Kalaupun Tik Tok Tidak Berfaedah, Memblokirnya Bisa Jadi Lebih Tak Berfaedah

Kalaupun Tik Tok Tidak Berfaedah, Memblokirnya Bisa Jadi Lebih Tak Berfaedah

Tik Tok (Instagram/@tiktok_japan)

Kebanyakan orang dewasa suka menunjukkan bahwa mereka bisa merengek dengan suara yang bahkan lebih menyebalkan daripada bocah yang meminta mainan kepada ibunya di pusat perbelanjaan.

Dalam benak mereka, hidup lebih panjang membuat mereka tahu segalanya. Dan, itu tercermin jelas dalam fenomena aplikasi Tik Tok dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Maret lalu, sebuah petisi dialamatkan ke Kemenkominfo agar Tik Tok diblokir dengan dalih bahwa aplikasi itu tidak mendidik. Setidaknya 100 ribu orang sudah menandatangani petisi.

Orang-orang juga ramai mengetik kata “aplikasi goblok” di Google dengan harapan bisa menemukan Tik Tok dalam puncak hasil pencarian mereka.

Belum lama ini, Bowo Alpenliebe, seorang pengguna Tik Tok yang kadung viral, dicerca banyak orang. Saking ramainya kecaman, Bowo pun sampai tutup akun media sosial.

Hingga akhirnya, anak-anak kecil menangis dan orang dewasa tertawa. Sebab, sejak 3 Juli 2018, Tik Tok menyusul Tumblr. Diblokir oleh Kemenkominfo.

Lantas, apakah itu pantas?

Jujur saja, saya pun masih belum mengerti apa sesungguhnya yang membuat anak-anak keranjingan Tik Tok. Tapi, itu tidak begitu saja menjadi pembenaran untuk membenci aplikasi asal Tiongkok ini.

Memang ada beberapa kasus dimana konten Tik Tok yang viral sangat kurang ajar. Misalnya, menjadikan seorang yang sudah meninggal sebagai konten. Atau, bercanda ketika sedang sholat. Namun, kasus itu bukan wajah asli Tik Tok.

Wajah asli pengguna Tik Tok Indonesia adalah wajah kita – orang-orang dewasa – ketika masih bocah. Wajah penuh kesenangan yang kadang sulit dimengerti oleh orang dewasa itu sendiri.

Saat Tamagochi ngetren, semua bocah ingin punya. Kita tidak mengindahkan opini orang-orang saat itu soal seberapa bodohnya ide membesarkan seekor monster dalam sebuah mesin kecil.

Mau dibelikan atau tidak, kita akan memiliki Tamagochi dan monster itu akan kita rawat sampai besar. Saya masih ingat betapa menyebalkannya, jika Tamagochi yang sudah hampir besar tertekan tombol reset.

Hal serupa juga terjadi ketika Tamiya booming pada awal tahun 2000-an. Meski kata orang-orang dewasa Tamiya sebenarnya hanya mesin yang mampu berjalan lurus dalam trek, bocah-bocah tetap senang saja tuh. Memodifikasi dinamo, ban, hingga baterai supaya mobil mainan itu bergerak cepat seperti di kartun Lets & Go.

Dan, masih banyak lagi contohnya. Seperti saat PlayStation edisi pertama baru lahir. Atau, Beyblade. Atau, tukar-tukaran binder. Atau, membuat senapan dari ranting hingga pipa paralon. Atau bahkan, ketika Friendster dan Facebook baru lahir bersamaan dengan menjamurnya warung internet.

Intinya, Tik Tok memberikan keseruan eksklusif untuk satu generasi saja. Namun, jangan pikir, keseruan itu tidak penting. Tik Tok bisa saja menjadi oase di kala ruang eksplorasi anak-anak semakin lama semakin tergerus.

Internet sesak diisi oleh orang-orang dewasa yang cuap-cuap soal politik. Begitu juga dengan tayangan televisi kita. Di Tik Tok, anak-anak kecil setidaknya jadi tahu apa yang membuat mereka merasa menjadi anak-anak. Sosok manusia yang diberkahi imajinasi dan kepolosan.

Melalui video lip-sync berdurasi 15 detik, otak kanan anak-anak ini bekerja. Sebab, aplikasi ini juga bisa melakukan penyuntingan video dengan begitu mudah dan fitur-fitur canggih lainnya.

Kalaupun memang penggunaan Tik Tok yang hanya sekadar lip-sync oleh anak-anak itu dikatakan mubazir, maklumilah. Semua orang juga bermula dari ikut-ikutan, sebelum tahu caranya menciptakan suatu hal yang terasa baru.

Hari ini mungkin masih asyik dengan lip-sync. Namun, dengan imajinasi anak-anak yang setinggi langit, saya yakin ke depannya bisa membuat video yang lebih keren daripada sekadar lip-sync.

Kelak, bocah-bocah pengguna Tik Tok akan meninggalkan aplikasi itu, karena mereka sudah tumbuh dewasa. Lalu, ketika dewasa, mereka akan melihat bocah-bocah dengan keseruan yang mereka sendiri tidak mengerti.

Dan, kalau hari ini, kita sudah menggagalkan mereka untuk merasa menjadi anak kecil dengan memberangus Tik Tok, ya jangan marah kalau dunia kita di masa depan akan begitu menyebalkan. Sebab anak-anak adalah kita pada masa depan.

Pada saat itulah, mereka akan meneruskan apa yang kita ajarkan saat ini kepada generasi berikutnya. Dan, berkaca dari apa yang kita tanam saat ini, sepertinya mereka akan membunuh kesenangan anak-anak generasi seterusnya.

Terus menerus sampai dunia betul-betul kiamat, karena seluruh jiwa anak-anak dalam diri mereka sudah terbunuh.

Kalaupun memang ada pelanggaran konten berupa pornografi atau asusila, seperti yang dikatakan pejabat Kemenkominfo, bagaimana dengan aplikasi dan media sosial yang lain? Masih banyak kok.

Dalam kehidupan sosial, baik di dunia nyata maupun maya, selalu ada sisi gelap dan terang. Hitam dan putih, tapi kadang juga abu-abu. Tergantung persepsi dan cara menyikapinya. Tidak akan selesai dengan blokar-blokir atau boikot-boikotan.

Bagaimanapun juga urusan pendidikan kembali lagi pada orang tua, dan tentunya negara. Bukan pada Tik Tok.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.