakukan penyuntingan dan bahkan terlibat di dalam video musik itu sendiri.

Dalam Tik Tok, anak sekolah, tentara, lansia, remaja, dapat ambil bagian dan memperoleh apresiasi yang tidak sedikit.

Dengan demikian, tidak ada lagi dikotomi antara seni tinggi dan seni rendah di hadapan Tik Tok. Semua bisa dijadikan bahan canda tawa dan seni bisa digunakan untuk meleburkan ragam strata.

Di sisi lain, pihak yang umumnya dianggap tidak punya selera seni atau terlampau eksklusif dengan seragamnya, misalnya tentara, ternyata bisa ada dalam suatu kontrol sosial pada konteks digital.

Maksudnya, para tentara itu ternyata bisa melebur bersama “warga sipil” dengan mengizinkan dirinya dilihat, ditertawakan, di-like, di-share, dan menjadi viral.

Akibatnya, lebih jauh sekarang mulai muncul kembali pertanyaan tentang apa itu seni dan siapa itu seniman?

Jika seni hanya dianggap sebagai segala sesuatu yang ada di galeri dan pertunjukkan seni semata, maka seyogianya kita sudah mulai harus berkaca pada Tik Tok. Sesuatu yang tidak berada di ruang eksklusif tapi aksesibilitasnya justru menjadi senda gurau yang meleburkan segala sekat.

Tidakkah humor, dalam kacamata tertentu, merupakan refleksi hubungan interpersonal yang sangat intim?

Artinya, jika Tik Tok lebih menciptakan keakraban secara komunal, tidakkah menjadi lebih bermanfaat ketimbang seni adiluhung yang kadang hanya membuat kening kerat-kerut?

Lantas, siapa itu seniman?

Apakah seniman itu hanya mereka yang begitu intensif mendalami seni atau produktif berkarya setiap hari? Atau siapapun, asal bisa mengedit video Tik Tok, juga sudah bisa disebut seniman?

Tentu, para seniman yang menganut aliran yang pertama, enggan disamakan dengan para penyunting Tik Tok. Toh, bisa saja penyunting Tik Tok itu bukan orang-orang yang mengerti seni. Sebab, penyunting Tik Tok tidak melalui disiplin yang sama dengan mereka yang merasa berhak mendapat predikat seniman.

Namun, coba renungkan sejenak. Apakah dalam mengedit Tik Tok tidak sedikitpun melewati satu pertimbangan keindahan?

Lebih daripada itu, para penyunting Tik Tok juga memperhatikan bagaimana musik dan dunia keseharian tampak kontras padahal di sisi lain juga sejalan.

Para penyunting tersebut, seperti halnya pembuat meme, harus bisa memperlihatkan keadaan yang seolah tidak mungkin menjadi mungkin dalam kontes editan video.

Itu artinya, penyunting Tik Tok harus berpikir keras untuk mencari tahu bagaimana cara meleburkan peristiwa. Ia juga berpikir keras bagaimana agar suntingan tetap rapi dan bermakna dalam hitungan lima belas detik.

Bayangkan, ia harus membuat kita menyerap suatu peristiwa beserta musik latarnya, untuk sekaligus terhibur dan mengingat-ingat dalam senyum. Semuanya dalam waktu sangat singkat!

Pertanyaannya, bisakah semua seniman melakukan hal demikian? Jangan-jangan, di hadapan Tik Tok, seni dan seniman sudah mati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.