Ilustrasi aplikasi (Deyvi Romero/pexels)

Ternyata hari ini datang juga. Aplikasi Tik Tok mulai menggerogoti dominasi Grup Facebook. Pengguna Tik Tok tembus 1,5 miliar, melebihi unduhan aplikasi Instagram yang sebanyak 1 miliar secara global.

Padahal, tahun 2018, menggunakan Tik Tok dipandang sebagai keputusan yang seolah-olah layak dihujat. Kala itu, ketika googling kata kunci “aplikasi goblok”, halaman pertama hasil pencarianmu bakal dipenuhi dengan artikel bertema Tik Tok. Lalu, Bowo Alpenliebe sang artis Tik Tok mendapatkan perundungan masif dari para pengguna Instagram dan Twitter.

Tetapi, saat ini, setidaknya satu konten Tik Tok berseliweran di Twitter. Begitu juga di Instagram. Banyak pengguna Twitter dan Instagram senang-senang saja melihat aksi konyol pengguna Tik Tok. Seperti tak pernah terjadi apa-apa pada dua tahun lalu.

Mengapa terjadi perubahan drastis?

Jadi, begini. Tik Tok merupakan aplikasi yang meneruskan tradisi konten video (sangat) singkat. Perlu diingat, berkat format video 15 detik, pengguna Instagram membludak pada 2014. Namun, Instagram bukan yang pertama menerapkan konsep ini. Sebelumnya, ada Vine dimana penggunanya hanya bisa membuat konten video maksimal 6 detik. Vine diakuisisi oleh Twitter pada 2012.

Baca juga: Tik Tok: Sama Rata Sama Rasa di Era Posmodernisme

Konsep ini sangat cocok dengan karakteristik internet, di mana semuanya terus bergulir cepat. Namun, berbeda dengan Instagram atau Vine, Tik Tok memberikan penggunanya banyak pilihan dalam berkreasi. Dan, yang terpenting, pengguna Tik Tok tak perlu pusing-pusing memikirkan apakah ide mereka telah dieksekusi dengan rapi atau tidak.

Di Tik Tok, kamu bisa melakukan sinkronisasi bibir alias lip sync seperti di Musical.ly. Pun, banyak filter menarik nan kocak yang pada akhirnya juga diaplikasikan di Instagram. Di Tik Tok pula, satu pengguna dapat berkolaborasi dengan pengguna yang lain. Karena kemudahan itu, ada begitu banyak konten dengan eksekusi yang buruk di Tik Tok. Menariknya, itu justru menjadi daya tarik dari aplikasi yang dirilis pada 2016 tersebut.

Situasinya bisa begini, karena sebelumnya hanya konten yang dieksekusi dengan rapi yang berpeluang besar untuk viral. Lihat Instagram, kamu bakal melihat konten video dan foto para influencer yang begitu estetis, lengkap dengan caption yang apik.

Baca juga: Selamat Datang Rezim ‘Influencer’! Kami Memang Tak Punya Kuasa, tapi Kami Menolak Derita

Namun rupanya, estetis dan apik tak berbanding lurus dengan keviralan. Lagi pula, banyak netizen yang memang tak punya kemampuan untuk itu, atau setidaknya nggak mau ribet alias ingin yang praktis-praktis dan instan saja.

Singkatnya, konten Tik Tok seperti kamu menonton sinetron bersama teman-temanmu. Karena kualitasnya, kamu dan teman-temanmu bisa dengan mudah melihat kekurangannya, bahkan ikut menertawakannya. Tetapi, itu justru menjadi konten konyol yang segar dan menghiburmu yang sudah penat dengan situasi lini masa.

Tentu, munculnya banyak influencer yang menggunakan Tik Tok juga berpengaruh pada opini publik. Secara perlahan, mereka yang semula “ih apaan sih, kampungan” berubah menjadi penasaran. Pada akhirnya, kekepoan yang besar itu menuntun mereka yang membenci aplikasi ini terus menonton video-video konyol di Tik Tok. Lalu, ikut-ikutan bikin konten.

Mental ikut-ikutan ini tentu tak hanya muncul di Tik Tok. Semisal fenomena dangdut koplo, musik Melayu dengan lirik yang cheezy, Didi Kempot, dan masih banyak lagi. Semua kembali menjadi tren dalam tiga tahun terakhir karena ramainya publik menggandrungi.

Baca juga: Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Jadi, apa pesan yang bisa kita petik dari fenomena ini? Simpel, jika suatu hari menemukan sesuatu yang bikin kamu ingin menghujat di internet, pikirkan lagi. Barangkali, dua atau tiga tahun ke depan, kamu bakal menyukainya, seperti menirukan suara gagak dengan iringan lirik “entah apa yang merasukimu”. Karena di internet, semua bisa berubah dengan cepat, termasuk opinimu.

Oh ya, kalau kamu sempat berkata buruk mengenai Bowo Alpenliebe, tolong minta maaf. Gila aja koar-koar anti bullying tapi lupa sama dosa sendiri?

Dan, ini bonus, kira-kira aplikasi apa yang saat ini dipandang ‘sebelah mata’, tapi kelak bisa populer:

Email berlangganan

Konten di internet makin hari makin banyak, dan lambat laun itu menurunkan hasrat membaca. Namun, dengan surat elektronik (email) berlangganan, kita bisa memiliki lagi kesempatan untuk menemukan audiens yang setia. Bayangkan, senja yang indah dengan kopi dan artikel berkualitas. Ah, saya sudah indie, belum?

Artikel populer: Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Quora

Aplikasi tanya-jawab sepertinya memang tak pernah basi. Setelah ASKfm, Quora kini mulai dikenal publik. Bedanya, Quora banyak menyuguhkan pertanyaan dan jawaban yang pintar. Sarannya, jika ingin terlihat pintar saat kencan, kamu boleh baca-baca pertanyaan dan jawaban di aplikasi ini. Apalagi, ini tahun 2020, banyak orang yang mendaku sapioseksual. Eh, sapioseksual apaan? Suka sama sapi? Langsung tanya aja yah.

Self-improvement apps

Kamu mau buat mantan menyesal? Atau, lebih disayang oleh lingkungan sekitar? Atau, sekadar bosan karena hidup begitu-begitu saja? Tenang… sesuai ramalan grup nasyid futuristik Nasida Ria, kita bisa merasakan sensasi hidup diurusin mesin.

Mulai dari kursus, dibacain buku, olah tubuh, hingga pengatur menu makanan, kini semuanya bisa ada dalam aplikasi di ponselmu. Aplikasi-aplikasi self-improvement tersebut bakal digandrungi. Ah, memang enak hidup di akhir zaman, eh gimana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini