The Queen's Gambit. (Netflix)

Mini seri The Queen’s Gambit mengingatkan pada drama Korea Reply 1988 yang mengusung tema serupa. Sama-sama mengisahkan sepak terjang tokoh utama dalam kejuaraan permainan papan strategis.

Bedanya, Choi Taek di Reply 1988 mendapatkan kekayaan dari menang lomba go, igo, atau baduk. Sementara, Beth Harmon di The Queen’s Gambit menghasilkan banyak uang dari menjuarai perlombaan catur.

Lain cerita dengan Taek, Beth tidak terjebak cinta segitiga yang mengharuskan bersaing dengan tentara Angkatan Udara yang notabene sahabat sendiri untuk mendapatkan pujaan hati. Konfliknya, Beth Harmon hidup di zaman ketika belum banyak pecatur perempuan berlaga di kompetisi profesional, sekitar pertengahan abad ke-20.

Jalan Beth bertemu dengan papan catur pun terbilang suram. Kisahnya dimulai setelah menjadi penyintas dari kecelakaan mobil yang menewaskan orang tuanya. Status yatim piatu mengantarkannya pada sebuah panti. Nah, di sanalah Beth tak sengaja berkenalan dengan permainan catur yang dimainkan oleh penjaga gedung.

Baca juga: Seumpama Indonesia Me-remake Drakor Reply 1988 Jadi Reply 1998

Dimentori oleh sang janitor, Beth langsung menjadi pecatur terbaik di rubanah panti. Bahkan, dia bisa menang lawan banyak orang di klub catur SMA dalam satu waktu. Sayangnya, Beth mengalami ketergantungan obat penenang supaya tidak panik selama bergelut dengan hobinya tersebut.

Sampai akhirnya, Beth diadopsi oleh sepasang suami-istri. Lalu, dia memulai kariernya sebagai pecatur kompetisi demi menghasilkan uang di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Kejuaraan demi kejuaraan pun dia sikat hadiahnya.

Tanpa perlu kenal permainan monopoli, Beth menjadi kapitalistik yang mengharapkan untung dari modal akomodasi dan konsumsi yang telah dikeluarkannya bersama sang ibu angkat selama ikut turnamen di berbagai negara. Yup, traveling keliling dunia tidak hanya bisa dilakukan oleh travel blogger, jadi pecatur juga bisa, tetapi tetap saja aktivitas jalan-jalannya dihabiskan di atas papan catur.

Bagi Beth, papan catur adalah dunianya. Sebuah dunia yang bisa dikendalikannya. Dia pun menjadi dominan dan kompetitif di atas papan catur. Hal yang masih asing bagi perempuan saat itu. Namun, Beth menerabasnya.

Baca juga: Emily in Paris dan Upaya Membongkar Male Gaze dari Belakang Layar

Sayangnya, media yang memberitakan prestasi Beth hanya fokus mengulas status perempuannya. Padahal seharusnya Beth dikenal sebagai pecatur yang setara dengan yang lain, bukan sebagai anomali.

Seandainya Beth Harmon hidup di Indonesia pada zaman sekarang, mungkin nasibnya bakal berbeda. Namanya pun berganti jadi Betharia Harmoni. Diambil dari gabungan nama penyanyi kondang dan sebuah kawasan yang cukup populer di Ibu Kota.

Kisah pertemuan Beth dengan catur bisa saja berawal ketika ikut ronda dengan tetangganya. Dari situ, dia jadi penasaran mengapa orang-orang dewasa sibuk melamuni sebuah papan, alih-alih fokus mengamankan lingkungan yang jadi misi utama.

Jika Beth dalam mini serinya sering berlatih dengan membayangkan papan catur di langit-langit kamar, maka Beth versi Indonesia bakalan berlama-lama di kamar mandi. Sebab fokus berimajinasi bahwa keramik WC yang motifnya kotak-kotak adalah papan catur.

Beth yang menjadi juara catur internasional bisa saja dapat tawaran iklan sosis. Jangan salah, nilai kontrak iklan sosis itu bisa menyejahterakan atlet yang menjadi model iklannya. Bisa jadi Beth malah ketergantungan menjadi bintang iklan karena uang yang dihasilkan lebih banyak daripada menjuarai kompetisi catur itu sendiri.

“Mau jadi juara catur seperti saya? Makan makanan bermutu dan berlatih keras,” ujar Beth, sambil memegang sebatang sosis yang diklaim sebagai makanan bermutu. Padahal menurut WHO, sosis termasuk junk food dan mencederai prinsip kesehatan olahragawan.

Baca juga: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

Yang jelas, Beth harus menghadapi konflik khas negara berkembang. Di sini, permainan catur bisa dicap haram oleh tokoh masyarakat karena dianggap buang-buang waktu. Membuat bimbang hati sang karakter utama karena stigma sesat.

Untung saja, sang ibu angkat bisa menyarankan Beth untuk bermain catur di tingkat yang lebih tinggi, yaitu percaturan politik Tanah Air. Politik tidak bisa diharamkan, sebab tokoh agama pun memainkannya.

Nanti Mama bikin partai, Beth yang lumayan populer jadi petugasnya. Beth yang kompetitif bisa memenangi pemilu dengan mudah. Dari mulai tingkat daerah sampai nasional. Beth yang termasuk rakyat kecil laksana pion. Pion yang terus blusukan ke depan sampai kotak terakhir bisa promosi.

Istilah promosi dalam catur adalah ketika pion sudah mentok di wilayah musuh. Lalu, sang pion bisa berubah menjadi menteri/ratu, gajah, benteng, atau kuda.

Artikel populer: Octopus Law dan Demo di Bikini Bottom

Dalam percaturan politik, strategi The Queen’s Gambit atau gambit (langkah pertama) ratu bisa dijalankan – dengan membuka jalan untuk ratu supaya bisa maju dan mendobrak pertahanan musuh. Ratu yang menyerang tidak bisa ditaklukkan oleh lawan, karena ada bekingan gajah. Kalau nggak ada gajah, bisa diganti banteng.

Permainan catur dan percaturan politik sekilas tampak sama, aslinya sih berbeda. Dunia politik seakan punya dua warna, yaitu hitam dan putih. Nyatanya, tidak ada yang benar-benar bersih, semua serba abu-abu. Seolah dikotak-kotakkan, padahal pada praktiknya sangat fleksibel. Kawan bisa jadi lawan, musuh bisa jadi sekutu.

Yang jelas, dalam percaturan politik, langkah apapun yang dimainkan oleh para elite, pada akhirnya, rakyat yang diskakmat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini