Pemenang Sesungguhnya di Balik Tersingkirnya Negara-negara Timur Tengah

Pemenang Sesungguhnya di Balik Tersingkirnya Negara-negara Timur Tengah

Ilustrasi (Samaa TV)

Sorot kamera yang mengarah pada suporter perempuan di tribun stadion kerap kita saksikan saat menonton pertandingan sepak bola di layar kaca.

Tak hanya perempuan Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia Timur, lensa kamera juga membidik sejumlah perempuan asal Timur Tengah yang bertudung.

Selama ini, banyak perempuan Timur Tengah yang mengalami diskriminasi ruang publik di negara mereka. Subordinasi dan ketidakadilan ini dapat ditemui di Arab Saudi, sebuah negara yang paling ketat mengatur peran perempuan dalam kehidupan sosial.

Arab Saudi yang menduduki posisi 141 dari 144 negara dalam hal kesetaraan gender, menurut Word Economic Forum, pernah memergoki seorang suporter perempuan karena diketahui memasuki stadion pada 2014.

Beberapa ulama di Arab Saudi dan negara lainnya di Timur Tengah bahkan pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap sepak bola.

Secara spesifik, pembatasan dalam olahraga ini menyeret perempuan-perempuan di beberapa negara Arab dalam pusaran subordinasi dan diskriminasi. Seperti larangan pembentukan timnas perempuan dan tidak dibolehkannya perempuan memasuki dan menonton langsung di stadion.

Fakta bahwa sepak bola dimonopoli dan identik dengan maskulinitas dan memarjinalkan kaum perempuan adalah isu lama, namun seringkali timbul ke permukaan.

Sentimen terhadap keberadaan perempuan dalam olahraga ini selalu sama: perempuan tidak seharusnya berada di stadion, baik sebagai pemain maupun penonton. Perempuan masih dianggap sebagai kaum lemah yang kodratnya berada di rumah, mengasuh, dan mangayomi keluarga.

Di Eropa, walaupun penentangan terhadap perempuan tidak sedahsyat di negara-negara Arab, sayup-sayup kasus ini tidak sepenuhnya hilang. Bangsa yang dinubuatkan sebagai pusat segala modernitas ini juga tak lepas dari isu seksisme.

Beberapa waktu yang lalu, pada sebuah pertandingan antara Lille dan Olympique Lyon di Prancis, sekelompok suporter Lyon membentangkan spanduk bernada seksisme. Spanduk itu menggambarkan simbol perempuan dengan kata ‘dapur’ di bawahnya dan spanduk lain bergambar pria dengan kata ‘stadion’.

Pihak Lille langsung mengecam sikap suporter Lyon tersebut dan menawarkan tiket gratis bagi perempuan sebagai bentuk dukungan.

Di negara-negara Arab, narasi perlawanan terhadap pengekangan-pengekangan ini ditulis oleh Franklin Foer dalam bukunya How Soccer Explains the World.

Perempuan Iran menyamar sebagai lelaki hanya untuk menyaksikan sepak bola secara langsung di stadion. Mereka sedemikian rupa mengepres payudaranya, menggulung rambut panjangnya, serta memakai pakaian longgar untuk mengelabui petugas.

Ada juga cerita mengenai massa perempuan yang berusaha menerobos pintu masuk stadion hanya untuk mengambil bagian perayaan atas lolosnya Iran ke Piala Dunia 1998 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sepak bola mereka.

Lalu, bagaimana negara-negara Arab saat ini lepas dari sistem yang membelenggu tersebut?

Reformasi dan modernisasi tidak dapat dielakkan menjadi pengaruh besar pada gerakan pembebasan ini. Di Arab Saudi, angin segar dihembuskan oleh negara yang dipimpin oleh Raja Salman tersebut.

Seturut dengan cita-cita ekonomi dan guna merealisasikan program dalam menyambut era post-oil pada 2030, putra kerajaan bernama Pangeran Muhammad bin Salman melakukan beberapa transformasi dan perubahan sistem sosial di negara tersebut. Salah satunya memberikan kelonggaran dan kebebasan pada perempuan.

Dan, sepak bola sendiri seperti yang ditulis sejarawan Houchang Chehabi, merupakan lambang modernitas sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja.

Hasilnya, sepak bola telah menjadi salah satu ladang garapan konglomerat-konglomerat Arab. Bentuknya berupa akuisisi terhadap klub-klub Eropa.

Partisipasi taipan-taipan Arab dalam olahraga ini, serta lolosnya Arab Saudi, Tunisia, Iran, Mesir, dan Maroko, plus penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, menjadi preseden baik dan usaha mempermak wajah lama mereka di tengah sebagian sikap antipati terhadap sekulerisme dan modernitas.

Kini, olahraga yang dahulu dianggap dapat membahayakan iman mereka, justru kini mereka rangkul dan mulai masuk ke sendi-sendi kehidupan.

Sikap tersebut bahkan merembet ke sisi lain di luar sepak bola. Pada September 2017, Pemerintah Arab Saudi memberikan izin perempuan untuk mengemudi mobil dan membolehkan perempuan hadir di gerai-gerai mobil.

Sebelumnya, otoritas Arab Saudi juga mengizinkan perempuan untuk menghadiri perayaaan Hari Kemerdekaan Arab Saudi.

Sementara itu, di lingkup sepak bola, beberapa sumber mengatakan bahwa Pemerintah Arab Saudi berencana memberikan lisensi pada klub sepak bola perempuan.

Dan, untuk pertama kalinya, pada akhir 2017, kira-kira sejumlah 300 perempuan dibolehkan menonton langsung pertandingan sepak bola antara Al-Ahly melawan Al-Batin di King Abdullah Sports City, Jeddah. Kebijakan ini juga diberlakukan di beberapa kota di Arab Saudi.

Tentu saja, keputusan itu memicu pro dan kontra. Di Twitter, banyak yang menyuarakan ketidaksetujuan mereka pada otoritas Arab Saudi tentang kebijakan tersebut. Di sisi lain, banyak pula yang menyambut dengan antusias dengan kelegaan yang luar biasa.

“Ini adalah pertandingan sepak bola pertama yang saya hadiri, dan ini merupakan pengalaman yang menyenangkan! Saya akan selalu ingat malam ini. Saya salut kepada pemerintah kami karena memberi kami hak ini, dan saya tidak sabar untuk hadir lagi minggu depan!” ucap seorang perempuan yang hadir pada pertandingan itu, seperti dikutip News Arabia.

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, negara-negara Timur Tengah memang pulang lebih awal. Namun, boleh jadi pemenang sesungguhnya adalah perempuan-perempuan Arab yang dapat hadir langsung menyaksikan pertandingan sepak bola.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.