The Daddies di Antara Bapak-bapak se-Indonesia

The Daddies di Antara Bapak-bapak se-Indonesia

The Daddies (PBSI)

Negeri ini kok bapak-bapak melulu. Proklamasi dibacakan oleh Bapak Soekarno, yang didampingi Bapak Hatta. Sidang-sidang persiapan kemerdekaan juga disesaki oleh bapak-bapak.

Sementara itu, dari tujuh presiden yang pernah menjabat hingga saat ini, enam diantaranya adalah bapak-bapak. Oke, tambahkan dua lagi yang tidak tercatat resmi dalam sejarah, juga bapak-bapak.

Pada saat yang sama, banyak rakyat yang merasa kecewa dengan sebagian dari bapak-bapak tersebut. Ada pendukung yang mundur teratur begitu Pak Karno mulai nambah istri. Ada pula yang sampai melawan Pak Harto ketika berkuasa.

Yang kekinian, malah ada yang kecewa gara-gara hubungan antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi tampak adem ayem. Ehm..

Dalam urusan rumah tangga, bapak-bapak juga sering kali bikin kecewa. Ketika istri sibuk nyuci, bapak tidak ikut membantu. Begitu bapak membantu, ternyata cuciannya nggak bersih.

Sesungguhnya, akhir-akhir ini, hanya sedikit bapak-bapak yang nggak pernah bikin kecewa orang. Dari yang sedikit itu, terselip nama The Daddies, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Dua pebulutangkis veteran Indonesia itu tak pernah berhenti menjaga harapan publik yang selalu menginginkan perwakilan dari Indonesia memenangi setiap kejuaraan.

Sebetulnya, harapan utama bertumpu pada pundak satu bapak dan satu bujangan: Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Lebih dari dua tahun pasangan itu menguasai percaturan ganda putra dunia. Para Badminton Lovers (BL), terutama yang newbie, selalu menganggap bahwa Minions – julukan mereka – harus menang di setiap kejuaraan.

Baca juga: Habis Bapakisme, Terbitlah ‘Laki-laki Baru’

Nyatanya, Minions juga manusia yang bisa kalah juga. Maka, harus ada yang menemani Minions untuk bisa sama-sama berjaya. Selain Fajar Alfian/M. Rian Ardianto alias FajRi, maka beban itu juga ditanggung oleh Daddies.

Hendra Setiawan adalah sosok bapak-bapak bergelimang gelar. Duetnya dengan Markis Kido adalah salah satu yang paling menakutkan sepanjang sejarah. Setelah menaklukkan Candra Wijaya/Sigit Budiarto di Indonesia Open 2005, seolah-olah sebagai wujud estafet, duet ini tampil luar biasa dengan puncaknya pada Olimpiade Beijing 2008 dengan membabat wakil tuan rumah, Cai Yun/Fu Haifeng, di final. Membunuh naga langsung di kandangnya.

Mohammad Ahsan, yang tadinya berpasangan dengan Bona Septano, kemudian dipasangkan dengan Hendra pasca Olimpiade 2012. Gelar perdana diraih di Malaysia Open 2013 dengan mengalahkan Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae. Lawan yang sama juga ditaklukkan untuk gelar selanjutnya di Indonesia dan Singapore Open 2013.

Puncaknya, tentu saja ketika mereka mengalahkan Mathias Boe/Carsten Mogensen di Kejuaraan Dunia pada tahun yang sama, serta dipungkasi dengan kemenangan di Superseries Final.

Ahsan/Hendra periode pertama merupakan salah satu pasangan kelas atas dengan raihan gelar-gelar wahid. Tak heran kalau mereka jadi harapan untuk berprestasi di Olimpiade Rio 2016, sekaligus untuk membalas hasil Olimpiade 2012 yang notabene paling suram bagi Indonesia sejak Barcelona 1992. Tidak ada medali sama sekali dari tepok bulu.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Sayangnya, pertanda buruk mulai dirasakan ketika menjelang olimpiade. Mereka kandas di 16 besar pada tiga turnamen beruntun, yakni Kejuaraan Asia, Indonesia Open, dan Australia Open. Kemudian, diikuti oleh hasil buruk di babak Round Robin. Diunggulkan begitu tinggi, Ahsan/Hendra takluk dari Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa dan Chai Biao/Hong Wei dalam dua laga yang pasti masih diingat oleh banyak BL.

Di akun Instagramnya, kala itu Hendra bahkan sudah menyebut Olimpiade Rio sebagai ajang olimpiade terakhirnya. Wajar sih, karena usianya sudah 32 tahun. Keduanya lantas pisah jalan, Ahsan diduetkan dengan Rian Agung Saputro. Hendra memilih jalur swasta berpasangan dengan mantan rivalnya, Tan Boon Heong. Pencapaian tertinggi Hendra/Tan adalah final Australian Open 2017, sedangkan Ahsan/Rian adalah final Kejuaraan Dunia 2017.

Ahsan/Hendra jilid dua tercatat dimulai dalam laga di India Open 2018 melawan Krishna Prasad Garaga/Dhruv Kapila. Laju Daddies kemudian dihentikan oleh duet Minions yang lagi kuat-kuatnya.

Belakangan, coach Naga Api, Herry IP membuka fakta yang bikin banyak BL mbrebes mili, yakni ketika akan kembali ke Pelatnas, seorang Hendra nan bergelimang gelar bahkan punya julukan ‘Dewa’ itu bertanya, “Menurut Koh Herry, saya masih bisa berprestasi nggak?”

Gelar comeback perdana didapat di Malaysia dalam turnamen kecil level International Challenge. Keduanya mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Agak lucu ketika kemudian final turnamen kelas IC begini bisa pindah ke turnamen level tertinggi Super1000 di All England 2019, yang juga dimenangi Daddies dalam laga yang sangat monumental, mengingat Daddies bisa disebut bermain dengan hanya tiga kaki karena salah satu kaki Hendra cedera.

Baca juga: Teruntuk Penggemar Jonatan Christie di Seantero Negeri

Mereka memang sempat gagal ketika diandalkan dalam semifinal Thomas Cup 2018. Bertanding di ganda kedua dalam posisi harus menang karena tertinggal 2-1, Ahsan/Hendra gagal menaklukkan Li Jun Hui/Liu Yu Chen. Sesudah menang, yang diingat oleh publik justru adegan ketika pemain Tiongkok kesulitan membuka baju saat hendak selebrasi. Sesuatu yang kemudian disebut oleh para BL sebagai ‘kekurangajaran di depan legenda’.

Tepatnya seusai Indonesia Open 2018, Ahsan/Hendra nyaris tidak bisa dihentikan, kecuali oleh Minions. Berubah status menjadi pemain swasta dengan lepas dari status pemain pelatnas PBSI pada 2019 juga tidak mengurangi prestasi mereka.

Keputusan itu bahkan membuat mereka dipuji, karena mau memberi ruang pada para junior untuk berkembang di pelatnas. Toh, mereka sendiri, diketahui masih berlatih di pelatnas dan kalau bertanding juga masih didampingi coach dua naga, Herry IP dan/atau Aryono Miranat.

Kemenangan di All England dan yang terbaru Kejuaraan Dunia tentunya merupakan raihan manis bagi dua atlet bulutangkis berumur di atas 30 tahun. Ketika mereka bertemu FajRi di semifinal, banyak yang menjagokan Daddies karena yakin bahwa mereka lebih bisa menjamin kemenangan, meskipun nyatanya tidak di setiap final mereka menang. Ketika Minions kesusahan – sebagaimana di All England dan Kejuaraan Dunia kala gugur di laga perdana – maka publik Indonesia masih bisa berharap pada Daddies.

Artikel populer: PNS Pakai Kostum Persija, Surat Terbuka untuk Anies Baswedan

Ketika Daddies kalah sekalipun, seperti di Thailand Open 2019, tidak banyak yang bersedih karena menurut para BL betulan sesungguhnya Daddies ini hanya bermain demi kebahagiaan saja. Apalagi Hendra, entah kejuaraan mana yang belum dia menangi, sangat sulit mencari tahu.

Daddies semakin menjadi idola ketika mereka membawa serta istri masing-masing yang begitu aktif dan kompak di Instagram. Publik begitu mencintai Richard, Richelle, dan Russell Setiawan, sebagaimana juga menyayangi Chayra dan King Ahsan.

Cueknya Hendra yang sering diangkat oleh istrinya dalam setiap unggahan malah jadi penambah daya kagum. Apalagi Ahsan, kalau lagi mengajari King mengaji, baik secara langsung maupun lewat video call, bikin luluh.

Semakin lengkap lagi dengan foto di Instagram coach Naga Api pasca kemenangan Daddies di Kejuaraan Dunia, kala keduanya berdoa dengan cara masing-masing. Ya, keduanya jelas beda agama, beda suku pula, tapi kalau sudah membawa nama merah-putih bisa bahu-membahu menjadi sangat luar biasa.

Pada akhirnya, wahai bapak-bapak se-Indonesia termasuk para pejabat dan politisi, janganlah iri ketika Daddies dicintai oleh rakyat. Ingat, mereka dicintai karena memang telah bekerja keras. Mereka diidolakan karena tidak banyak omong, tapi lebih banyak berprestasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.