The Science of Fictions. (KawanKawan Media)

Di film The Science of Fictions (Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah) garapan Yosep Anggi Noen, pendaratan manusia di bulan adalah rekayasa belaka. Kru asing membuat dokumentasi untuk fenomena itu layaknya syuting film Hollywood. Ber-setting di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta.

Alkisah, ada seorang warga Bantul yang melihat proses syuting pendaratan manusia di ‘bulan’ tersebut. Ketika ketahuan penjaga, Siman (nama warga lokal) harus menerima akibatnya: lidahnya dipotong supaya tidak bisa menceritakan kebohongan itu kepada warga setempat.

Lalu, shaman (dukun) di tempat tinggal Siman menjatuhkan vonis bahwa Siman kehilangan lidah karena ketemu makhluk gaib di tanah terlarang. Konon katanya, Siman dipaksa menggigit lidahnya sendiri sampai putus.

Setelahnya, Siman dianggap tak waras. Sebab dalam kesehariannya, Siman bergerak lambat menirukan astronaut berjalan di bulan yang pernah ditontonnya. Padahal, gimik Siman tersebut adalah simbol dari saksi sejarah sekaligus korban pelanggaran HAM yang dibisukan dan dibatasi geraknya. Bahkan, ia dianggap sesat karena kesaksiannya berbeda dengan sejarah yang ditulis oleh pihak yang berkuasa.

Baca juga: Film Mudik yang Bukan Sekadar Perjalanan Pulang Kampung

Warga desa yang langsung percaya dengan penuturan sang shaman tak ubahnya anggota grup WhatsApp yang meyakini setiap berita hoaks yang disebar di sana. Nggak mau tabbayun dulu, gitu? Mencari alasan yang lebih logis dan ilmiah?

Dari sekian banyak negara, Indonesia menjadi pilihan kru asing untuk lokasi pengambilan gambar astronaut mendarat di ‘bulan’. Alasannya, penampakan Gumuk Pasir Parangkusumo mirip dengan permukaan bulan, apalagi kalau malam hari. Hal ini menandakan bahwa bumi Indonesia lebih seksi daripada bulan itu sendiri.

Di bulan tidak ada wahana untuk sandboarding (berseluncur pakai papan di atas pasir) dan ayunan untuk foto-foto seperti halnya di tempat wisata Gumuk Pasir. Kalau astronaut lapar, tidak bisa jajan. Di bulan mana ada warung? Kalau wisata di Gumuk Pasir, pulangnya bisa beli oleh-oleh di Pasar Beringharjo kayak Bu Tejo di film pendek Tilik.

Baca juga: Sebagai Perempuan Desa dan Lajang, Ini Kesan yang Muncul Setelah Nonton Tilik

Perang dingin bak “Star Wars” yang digencarkan Amerika Serikat dan Rusia, membuat kedua pihak adu teknologi di bidang antariksa. Yang semula perang menghabiskan uang untuk beli senjata, kini dananya dialihkan untuk bikin roket dan lainnya. Gongnya, Neil Armstrong berpijak di bulan.

Namun, pemenang dari perlombaan menuju bulan ini bisa dibilang Indonesia. Sebab, AS mesti repot-repot bikin roket dan mengutus astronautnya untuk mendarat di bulan, dengan Slamet (orang Jawa) pula.

Sementara orang Indonesia, tanpa perlu ke mana-mana, sudah punya ‘bulan’-nya sendiri, yaitu Gumuk Pasir tadi. Makanya, saking miripnya dengan bulan, sutradara film ini kepikiran untuk menjadikan Gumuk Pasir sebagai latar tempat cerita.

Sewaktu Gumuk Pasir dijadikan lokasi syuting rekayasa pendaratan di bulan, seorang tokoh yang tampak seperti Sukarno menolak menjadi bagian dari kebohongan besar itu. Dengan tegas, ia menghentikan proses syuting. Namun, adegan berikutnya, diketahui bahwa tokoh tersebut bukanlah Sukarno, melainkan orang biasa yang terobsesi dengan Bung Besar. Penonton pun kena prank.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Walaupun bukan Sukarno yang sebenarnya, Sukarno jadi-jadian ini mengingatkan penonton untuk mencintai Indonesia. Dengan cara membela Tanah Air dan tidak tunduk pada pihak asing.

Sebelumnya, ada dua tokoh di film ini yang membangga-banggakan negara lain. Yang satu adalah seorang juragan besi yang pernah pergi ke Jepang sebagai TKI. Dia bersaksi bahwa perusahaan Jepang sangat menghargai tenaga kerja. Walaupun saat bekerja di sana statusnya pegawai dasar, tetapi ia di-service sama seperti para petingginya. Dia seolah lupa jika Jepang pernah menghambat kemerdekaan negaranya.

Lalu, disahuti oleh juragan genteng yang menganggap Arab adalah tempat kerja yang sesuai sunah Rasul. Walaupun belum pernah ke Arab, ia memimpikan bisa mencari nafkah di sana. Sekalian naik haji kayak tukang bubur. Dia menihilkan fakta bahwa sejumlah TKW di Arab menjadi korban kekerasan.

Artikel populer: Jika Petualangan Sherina 2 Dibuat Versi Dewasa

Jika dibandingkan dengan kedua negara tersebut (Arab dan Jepang), bumi Indonesia dengan kekayaan alam yang ada sebetulnya bisa lebih unggul. Sayang, sumber daya alamnya diurus oleh sumber daya manusia yang kurang becus. Dari mulai pertambangan emas yang selama ini dikeruk asing hingga ekspor benur (benih lobster) yang lebih menguntungkan negara lain dan segelintir orang.

Siman dalam film The Science of Fictions seolah menjadi tugu peringatan. Bahwa bumi Indonesia itu seksi dan keseksiannya sering kali menggoda bangsa asing untuk mencumbunya, bahkan beberapa hanya untuk kesenangan mereka sendiri. Dan, saksi dalam penyalahgunaan keseksian bumi Indonesia ini bisa saja dibisukan dan dibatasi geraknya, seperti Siman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini