Teruntuk Kamu yang Suka atau Tidak Suka Curhat ‘Online’

Teruntuk Kamu yang Suka atau Tidak Suka Curhat ‘Online’

Ilustrasi (Serena Wong via Pixabay)

Saya sempat membaca artikelnya Maryam Jameelah yang berjudul “Lebih Penting Curhat dengan Netizen daripada Keluarga atau Teman Sendiri”.

Dalam pandangan beliau sebagai konselor, fenomena ini terjadi salah satunya karena media sosial – tempat netizen bermukim – tidak pernah mengeluh menerima curhatan, sementara setiap orang membutuhkan katarsis dan pelepasan stres untuk menjaga kesehatan jiwa.

Curhat di media sosial dengan netizen juga menawarkan validitas eksternal. Apapun masalahnya, selama netizen mendukung kita akan bahagia. Netizen juga turut bahagia karena mendadak bisa menjadi konselor.

Netizen yang hanya menjadi silent reader pun bisa mendapat jatah bahagia dalam mensyukuri hidup, karena merasa bukan satu-satunya orang yang menderita di muka bumi.

Artikel tersebut juga melihat sisi buruk curhat online ini. Alih-alih mendapat simpati, tak jarang pencurhat justru dicemooh, bahkan dirundung hingga kemudian menimbulkan masalah baru.

Di sisi lain, curhat online bisa menjadi tidak berfaedah, karena netizen tidak mengetahui detil masalah pencurhat. Pada akhirnya, sangat disayangkan, kaum milenial yang terbiasa dengan hal-hal praktis lebih memilih curhat online daripada curhat offline kepada keluarga atau teman.

Nah, sebagai anak milenial yang juga suka curhat online, melalui tulisan ini saya ingin sampaikan mengapa generasi kami suka curhat online, he… he…

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa sebagai makhluk yang hobi sambat alias berkeluh kesah, saya pun melakukan curhat offline kepada teman atau orang terdekat secara personal. Tapi kenapa masih menuliskannya di media sosial?

Setidaknya ada dua alasan.

Pertama, curhatan itu berhubungan dengan masalah publik alias bisa terjadi di banyak tempat dan kepada banyak orang, meskipun yang diceritakan adalah masalah pribadi.

Baca juga: Perempuan yang Gagal Ta’aruf dan Kekonyolan Menjelang Nikah

Menceritakannya di media sosial – dan berharap dibaca orang-orang – bertujuan agar semakin banyak yang ikut memikirkan masalah tersebut, syukur-syukur saling berbagi solusi melalui kolom komentar.

Misalnya, ketika curhat perihal pengalaman mendapatkan pelecehan seksual secara verbal dan digital. Tentu saja untuk bisa curhat sensitif seperti itu bukan hal yang mudah.

Mungkin bagi beberapa orang sebaiknya aib personal itu ditutup atau cukup diceritakan kepada orang terdekat, tidak perlu ‘bangga’ dan membagikannya ke seluruh dunia. Dan, begitulah yang terjadi dengan gerakan #MeToo atau #MulaiBicara di Indonesia.

Orang-orang yang memilih curhat di medsos perihal pengalaman pelecehan mereka justru dicemooh dan mengalami perundungan. Saya pun pernah menerima nasihat-nasihat netizen religius untuk lebih menutup aurat dan menjaga kehormatan sebagai perempuan agar lebih terlindungi.

Lantas, apakah saya harus menyesali curhatan online tersebut? I don’t think so. Ketika memutuskan untuk curhat online dan membuka kolom komentar kepada netizen yang maha benar, setiap pencurhat seharusnya sudah siap dengan segala konsekuensi.

Beberapa netizen mungkin masih lebih suka menyalahkan korban pelecehan yang curhat online daripada mendukungnya, sehingga gerakan #MeToo berjalan lambat sekali di Indonesia.

Tapi, di tempat lain, kita bisa belajar bagaimana curhat online ini bisa menjatuhkan karier ratusan pria berkuasa hingga mendorong penegakan hukum atas pelecehan seksual.

Adapun alasan kedua melakukan curhat online, dan ini cukup penting, karena tidak mempunyai akses langsung kepada pihak yang menjadi objek curhatan. Menuliskannya di media sosial, berharap dibaca lebih banyak orang, memberi harapan suara tersebut bisa lebih dekat dengan akses telinga yang seharusnya mendengar.

Baca juga: Nyaris Jadi Korban Pelecehan Seksual Pengemudi Ojek ‘Online’

Setidaknya ada dua skenario dari pendekatan curhat ini. Pertama, ada orang yang mempunyai akses ke objek curhatan, kemudian memberinya kepada si pencurhat. Atau, ketika suara tersebut mewakili banyak orang yang kemudian ikut bersuara, hingga gaungnya mendekati sumber suara.

Meski begitu, agar curhatan efektif dan tidak hanya menjadi tontonan netizen, kita perlu memperhatikan medium yang digunakan. Ada banyak jenis media sosial dan masing-masing mempunyai audiens yang berbeda.

Kita harus paham teman-teman di (akun) medsos mana yang bisa menjadikan curhat lebih efektif didengar dan ditindaklanjuti. Sebab, di dunia digital seperti ini, kebutuhan untuk didengarkan saja tidak cukup. Setidaknya perlu diberi dukungan, meski hanya love atau komentar positif “I feel you”.

Kalau kata Kak Maryam, ini soal mendapatkan validitas eksternal. Bagi beberapa orang, mungkin validitas eksternal tidaklah penting, apalagi yang didapatkan di dunia digital. Tapi buat saya dan kiranya banyak orang di luar sana, validitas ini penting untuk mengenal diri kita sendiri.

Setidaknya itu yang saya simpulkan dari narrative writing, metode terapi melalui menulis curhatan yang sekaligus bisa menjadi alat perubahan sosial yang bagus.

Salah satu tim narrative writing di Toronto, In With Forward, bahkan menggunakan metode curhat ini untuk menyelesaikan permasalahan global, seperti kemiskinan, tunawisma, dan kecanduan obat terlarang, melalui beberapa level.

Di level mikro, mereka membantu orang-orang dengan permasalahan itu mendapatkan validitas diri mereka kembali dan bersama-sama mengatur ulang narasi diri mereka dengan mengunggulkan potensi internal yang selama ini terabaikan.

Baca juga: Kuatnya Budaya “Victim Blaming” Hambat Gerakan #MeToo di Indonesia

Ini mirip bagaimana netizen baik hati memberikan komentar positif “kamu berarti” kepada temannya yang curhat patah hati dan ingin bunuh diri.

Di level pertengahan, In With Forward membangun lingkungan yang mendukung perbaikan orang-orang itu secara medis melalui semacam pos rehabilitasi.

Kalau di dunia curhat online, ini bisa ditemukan dari bagaimana netizen memberikan saran pada temannya yang depresi untuk mulai mengunjungi ahli dan mengikuti terapi serius. Sebab, dalam beberapa kasus, depresi memang tidak bisa selesai hanya dengan validitas positif dari netizen.

Di level makro, organisasi ini mulai melakukan advokasi terhadap pembuat kebijakan terkait peluang perubahan regulasi yang bisa menyelamatkan orang-orang kurang beruntung tersebut. Apakah curhat online juga bisa melakukannya? Gerakan curhat online #MeToo sudah mencapai level ini.

Mungkin penjelasan ini tampak terlalu melebih-lebihkan manfaat curhat online. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu personal bisa membawa perubahan sosial? Kabar baiknya bisa sekali. Terlebih, jika curhat online itu dilakukan kita, kaum perempuan.

Dalam sejarah feminisme, konsep Personal is Political sudah menjelaskan dengan baik bagaimana pengalaman personal perempuan menunjukkan relasi kuat tentang situasi politik dan ketimpangan gender. Menurut Carol Hanisch yang mempopulerkannya, permasalahan personal perempuan adalah permasalahan politik dan sistem sosial.

Ketika seorang perempuan mengalami kekerasan dari laki-laki, tekanan masyarakat kepada perempuan (yang muncul kemudian) menjadi faktor yang penting untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Contohnya, ketika saya curhat online mengalami kekerasan seksual, tetapi tanggapan masyarakat kepada saya sebagai korban adalah justru tekanan. Pengalaman personal ini menunjukkan pada situasi dan lingkungan dengan relasi kuasa seperti apa saya tinggal dan bagaimana masyarakat di luar lingkungan itu mendukung relasi kuasa tersebut.

Artikel populer: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Kegiatan curhat online membuat saya semakin percaya bahwa pengalaman personal kita tidak pernah benar-benar hanya tentang diri sendiri, melainkan juga berhubungan dengan sistem sosial politik, bahkan ideologi di sekitar kita.

Menurut sosiolog Patricia Hill Collins, dalam mengupayakan perubahan sosial, pengalaman personal seperti itu bahkan bisa lebih berharga daripada sains atau teori, karena berdasar pada kenyataan mendesak.

Curhat online memungkinkan pengalaman personal mendapatkan empati dari netizen, sedangkan empati adalah ruh dari perubahan sosial itu sendiri.

Ide-ide besar tentang hak asasi, ketidakadilan, atau keberagaman, akan lebih merasuk ke hati ketika dibaca dalam curhatan media sosial, alih-alih dalam abstrak jurnal ilmiah. Dengan begitu, netizen bisa merasakan dimensi yang berbeda dengan hati mereka dan mencoba menempatkan diri sebagaimana pencurhat.

Meskipun curhat online tidak selalu memberikan jawaban, cerita-ceritanya memberi ruang kepada audiens untuk menciptakan persepsi masing-masing, dan menurut saya disitulah makna people power.

Saya paham sekali hanya dengan curhat online tidak akan menghapus diskriminasi gender, kekerasan seksual, apalagi sistem patriarki. Tapi, sebagaimana dalam setiap sejarah perubahan sosial, semua dimulai dengan cerita (personal) yang baik.

Sebab tanpa cerita yang baik, kita akan kesulitan memulai perubahan, sepenting apapun isu yang ingin diangkat.

1 COMMENT

  1. tulisan yang menarik! saya juga menjadi pelaku dalam kegiatan curhat online. biasanya saya menumpahkan unek2 di laman blog pribadi. hal ini sendiri didasarkan pada saya yang memang tidak terlalu suka dan nyaman untuk curhat offline, kepada anggota keluarga sekalipun, terlebih teman2 yang untuk saya pribadi mungkin kurang pas saja, dan lagi tidak semua orang peduli dengan urusan kita.
    tentang curhat online tidak memberikan jawaban, sebenarnya saya juga tidak mencari ‘jawaban’ atas curhatan2 saya itu, bahkan sekalipun curhat offline, saya jarang meminta advice dari orang lain karena kebanyakan advie orang lain tidak ada pengaruhnya, karena saya memiliki pemikiran saya sendiri. yang terpenting saya sudah mengeluarkan unek2 saya.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.