Seharian Melacak, seketika Hancur Cur Cur Gara-gara Tiang Listrik
CEPIKA-CEPIKI

Seharian Melacak, seketika Hancur Cur Cur Gara-gara Tiang Listrik

Ilustrasi (google.com)

“Hai, Mas, apa kabar?”

“Baik, Mas.. Gimana, gimana?”

“Mau nulis buat Voxpop lagi?”

“Maulah. Temanya apa?”

“Setya Novanto.”

MODYAR!

Keluar dari grup WhatsApp tanpa ketahuan anggotanya – semua orang sepakat – adalah masalah seluruh umat manusia hari ini. Kali ini saya baru sadar bahwa walk out dari percakapan di aplikasi yang logonya mirip Gojek itu juga sebuah persoalan.

Terus terang waktu diminta sama Voxpop untuk menulis soal Setnov, perasaan saya campur aduk. Antara senang, bingung, dan tentu saja takut.

Senang karena berarti celengan saya mau nambah. Honornya akan semakin mendekatkan diri dengan cita-cita liburan ke Jepang. Biar dapat pencerahan kayak Mba Rina Nose. Kalau yang dilihat kebersihannya, bukan syuting film JAV-nya.

Yang kedua bingung. Selain bingung mencari cara untuk walk out dari percakapan jebakan Batman tadi, juga bingung karena kalaupun honornya keluar, aplikasi Traveloka di hape sudah terlanjur saya uninstall cuma karena kemakan hoax.

Mau install lagi kok rasanya wagu, selain malu juga karena sudah bikin pengumuman segede gaban di media sosial.

Yang terakhir karena takut tentunya. Lha orang yang bikin meme aja – yang tulisannya cuma seiprit itu – langsung diperkarakan. Apalagi ini yang isinya tulisan melulu?

Ananda Sukarlan sih enak bisa walk out ninggalin Anies Baswedan saat pidato. Lha kalau saya dituntut sama si Oom terus dipenjara? Kan gak bisa walk out.

Hancurlah cita-cita saya liburan ke Jepang. Paling berharap satu sel sama Ahok dan Buni Yani. Lumayan ada hiburan sedikit kalau itu.

Tapi apa lagi yang mau ditulis soal Oom Setya Novanto? Semua orang sudah tahu dan sudah banyak dibahas, mulai dari beliau sembuh sekaligus menang praperadilan.

Yang menarik, ya waktu KPK ramai-ramai datang ke rumah beliau. KPK yang manggil, KPK juga yang datang ke rumahnya.

Saya juga tertarik dengan sayembara berhadiah Rp 10 juta dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) bagi siapapun yang bisa ngasih info valid keberadaan Oom Setnov.

Ini malah jelas daripada nulis artikel soal Oom Setnov di Voxpop. Agak susah dikit, tapi honornya lebih gede. Minimal gak akan dituntut sama Oom Setnov, kan bisa ikut perlindungan saksi. Lagian, yang tanggung jawab kan koordinator MAKI-nya.

Tapi kok hadiahnya cuma Rp 10 juta ya? Duit Rp 10 juta sih, walaupun buat saya atau kalian memang gede, tapi buat Oom Setnov kan kayak remukan rengginang aja.

Misalnya ketemu Oom Setnov, terus saya ceritain kalau info keberadaannya dihargai 10 juta, apa kata beliau?

Tapi ini tugas mulia, Rp 10 juta gak apa-apalah. Apalagi masih ada tambahan honor menulis. Lumayan bisa buat jajan di Shibuya. Buat beli action figure Naruto atau Sora Aoi. Eh, nganu, maksud saya Tsunade atau Sakura.

Pokoknya itulah. Karena tugas mulia, saya tidak merasa rugi membagikan tulisan ini.

Jadi awalnya, saya sempat mengira-ngira ke mana perginya Oom Setnov. Saya mulai menghitung jeda waktu antara ketika beliau dijemput tamu, yang katanya misterius, dengan kedatangan KPK ke rumahnya.

Dengan waktu yang semepet itu apa beliau sempat ke bandara dan ke mana kira-kira tujuan beliau? Ada yang bilang, tidak mungkin beliau masih di dalam negeri mengingat kekayaannya yang melimpah. Tapi kan beliau masih dicekal?

Tapi baiklah, saya sempat memasukkan Singapura ke dalam daftar lokasi pencarian. Biasanya memang banyak ngumpul di sana. Bagi mereka, itu udah kayak THR alias Taman Hiburan Rakyat. Minus Via Vallen dan dangdut koplo, tentu saja. Tapi kayaknya itu terlalu mainstream, gampang ditebak.

Kalau Singapura terlalu dekat, sebaliknya Kolombia justru terlalu jauh. Bukan tanpa alasan saya memasukkan negara ini dalam daftar. Nazaruddin dulu pernah ke sana dan susah banget nangkepnya, walaupun intel yang menyamar jadi pedagang keliling Sari Roti sudah dikirim ke sana.

Malah bahaya kalau Oom Setnov sampai ke Kolombia, bisa jadi bulan-bulanan bandar narkoba di sana. Lagipula, toh akhirnya Nazaruddin tertangkap saat didampingi oleh seorang warga negara Singapura juga.

Arab Saudi juga masuk dalam pantauan, karena minggat ke negara yang pangeran-pangerannya lagi berantem itu sedang jadi tren di negara kita. Kenyataannya, ada orang yang sampai sekarang gak pulang-pulang dari sana. Polisi kita juga belum berhasil membekuknya.

Mungkin memang beda kali ya prioritasnya, antara orang yang dituduh korupsi dengan asusila. Tapi negara ini buru-buru saya coret dari daftar mengingat bos First Travel sudah mendekam di dalam penjara.

Entah kenapa saya masih memikirkan negara tujuan liburan saya, Jepang. Jarang lho yang lari ke sana. Konon, di Jepang, sedang kekurangan aktor untuk industri perfilman.

Tapi apa iya, mereka mau menerima aktor yang ngantukan, yang kalau ada keramaian sedikit langsung ketiduran? Bisa makan gaji buta Asa Akira.

Lagi serius mikir dan melacak demi hadiah Rp 10 juta tadi, istri saya di belakang nanya:

“Lagi nulis apa, Mas?”

“Biasa, Voxpop. Setya Novanto.”

“Lha itu orangnya udah ada.”

“Serius?! Di mana?”

“Di rumah sakit. Kecelakaan. Nabrak tiang listrik.”

Bajjj…. Paragraf ini mestinya penuh dengan sumpah serapah, saya berhak untuk itu, tapi pasti disensor. Gimana nggak, seharian saya mikirin tempat sembunyi Oom Setnov!

Mulai dari gugling kelebihan dan kekurangan setiap negara tujuan. Ngecek jadwal penerbangan internesyenel di jeda waktu Oom Setnov dijemput sampai KPK datang ke rumahnya.

Belum lagi ambyarnya bayangan mendapat hadiah Rp 10 juta yang berarti hancur, cur, cur, juga liburan impian saya ke Jepang.

Tapi nabrak tiang listrik itu epik sih. Teori-teori pun mulai bermunculan di media sosial, antara lain kemungkinan beliau mengalami amnesia terus kasusnya dihentikan.

Terus, siapa yang berhak dapat hadiah Rp 10 juta? Apakah pengacaranya sebagai orang pertama yang dengan valid memberitahukan keberadaan Oom Setnov? Atau, tiang listrik dengan segala ketegakan dan kekokohannya?

Di sinilah, saya mulai merasa bersyukur MAKI cuma menawarkan hadiah Rp 10 juta. Coba kalau hadiahnya Rp 2,3 triliun… lunas itu e-KTP.

Kalau gak dipakai liburan ke Jepang lho ya…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.