Ilustrasi (Photo by Luuk Wouters on Unsplash)

Saya tergelitik untuk menulis karena adanya drama pergunjingan tentang .Feast (harus pakai titik di depannya karena bukan hanya nama band, tapi juga nama brand) dan musik metal. Sebelumnya, saya tidak pernah dengar band tersebut, tapi kalau metal tentu pernah karena musik semacam itu sudah ada sejak tahun 80-an.

Pertama-tama, saya perlu membuka Spotify untuk memutar lagu berjudul “Peradaban”, yang katanya keras dan geramnya terasa ke bass. Usai mendengarkan, saya pikir pernyataan .Feast bahwa lagu “Peradaban” lebih keras dari lagu metal manapun itu bersifat semiotis dan tidak bicara sound yang keras, tapi konten dari lagunya. Toh, kalau kurang keras tinggal naikkan saja volumenya.

Musik metal di lain pihak, perlu diakui selain keras secara sound (distorsi), syairnya pun sering terdengar keras – bersifat rebel dan sarat perlawanan. Layaknya seni rupa seperti karya lukis dan fotografi, salah satu fungsi musik sebagai bentuk seni pertunjukkan juga sama: mengabadikan sebuah kejadian maupun pemikiran dari sudut pandang penciptanya.

Baca juga: Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Jadi, musik tidak harus selalu dikondisikan keras, tidak ada salahnya terkesan cengeng, misalnya. Menangis ambyar karena mendengar lagu yang mengingatkan pada mantan pacar yang selingkuh juga tidak ada-apa. Toh, hal tersebut juga bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Buat apa juga kerapuhan maskulinitas harus dipertahankan dalam musik? Lagi pula akan sama-sama dikomodifikasi pada akhirnya. Menangis dan tertawa adalah bentuk ekspresi manusia yang memiliki kesempatan yang sama untuk diwujudkan menjadi sebuah karya.

Saya mungkin menjawab tergantung selera kalau ditanya musik tertentu bagus atau jelek, enak atau tidak enak. Sebenarnya saya punya persepsi dan mampu menilai kualitas, namun kadang menghindar untuk menilai karena terbentur etika. Semua orang yang berkarya ingin karyanya dianggap bagus, bukan?

Menjadi ‘tidak enak hati’ ke penciptanya pada akhirnya memunculkan anggapan bahwa semua musik tidak ada yang jelek, atau larangan untuk membanding-bandingkan antara musik satu dengan yang lain. Padahal, tidak akan muncul definisi tanpa perbandingan.

Baca juga: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Tapi, hal itu tidak menarik. Bukan masalah musiknya bagus atau jelek, tapi dari mana datangnya selera itu? Ya pokoknya begitu, das ding an sich, selera pada selera itu sendiri, sebuah mitos yang deterministik? Atau pengaruh lingkungan, kelas sosial, kebiasaan, pemasaran, publikasi, akses informasi dan teknologi dari para pendengar?

Saya pikir rentetan hal di atas mempengaruhi, karena seseorang sebagai subjek terbatas tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan relasi sekitarnya. Hanya subjek yang bersifat absolut lah yang bisa mendefinisikan dirinya sendiri.

Kontroversi antar brand ini wajar. Ini salah satu ciri industri kebudayaan dimana penggemar satu sama lain berkelahi karena fanatik terhadap komoditas tersier yang bersifat fetish. Yang sini merasa produknya lebih baik dari yang sana, yang sana merasa produknya tidak seburuk seperti yang dibilang, lalu reaktif memberikan counter attack.

Saya sebenarnya malas untuk berpihak. Tapi kalaupun medan perang ini berujung sengit seperti cebong kampret dan memaksa saya harus berpihak, lalu ditanya apakah lagu “Peradaban” .Feast lebih baik dan lebih keras dari lagu-lagu metal manapun? Saya akan bilang, tidak ada yang menandingi kerasnya lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman, bahkan geramnya terasa sangat menyejarah dan menggetarkan jiwa.

Baca juga: Ada Pemikiran Besar dalam Lirik Lagu Via Vallen, dari Camus Hingga Sartre

Lagu “Indonesia Raya” melebihi lagu apapun yang pernah diciptakan orang Indonesia, karena menggambarkan perlawanan terhadap kolonialisme, imperialisme, dan sebagai simbol bersatunya pemuda antar suku pada kongres pemuda kedua. Apakah saya juga akan dibilang songong?

Bagaimanapun, setelah ditemukannya alat rekam, musik dapat diproduksi massal dan menjadi sebuah komoditi. Musik dan dunia seni pertunjukkan secara umum mengalami perubahan besar-besaran. Dengan teknologi, dunia seni pertunjukkan menjadi bahan dagangan yang lebih masif. Mereka tidak hanya dijual di gedung-gedung pertunjukkan melalui penjualan karcis, tetapi juga dapat dibeli rekamannya.

Sebagai komoditas tersier, komoditas massal ini perlu dibentuk persepsi terhadap sebuah produk agar seakan memiliki nilai lebih. Baik brand .Feast maupun brand-brand metal akan menjadi lebih mahal dengan dilekatkan nilai-nilai tertentu.

Kita ambil contoh tentang pernyataan ‘keras’ yang dilontarkan vokalis .Feast, Baskara Putra. Dia berusaha melekatkan nilai ‘keras’ ini pada produknya dan membandingkan bahwa dagangannya memiliki nilai lebih daripada produk lain yang sebelumnya memiliki nilai tersebut. Di mata konsumen (fans) fanatik tentu statement ini akan mengusik. Sebab natur dari komoditas fetis untuk mengonservasi tatanan dengan membujuk bahwa konsumen tidak mungkin mengonsumsi hal lain – bahwa produk tertentu adalah jati dirinya.

Artikel populer: Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Bahkan kata fans sendiri diambil dari kata fanatik. Semakin fanatik akan semakin tinggi nilainya, tidak hanya karena lagu tersebut bisa mengudara lebih banyak melalui CD, kaset, atau Spotify berkali-kali, tapi juga merchandise. Namun, di sisi lain, fenomena fans yang fanatik adalah hal yang biasa dalam industri kebudayaan karena memang seperti itulah naturnya.

Saya tidak akan mengajak orang untuk jangan menganggap komoditas favoritnya yang terbaik, atau jangan membanding-bandingkan musik karena bagaimanapun seperti itulah gaya kapitalistik dari industri kebudayaan.

Toh, perseteruan seperti ini pernah terjadi sebelumnya ketika kebangkitan musik-musik pop melayu, semisal Kangen Band. Mereka dianggap musik rendahan, katro, dan mengotori industri musik Tanah Air. Sejarah akan terus berulang: awalnya sebagai tragedi, lalu menjadi lelucon bagi yang menyadari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini