Ilustrasi mahasiswa. (Photo by chuttersnap on Unsplash)

Kemiskinan selalu menjadi pusat perhatian. Meski terkadang menjadi bualan politisi saat kampanye dan suara lantang para demonstran saat turun ke jalan sebelum nantinya diam-diam terima proyekan.

Kemiskinan juga sering dijadikan contoh kondisi menyeramkan. Ia bisa menjadi penelitian, bukan untuk dientaskan, melainkan untuk membuat tabulasi keluhan, kalkulasi jumlah persebaran, diunggah untuk laporan, lalu menantikan lembaga donor beri dana suntikan.

Alhasil, dengan menyoal kemiskinan, sesuatu yang horor bisa berubah menjadi honor.

Ah, memang ada yang peduli bahwa di balik angka kemiskinan, ada manusia yang hidup di belakangnya? Nyatanya kedekatan kita dengan kemiskinan melalui angka-angka cukup mencipta simpati pada ironi. Sementara, bersentuhan dengannya seakan menjadi sebuah tragedi.

Baca juga: Asyiknya Punya Privilese, tapi Disenggol Sedikit kok Ngegas?

Beberapa waktu lalu, kita mengetahui bahwa Wahyu Setiawan, seorang anggota KPU, tertangkap tangan oleh KPK. Ia disangkakan menerima suap Rp 900 juta dari Harun Masiku agar bisa duduk di kursi DPR.

Sembari menatap lensa awak jurnalis, Wahyu kemudian meminta maaf kepada publik soal kelakuannya. Padahal, kita semua cukup tahu bahwa yang menyogok dan yang disogok sama-sama korupsi. Nah, watak koruptif dan ciri kemiskinan serupa, tapi tak sama.

Karena miskin kejujuran, seseorang yang mengemban amanah diam-diam menelikung kepercayaan pemberi amanahnya. Dan, karena kemiskinan integritas itu pula, yang menjadi persoalan di negeri ini sejak lama, diam-diam 3 juta orang memilih untuk tidak memilih pada pemilu serentak tahun lalu.

Bukan, kita bukan hanya sedang dilanda banjir air yang membahayakan, ternyata masih ada banjir kerakusan yang bisa menenggelamkan siapa saja dari kita. Menghanyutkan nalar kemanusiaan siapa saja yang berani-berani bersekutu dengan ketamakan.

Baca juga: Nasib Buruh Aice yang Tak Kunjung ‘Nice’

Kemiskinan memang membawa risiko berat, ada begitu banyak beban yang harus dipikul. Bagi yang miskin harta, harga bahan pokok yang tinggi memaksa mereka mencari utangan ke rentenir online dengan bunga mencekik. Bagi yang miskin integritas, kepercayaan publik bisa langsung pudar seketika.

Ada benarnya perkataan Bung Hatta bahwa orang kurang cerdas masih bisa diperbaiki dengan belajar, orang kurang cakap masih bisa diperbaiki dengan pengalaman, tapi kalau orang tidak jujur itu sulit diperbaiki. Bagi yang miskin integritas, kita sama-sama cukup hafal langkah caturnya. Karena kelak ketika mereka berkuasa, siapapun yang di sana, rakyat selalu kalah.

Ketika rekaman video singkat Wahyu Setiawan mengutarakan maafnya tersebar lewat media sosial, mendadak seorang kawan naik pitam. Dalam kehidupan sehari-hari yang energinya hampir 100% dipasok mie instan, ia merasa jengah dengan tingkah laku elite di negeri ini.

“Maderodog, mereka cuma mahir mengucap maaf lu kira lagi Idul Fitri pake maap-maapan setelah mereka menggondol kepercayaan, mencoleng uang pajak, dan memberi izin perusahaan raksasa menebang leher pohon hingga rata dengan tanah, mengganti sawah dengan beton lalu seenak pusar bilang “maaf”. Apalagi KPU, yang kalau diibaratkan itu lembaga macam saringan santan. Kalau bagus saringannya, bagus juga santannya. Kalau ancur-ancuran gak karuan saringannya, ya jangan harap ada santan bagus yang dihasilkan.

Baca juga: Alasan Mengapa Perkebunan Sawit Bisa Bikin Masyarakat Desa Miskin

Sementara itu, kemiskinan di kalangan mahasiswa biasanya disimbolkan dengan menu makanannya yang itu-itu saja. Yang penting murah dan banyak. Padahal, dari makanan yang murah plus banyak itu, mereka konversi menjadi energi untuk turun jalan mengkritik penguasa yang membangun relasi toxic dengan warganya.

Makanya, banyak yang geram ketika tahu Wahyu Setiawan tertangkap tangan menerima uang segitu banyak. Itu baru yang ketahuan, bagaimana dengan yang nggak ketahuan?

Kemiskinan struktural selalu hadir karena negara gagal mendistribusikan keadilan ke warganya. Relasi struktural antara warga dan negara yang dibangun di atas fondasi penghisapan atau meraup keuntungan itu sama seperti relasi kamu dengan pasanganmu yang bermotif oportunisme keuntungan. Itu relasi toxic.

Artikel populer: Maaf Harus Jujur, Organ Ekstra Kampus semacam HMI, PMII, GMNI dll Kini Kalah Pamor

Jadi, sebagaimana pacaran, logika “kita jalanin aja dulu” dalam kehidupan bernegara seperti itu sama saja mendorong orang-orang miskin untuk lagi-lagi menyalahkan diri mereka sendiri, tanpa sempat memberikan informasi bahwa segala kemiskinan pasti ada sejarahnya, pasti ada sumbernya.

Ironi ini bukan hanya soal ketiadaan uang buat belanja setiap hari. Tapi, lebih dari itu. Kemiskinan soal ketimpangan atas kepemilikan alat produksi dan tersendatnya arus distribusi keadilan negara.

Makanya, sebungkus mie instan yang dimakan anak-anak mahasiswa setiap Kamis sebelum berangkat ‘Aksi Kamisan’ di depan Istana bisa jadi lebih bernilai daripada uang Rp 900 juta demi mendapatkan piagam miskin kejujuran dan fakir integritas.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini