Bukan Cuma Cinta-cintaan, tapi Bicara #MeToo, Rasisme, dan Orientasi Seksual: ‘The Shape...

Bukan Cuma Cinta-cintaan, tapi Bicara #MeToo, Rasisme, dan Orientasi Seksual: ‘The Shape of Water’

The Shape of Water (20th Century Fox)

Academy Awards dan politik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Setidaknya itu berlaku sejak tiga tahun terakhir. Pada 2016, Academy Awards alias Oscar dituding rasis, karena sama sekali tidak menempatkan satu pun aktor kulit hitam di dalam nominasi.

Kala itu, Oscar dianggap hanya sebagai perayaan film bagi aktor kulit putih. Munculnya #OscarSoWhite merupakan gambaran betapa tidak berwarnanya Oscar waktu itu.

Setahun berselang, Oscar tampak melunak. Jimmy Kimmel, pembawa acara Oscar pada 2017, dalam monolognya menyinggung Oscar dan mengatakan bahwa Oscar harus menunggu Trump terpilih jadi presiden dulu untuk sekadar berubah menjadi tidak rasis.

Beberapa aktor kulit hitam pun masuk ke dalam jajaran kategori dan bahkan salah satunya berhasil pulang dengan penghargaan. Mahershala Ali memenangkan nominasi Aktor Pendukung Terbaik lewat film Moonlight. Bisa dibilang Oscar tahun itu lebih berwarna dibanding sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan tahun ini?

Oscar tahun ini pun tidak akan banyak berubah. Pesan politis masih menjadi agenda utama Oscar. Itu terlihat jelas dari film-film yang masuk dalam nominasi film terbaik.

Masing-masing film punya pesan politis. Tapi di antara semuanya, The Shape of Water tampaknya punya pesan politis yang sangat kuat. Kenapa?

Sebelum menjelaskannya, saya ingin mengingatkan bahwa selanjutnya akan ada sedikit spoiler. Ini penting untuk dikatakan mengingat sebagian orang yang membenci spoiler sama seperti Trump membenci para imigran.

The Shape of Water adalah karya teranyar dari sutradara kawakan Hollywood, Guillermo del Toro. Dia adalah orang genius dibalik film Pan’s Labyrinth dan HellBoy.

The Shape of Water merupakan kisah romantis antara si cantik dan si buruk rupa. Sekilas film ini tampak seperti film King Kong atau Beauty and the Beast. Tapi percayalah, film ini lebih dari sekadar drama fantasi seperti itu.

Tokoh utama dalam film ini adalah Elisa Esposito, perempuan bisu dari golongan bawah. Dia berprofesi sebagai petugas kebersihan di sebuah laboratorium ilmiah. Di tempat kerjanya, ia berteman dengan Zelda, perempuan berkulit hitam.

Konflik dimulai setelah ‘aset’ datang ke laboratorium tempat Elisa bekerja. ‘Aset’ itu rupanya adalah makhluk setengah manusia setengah ikan. Makhluk ini ditemukan oleh Strickland di Amazon. Strickland membawa makhluk itu ke lab untuk dijadikan eksperimen.

Singkatnya, Elisa bertemu dengan makhluk tersebut dan kemudian saling jatuh cinta.

The Shape of Water merupakan paket lengkap atas isu politik yang selama ini merebak khususnya di Amerika maupun dunia pada umumnya, termasuk Indonesia. Dari setiap tokoh, kita dapat menemukan pesan politis di dalamnya.

Pertama, saya mulai dengan tokoh utama, Elisa Esposito. Ia merepresentasikan kaum perempuan yang selama ini dianggap sebagai kaum tak berdaya dan terpinggirkan. Aksi heroiknya menyelamatkan makhluk itu dari ancaman Strickland melambangkan keberanian kaum perempuan saat menuntut keadilan yang marak terjadi dalam beberapa waktu ini.

The Shape of Water (20th Century Fox)

Elisa adalah mereka yang menyuarakan #MeToo yang menggelora sampai saat ini. Dalam sebuah adegan memperlihatkan Elisa dilecehkan oleh Strickland saat bekerja. Di adegan lain, Elisa pun berani meluapkan rasa muaknya kepada Strickland.

Selanjutnya adalah makhluk misterius itu. Ia adalah simbol dari apa yang disebut dengan ‘perbedaan’ atau saya lebih suka menyebutnya secara spesifik sebagai imigran. Makhluk itu adalah mereka yang selama ini dipandang ‘berbeda’ dan berasal dari negeri antah berantah dan rentan terhadap diskriminasi dan rasisme.

Berikutnya, Zelda yang mewakili kegelisahan orang kulit hitam. Dalam beberapa adegan, Zelda terlihat mendapat intimidasi rasial secara verbal dari Strickland.

Zelda bukanlah satu-satunya teman dekat Elisa. Adalah Giles, seorang seniman gay yang tinggal di sebelah tempat tinggal Elisa. Awalnya, Giles tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi dengan Elisa dan makhluk aneh itu. Tapi pikirannya berubah setelah kejadian tak mengenakkan menimpa dirinya.

Suatu waktu, ia mendapati sepasang suami-istri diusir dari sebuah toko kue hanya karena mereka berkulit hitam. Nahasnya, Giles pun ikut diusir keluar toko kue tersebut hanya karena menunjukkan orientasi seksualnya. Giles merupakan gambaran jelas dari mereka yang dikucilkan dari lingkaran sosial hanya karena orientasi seks yang ‘berbeda’.

Elisa, makhluk misterius itu, Zelda, dan Giles punya musuh bersama yaitu Strickland. Dari karakteristiknya, Strickland melambangkan sikap pemerintah sayap kanan, patriarki, dan kulit putih yang sangat identik dengan karakter yang dimiliki Donald Trump.

Tidak mengherankan, jika The Shape of Water dianggap film paling politis dibanding film lain dalam nominasi Film Terbaik Oscar 2018. Pasalnya, film ini merangkum semua isu yang relevan dengan apa yang saat ini terjadi.

Yang membuat film ini jadi semakin istimewa adalah Guillermo mengemas semua gagasan serius itu ke dalam kemasan yang sangat menarik dan menyenangkan. Mungkin tidak banyak yang menduga bahwa film ini akan mengangkat topik yang sangat berat.

Jujur saja, jika tidak membaca artikel terkait film ini sebelum menonton, mungkin saya tidak akan langsung sadar bahwa ada isu politik di dalamnya. Saya seperti menonton film-film fantasi buatan Disney dengan suasana yang sedikit suram.

Para kritikus pun kompak memberi pujian kepada film yang proses produksinya memakan waktu lebih dari satu tahun ini.

Tapi yang patut disayangkan, The Shape of Water dituduh menjiplak alur cerita sebuah teater yang dipentaskan pada 1969. Tentu kabar miring itu sangat mengecewakan mengingat The Shape of Water masuk dalam 13 nominasi di Oscar 2018.

Entah apakah tuduhan itu benar atau tidak. Kabar terbaru mengatakan bahwa Guillermo membantah tuduhan tersebut. Terlepas dari itu semua, rasanya film ini pantas untuk diganjar dengan penghargaan Film Terbaik Oscar tahun ini.

The Shape of Water adalah tamparan keras untuk mereka yang kerap melakukan tindakan diskriminatif terhadap perempuan serta orang-orang yang ‘berbeda’ ras dan orientasi seksual.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN