Ilustrasi pertolongan. (Photo by Samantha Garrote from Pexels)

Mela tertegun ketika seorang tukang tambal ban menanyakan jenis ban sepeda motornya yang kempes. Pertanyaan yang sederhana, “Bannya tubles nggak mbak?” Tapi, Mela diam saja. Belum selesai Mela mencerna kenapa motornya oleng dan bannya bisa tiba-tiba kempes padahal jalanan mulus, malah ditanya apakah bannya tubles atau bukan. Apa itu ban tubles? Apa bedanya?

Sampai akhirnya tukang tambal ban mengecek sendiri dan bilang, “Oh iya nih tubles, tapi ini gak bocor kok cuma kurang angin aja. Kalo ban tubles harus rutin dikasih angin mbak.” Mela masih terdiam. Ban motornya ternyata tidak bocor.

Kejadian itu sebenarnya sering kali dialami oleh pengendara sepeda motor. Mela, tentu saja seorang pengendara sepeda motor. Tapi, kenapa Mela bingung sekali ketika itu terjadi?

Sabar dulu, sebelum ada yang mansplaining (penjelasan laki-laki yang bertendensi meremehkan gender perempuan), Mela akhirnya menyadari satu hal.

Saat memikirkan kejadian barusan dan mengapa bingung untuk hal sesederhana itu, dia me-recall pengalaman-pengalamannya ketika menggunakan sepeda motor miliknya. Setelah membeli, ia selalu servis motor bersama pacarnya. Namun, ia tidak dapat mengingat perbaikan apa saja yang terjadi pada motornya; kapan terakhir ganti oli, apa mereknya, kapan ganti kampas rem, kapan terakhir ganti ban, mengisi angin???

Semua ternyata dikerjakan oleh Toni, pacarnya, yang tiga bulan lalu memilih mengakhiri hubungan.

Baca juga: Survivor Patah Hati, Termasuk Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Setelah menyadari hal itu, Mela cukup terkejut atau apa ya bahasanya… kaget tapi nggak sampai teriak ayam ayam ayam kayak Ruben Onsu gitulah. Lalu, Mela mengingat hal lain lagi yang mungkin bertipe serupa dengan kejadian tadi. Setelah diuraikan, ternyata cukup banyak untuk ukuran manusia dewasa. Mela ternyata tidak mampu memandikan anjing peliharaannya sendirian, tidak berani pergi jauh sendiri, tidak bisa memindahkan memori handphone internal ke memori eksternal, tidak tahu bagaimana cara merental mobil, dan masih banyak lagi.

Mela merasa sebagian dari kekuatannya pergi bersama putusnya hubungan dia dan mantan kekasih. Dia menyadari bahwa sebagian besar persoalan dalam hidupnya selalu diselesaikan oleh mantan kekasih. Sesederhana itu, ia hanya akan curhat, lalu voila! Solusi pun akan datang tanpa diminta.

***

Kejadian itu tentu tidak hanya dialami oleh Mela. Lebih luas lagi, kejadian serupa tak hanya dialami oleh orang yang baru saja putus cinta.

Kalau nonton film Searching (2018), memiliki plot tentang seorang ayah yang berusaha mencari keberadaan putrinya. Putri yang hilang itu ternyata tanpa sengaja terdorong oleh anak dari detektif yang membantunya melakukan penyelidikan. Ibu detektif dengan sengaja menjadi kepala penyelidikan agar kasus itu tak pernah terungkap dan anaknya bebas dari hukuman penjara. Alasan ibu detektif sangat sederhana: ingin melindungi anak semata wayangnya. Tapi, alasan tersebut juga yang justru mencelakakan dirinya sendiri.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Sebelum tertangkap, ibu detektif bercerita bahwa suatu hari anaknya pernah memalak satu komplek perumahannya dan berkata bahwa uang itu merupakan program keamanan dari kepolisian sang ibu. Lantas, setelah ketahuan, ibu detektif memilih membenarkan penipuan si anak demi alasan yang sama.

Itulah mungkin sebabnya si anak jadi tidak berpikir panjang saat melakukan hal buruk, karena tahu ibunya akan menolong tanpa peduli apakah yang ia lakukan benar atau salah.

Lihatlah, betapa mengerikannya menjadi dan berada di sekitar orang-orang dengan jiwa kepahlawanan yang kebablasan. Ya, jiwa kepahlawanan yang tidak pada tempatnya ini disebut savior complex atau hero complex.

Dilansir dari Tirto, hero complex merupakan kondisi ketika seseorang mencari pengakuan dengan cara beraksi seperti pahlawan. Ia berusaha menciptakan keadaan dimana mereka bisa menjadi juru selamat dan mendapat pujian.

Sementara itu, menurut Dr. Maury Joseph, seorang psikolog di Washington DC yang dilansir Healthline, kecenderungan pada savior complex ini dapat melibatkan fantasi menjadi penguasa atau pahlawan. Dalam maksud lain, kamu meyakini bahwa akan selalu ada orang yang memiliki kemampuan menyelesaikan semua masalah, dan orang itu kamu.

Baca juga: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Savior complex atau sindrom ‘kesatria putih’ dideskripsikan dapat menyelamatkan orang lain dengan menyelesaikan masalah mereka. Kamu yang memiliki kecenderungan tersebut sangat mungkin untuk:

1. Hanya akan merasa senang atau bangga pada diri sendiri saat menolong orang lain.

2. Meyakini bahwa menolong orang lain adalah tujuan hidupmu.

3. Menghabiskan banyak energi hanya untuk membenahi masalah orang lain yang berujung merugikan diri sendiri.

Begitulah kira-kira gambarannya, apakah kecenderungan savior complex berada dalam diri kita atau tidak. Sekaligus bukti bahwa perilaku ini memiliki lebih banyak sisi negatif daripada positif. Alias, lebih banyak bahayanya.

Namun, orang sering kali merasa bisa, bahkan (lebih parah lagi) merasa harus menyelesaikan permasalahan orang lain. Padahal, sebagai manusia dewasa, yang bertanggungjawab penuh atas penyelesaian itu ya diri kita sendiri.

Menyelesaikan permasalahan orang lain akan membuat dua kemungkinan tidak sehat:

1. Bagi orang yang memiliki permasalahan menolong: kita jadi lupa terhadap permasalahan kita sendiri dan hal itu dapat membahayakan diri sendiri.

2. Bagi yang ditolong berlebihan: kita kehilangan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Lalu, ketika si ‘pahlawan’ pergi, kita jadi lumpuh.

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Kalau melihat dua contoh tadi, baik Mela maupun film Searching, savior complex dapat merugikan kedua pihak. Bagi Mela yang sebelumnya memiliki pacar savior complex maupun ibu detektif yang seorang savior complex itu sendiri.

Menggantungkan diri pada pertolongan orang lain ataupun dibebani oleh masalah orang lain bukanlah hubungan yang sehat, apapun jenisnya. Mau orangtua pada anak, sepasang kekasih, pertemanan, antar karyawan, guru dan murid, dan sebagainya.

Jadi, ketika suatu hari kamu dihadapkan oleh keadaan yang membuatmu dapat menolong orang lain, coba tanyakan lagi pada dirimu sendiri: apa bantuan itu sangat genting untuk diberikan? Atau, jangan-jangan kamu sedang berfantasi menjadi seorang kesatria berkuda putih.

Pake meringkik nggak neh??

Hikhikhikhikhik…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini