Terkait Dugaan Prostitusi, Apa Perlu Minta Maaf ke Publik?

Terkait Dugaan Prostitusi, Apa Perlu Minta Maaf ke Publik?

Ilustrasi via Pixabay

Lagi, prostitusi online menjadi kehebohan di media. Bukan karena prostitusi online adalah isu baru yang membuat banyak orang heran dan berkata, “Kok bisa ya?”, tetapi lebih karena diduga melibatkan orang tersohor. Katanya artis.

Kok katanya? Lha, artis itu bukan hanya yang malang melintang di dunia pertelevisian saja. Artis adalah semua pekerja seni. Asal katanya art artinya seni. Artis adalah pelakunya. Sebagaimana kata gitar. Pemain gitar adalah gitaris. Tapi, ya sudahlah.

Membasmi prostitusi sama dengan tidak mungkinnya menghilangkan budaya menyontek anak-anak SMA ketika ujian. Maka, walaupun Doli sudah ditutup, bukan berarti di Surabaya sudah tidak ada prostitusi. Ada seribu jalan menuju Roma, kata pepatah lama (iya, saya tahu terlalu mainstream). Ada seribu cara untuk menghidupkan prostitusi.

Agaknya, ketidakmungkinan itulah yang membuat Ali Sadikin dulu ketika menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta melegalkan prostitusi di ibu kota. Karena tidak mungkin dihilangkan, daripada backstreet, mending terang-terangan saja. Dengan seperti itu, prostitusi bisa lebih terkontrol agar tidak mengganggu kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Baca juga: Karena Prostitusi Bukan Hanya tentang Perempuan

Toh, yang melakukan praktik itu, baik penjual maupun pelanggan sama-sama orang dewasa. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Dan, jika berakibat buruk pada mereka, yang menanggung mereka sendiri.

Perkembangan teknologi sudah pasti akan membuat apa saja berubah. Media cetak banyak yang gulung tikar dan akhirnya pindah ke media online. Mencari tukang ojek dan membeli makanan bisa dengan cara online. Apalagi dalam hal prostitusi, sudah pasti tidak akan mau ketinggalan. Cara online ditempuh supaya pelanggan banyak.

Lantas, apakah penangkapan-penangkapan para pelaku praktik prostitusi online memang bertujuan untuk membasmi prostitusi online? Kalau iya, mengapa tanggung, hanya yang online saja? Kenapa tidak prostitusi dengan transaksi konvensional sekalian? Kalaupun prostitusi online lenyap, tetap saja prostitusi masih ada.

Baca juga: Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam

Jika memang berfokus membasmi prostitusi online saja, mengapa yang disasar orang-orang tertentu, seperti ‘artis’ saja? Bukankah selain ‘artis’ banyak sekali pelaku prostitusi online lainnya?

Agak heran aja sih dengan penangkapan dan keramaian yang terjadi belum lama ini. Beritanya begitu memenuhi linimasa internet, sehingga menjadi konsumsi masyarakat luas, walaupun banyak informasi yang cenderung barbar.

Mengapa begitu gencar? Apakah itu penting? Bagaimana etika persebaran informasi di linimasa internet? Kita baru saja membanjiri linimasa dengan berita-berita duka, sesaat setelahnya langsung dibanjiri dengan berita-berita soal prostitusi online. Betapa labilnya netizen kita.

Bayangkan, jika itu dibaca, diketahui, oleh seorang perempuan muda yang sedang bingung bagaimana cara meningkatkan kemampuan ekonominya, bukankah berita-berita seperti itu akan memberikan ide kepada mereka, jika mereka sudah putus asa dengan keadaan?

Baca juga: Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Lalu, ada satu lagi yang terkesan aneh. Orang yang ditangkap meminta maaf kepada masyarakat luas di depan para wartawan. Terlebih, dia belum tentu bersalah di hadapan hukum.

Saya pikir, orang yang disebut-sebut sebagai salah satu pelaku tidak perlu minta maaf kepada masyarakat luas. Kalaupun bertransaksi, kan dilakukan secara tertutup. Hanya ada dia, mucikari, dan pelanggan. Artinya, tidak ada hubungannya dengan masyarakat secara luas.

Kalaupun transaksi itu tiba-tiba tersebar luas, kemudian linimasa internet ramai, apakah itu salahnya? Apakah si ‘pelaku’ yang membuat dan mempublikasikan berita tentangnya melalui linimasa internet?

Maka, kalaupun mau minta maaf karena merasa berdosa, ya minta maafnya kepada Tuhan. Jika merasa bersalah karena kegaduhan atau berita yang tersebar di media sosial, lebih tepat bukan ‘pelaku’ yang meminta maaf. Tetapi si pembuat berita, penayang berita, dan media sosial yang meminta maaf.

Artikel populer: Artikel Terbaik 2018 

Ini mirip dengan apa yang saya lihat di salah satu jalan di Yogyakarta, beberapa tahun lalu. Tapi beda konteksnya.

Jadi, ada seorang calon anggota legislatif yang meminta maaf kepada masyarakat karena dirinya kalah dalam pemilu, dengan cara memasang fotonya bertuliskan permohonan maaf dan dipajang di jalan utama. Lho, apa yang perlu dimaafkan?

Masyarakat memilih sesuai dengan pilihan menurut hatinya masing-masing. Sehingga tidak ada kejadian salah menyalahi di situ. Kalau tidak terpilih, berarti masyarakat tidak sreg kalau si calon menjadi anggota legislatif.

Balik lagi soal dugaan prostitusi online, misalnya yang menimpa VA, AS, atau lainnya. Menurut Komnas Perempuan, prostitusi adalah kekerasan terhadap perempuan. Meski demikian, kriminalisasi yang menyasar pada perempuan yang diduga sebagai pelaku harus ditentang.

1 COMMENT

  1. Hati sy remuk saat mendengar permohonan maaf itu. Ini bukan sekedar kejahatan gender namun ada yang lebih dari itu ini merupakan usaha penghancuran kemanusiaan. Mereka yang bersalah sudah bukan manusia mereka mahluk jenis lain yang berdosa layak di hina dan di suruh minta maaf (sorry lebai belum tidur)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.