Teruntuk Penggemar Jonatan Christie di Seantero Negeri

Teruntuk Penggemar Jonatan Christie di Seantero Negeri

Jonatan Christie (Instagram/jonatanchristieofficial)

Nonton Asian Games nggak, yang cabor bulu tangkis? Kalau nonton, lihat aksi Jonatan Christie alias Jojo dong?

Bukan, bukan soal pola dan irama permainannya ketika menaklukkan lawan, melainkan selebrasi kemenangan dengan cara melepas kaos yang katanya awaw-able banget itu.

Aksi Jojo melepas kaos terus pamer ‘roti sobek’ tak hanya membuat seisi Istora Senayan bergemuruh, tapi juga bikin histeris netizen seantero negeri. Apakah kamu salah satunya?

Di media sosial, banyak sekali emak-emak yang membahas body Jojo dengan bahasa yang nggak kalah alay dengan abege yang lagi jatuh cinta. Plus, dibahas pula lekuk di antara celana pendek yang dipakai Jojo, yang tampaknya juga menjadi fokus perhatian.

Memang sih, sekilas komentar mereka mampu menurunkan tensi keributan antar kubu pendukung capres di media sosial. Apalagi, yang ‘demam’ Jojo ini bukan hanya emak-emak, melainkan juga para gadis.

Lupakan cerita tentang penonton perempuan berjilbab yang terus menyemangati Jojo, “Ayo Jo, kamu bisa. Bismillah, Jo!” Dan, Jojo yang non-muslim itu dapat emas.

“Itulah bangsa Indonesia yang saya tahu, saling mendoakan meski beda keyakinan,” tulis komedian Ronal Surapradja lewat akun Twitternya, @RockNal.

Atau, tentang pernyataan Jojo sendiri usai meraih kemenangan. Sebuah ungkapan langka yang mencerminkan mental juara sesungguhnya dari pemuda yang bahkan usianya baru 20 tahun.

“Ini sudah berakhir, tinggal naik podium, dan setelah itu saya bukan juara lagi. Kita harus mulai dari awal lagi, saya dan tim harus bersiap lagi.”

Tapi, ya seperti yang kita tahu, foto-foto Jojo tanpa kaos yang banyak bermunculan di media sosial dengan keriuhan kepsen yang begitu ajaib.

Mulai dari yang bikin kepsen;

”Aaakkk, inginku bersandar di dadanya…”

Lengkap dengan emotikon waru-waru alias love-love berderet, antara Karawang-Bekasi.

Atau kepsen;

”… duuhh, kenapa musti buka kaos siiihh, aku kan jadi emmm, eemmm…”

Sambil membayangkan Nissa Sabyan nyanyi, kelar deh satu jam cuma emm emm doang.

Baca juga: Asian Games Bikin Asia Bersatu, di Negeri Sendiri Nanti Dulu

Dan, ada juga yang katanya epik;

”Duh, rahim gue anget…”

”Ovarium gue meledak-ledak memproduksi sel telur!”

Itu hanya sedikit contoh dari ribuan kepsen yang ditulis oleh netizen yang kebanyakan perempuan, yang tampaknya terpesona dengan body Jojo.

Overreacted nggak sih?

Karena beragam komentar yang kemudian muncul pun nggak jauh dari kata-kata yang menempatkan seseorang sebagai obyek seksual belaka. See… Masalah kayak gini nggak cuma dialami perempuan aja kan?

Please dong, ini juga semacam catcalling, seksis pula.

Kita yang perempuan saja paling sebel, kesel bin jengkel, kalau ada laki-laki yang memperlakukan kita kayak gitu. Masa iya, dibalik begini diam saja, menganggap wajar, standar ganda banget nggak sih?

Melihat bagaimana caranya netizen perempuan menanggapi aksi Jojo, kok rasanya statement  tentang “man are aggressors and women are victims”, jadi gimana-gimana gitu. Ini juga bahkan mengamini anggapan bahwa perempuan itu selalu benar, laki-laki adalah tempat salah dan dosa, hyuh…

Coba deh, keadaannya dibalik. Saat ada seorang laki-laki mengunggah foto seorang perempuan, foto biasa ajalah, nggak usah pakai acara lepas kaos juga, lalu dikasih kepsen;

”Duh, kemaluan gue anget nih, testis gue meledak-ledak!”

Yakin nggak bakal jadi rame, viral, terus dibahas di mana-mana? Dan, pastinya si pengunggah dirisak habis-habisan.

Atau misalnya, ada perempuan yang mengunggah foto diri, tengah memakai setelan olahraga, yang membentuk badannya dengan sangat jelas. Kemudian ada laki-laki yang komentar;

“Pengen jadi celananya.”

Kebayang kan gimana adegan selanjutnya, kalau dijadikan reka adegan di dunia nyata? Nggak ditimpuk sandal juga udah baik banget nasibnya.

Artikel populer: Kami Dandan untuk Bersenang-senang, Bukan untuk Bikin Kalian Senang

Entahlah, mungkin saya ini terlalu lebay juga, menanggapi heboh dan ramainya ‘demam’ Jojo dan tak mampu menikmati keramaian tersebut.

Ya bukan apa-apa, saya sendiri tak pernah merasa nyaman saat ada seorang laki-laki memuji tubuh saya, meski dengan kata-kata atau kalimat paling halus sekalipun. Sebab, pujian fisik seringkali bias, ambigu dan taksa, punya berjuta arti yang tak kentara.

Dan, sama halnya dengan bias soal tubuh Jojo yang tampaknya bikin lumer netizen ala keju mozarella kena panas. Pada dasarnya, kaum hawa memang seringkali terjebak dalam bias yang tak disadarinya.

Coba deh diingat-ingat, pernah bangga atau nggak, saat masuk bus terus melihat yang nyupir seorang perempuan?

”Wuih, keren eii, cewek, nyupirin bis segede gaban, sangarrr.”

Pernah nggak punya perasaan kayak gitu, campur aduk antara bangga sekaligus kagum? Bangga bahwa ternyata perempuan pun mampu memegang pekerjaan yang selama ini identik dengan maskulinitas para lelaki.

Hingga kemudian, saat bus mulai melaju dan sekian menit kemudian berjalan agak zigzag, lalu kita refleks berpikir;

”Aduh, ini cewek, kira-kira bis nyetir nggak ya, kok zigzag gini, jangan-jangan kayak emak-emak pake matic, sein kiri belok ke kanan.”

Atau, mungkin suatu waktu, kita ke salon untuk make up atau potong rambut. Senang sih kalau yang ’pegang’ kita itu perempuan, tapi biasanya terus mikir;

”Ke salon ini aja deh yang pegawainya laki-laki. Kalau ke salon X, nanti takutnya hasilnya jelek, laki-laki kan lebih rapi, lebih bagus kerjaannya ketimbang perempuan.”

Dan, itu bias cyynnn…

Sadar nggak sadar, stereotip tentang perempuan yang biasa kita lawan justru diamini tanpa sadar oleh kita sendiri, sebagai perempuan.

Sama halnya dengan apa yang dialamatkan kepada Jojo. Sebagian menganggap itu sebuah pujian, sebagian lainnya menilai hal itu wajar, karena larut dalam euforia kemenangan di Asian Games. Dan, bagi sebagian lainnya, itu hanya lucu-lucuan, meski sebenarnya nggak lucu sama sekali.

Bangga boleh, mesum jangan, ye kan kak?

8 COMMENTS

  1. Setuju banget sama tulisan inih. Eniwei diantara keriuhan tentang Jojo, saya pun sempat diolok-olok beberapa teman perempuan yang ngefans sm Jojo, katanya saya mati rasa, katanya saya upnormal eh abnormal.. ngeliat gt kog ga bereaksi.
    Lha yaa gimana ya sampe semalem saya pandangin foto si Jojo smpe malem ada kali 2 jam an ya tetep ga ngefek apa-apa juga.

  2. Terimakasih bunda, akhirnya ada 1 pemikiran juga. Memang betul, sangat miris sekali, seolah-olah dengan kejadian itu perempuan yg ikut memeriahkan kemenangan jojo (dengan membuka baju) sangat mudah menemukan fetishnya :(. Saya sebagai perempuan ikut sedih melihat ribuan komentar yg mengarah ke atlet bulutangkis itu kebanyakan menggunakan unsur2 seksualitas. Apa yang dibicarakan seolah2 bukan prestasi, tapi merajuk ke hal lain. Dan semacam ini sudah menjadi budaya dikalangan perempuan (tidak semua). Semoga kedepannya pemikiran2 seperti ino bisa di perbaiki lagi, kalau perempuan ternyata bisa menjadi salah satu pelaku.

    Sekali lagi terimakasih bunda atas opininya 🙂

  3. Waahh, segitunya yaa komen2 para penggemar Jojo. Saya tidak mengikuti semuanya. Sungguh tak saya duga komen-komennya seheboh itu. Saya juga melihat sih aksi Jojo saat selebrasi, saya hanya berkata dalam hati, “Hebat perjuangan anak ini, cakep pula.” Dah, gitu aja. 😀

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.