Ilustrasi. (Photo by Ivy Son from Pexels)

Untuk ‘work life balance‘ kerja harus tepat delapan jam per hari, punya pekerjaan sambilan, dan banyak keahlian – itu berarti terkena kutukan hustle culture dan seterusnya. Membicarakan pekerjaan dan segala sesuatu tentangnya, kemudian bertengkar karena beda perspektif-definisi dan situasi-kondisi, memang tak ada habisnya. Atau, jangan-jangan, dengan mengajukan pertanyaan dan terlibat pertengkaran itu adalah cara kita memahat peradaban.

Sudah sampai mana kita sekarang, apa pengetahuan tentang hak dan kewajiban pekerja sudah terdistribusi dengan baik? Adakah regulasi yang berpihak pada konsep ‘people before profit‘ sekaligus ramah pada pertumbuhan usaha, supaya bisa adil dan makmur sesuai dasar negara? Tentu saja belum.

Pembicaraan tentang work life balance masih gitu-gitu aja. Serba digeneralisir, tidak dilihat dalam frame yang lebih spesifik. Sebagian mungkin akan menjawab “Sudah OTW, kok”. OTW, on the way, alias lagi di jalan. Sebuah penghiburan sekaligus upaya untuk membuat kesan bahwa eksekutif dan legislatif kita sudah bekerja dengan baik. Tapi masalahnya, OTW adalah salah satu frasa yang paling tidak bisa dipercaya. Sama seperti frasa “tanpamu aku mati”, padahal tidak sedang bicara kepada oksigen.

Baca juga: Pekerja Palugada dan Pandangan Keliru soal Budaya Kerja

Pada akhirnya, mau tak mau, persoalan work life balance ini menjadi beban orang per orang. Ngantor segan, nganggur tak mau, kata Rena W di judul bukunya.

Kalau kata kamu, apa saja yang terlintas di kepala saat ada yang menyebut work life balance? Jam kerja, lembur, kesehatan, keseimbangan, keluarga, promosi, apa lagi? Karena punya cita-cita berumur panjang, di kepala saya terlintas ikigai – sebuah folk wisdom milik masyarakat Okinawa di Jepang. Dilansir Washington Post, rata-rata harapan hidup penduduk Okinawa tertinggi di dunia, yakni 81,2 tahun, dan sebanyak 400 warga berumur lebih dari 100 tahun sampai-sampai dikenal sebagai ‘the land of the immortals‘.

Ikigai berarti hidup yang bernilai, ditulis dari dua huruf yaitu “iki” yang berarti hidup dan “gai” yang berarti nilai. Ikigai juga sering dimaknai sebagai ‘alasan untuk bangun di pagi hari’.

Mungkin kita mengenal ikigai dari artikel, konten motivasi di YouTube, atau dari training di kantor. Blogger asal Inggris Marc Winn menulis artikel “What is Your Ikigai?” pada 2014. Mempopulerkan konsep ikigai dengan memadukan hal-hal yang disukai, hal-hal yang dikuasai, hal-hal yang dibutuhkan lingkungan, dan hal-hal yang membuat seseorang dibayar. Jika merangkum terdiri dari passion, vocation, mission, dan profession.

Baca juga: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Marc Winn mengadaptasi konsep tersebut dari Andres Zuzunaga, psikolog asal Spanyol, serta Dan Buettner di Ted Talk saat membahas tentang bagaimana agar bisa hidup sampai 100 tahun. Ikigai yang dimaksud oleh masyarakat Okinawa di Jepang tidak seperti itu, tak selalu tentang uang dan pekerjaan atau kondisi ideal dalam pekerjaan.

Tahun 2005, Dan Buettner – penulis buku The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest – melakukan wawancara kepada sejumlah orang yang berusia lebih dari 100 tahun di Okinawa. Dalam wawancara tersebut terungkap bahwa ikigai adalah salah satu alasan mengapa orang Okinawa berumur panjang.

Survei “Sense of Life Worth Living (Ikigai) and Mortality in Japan: Ohsaki Study” yang dilakukan oleh Toshimasa Sone dkk pada 1994-2001, dengan melibatkan 43.391 responden pengguna Ohsaki National Health Insurance, berbicara lebih banyak. Hasilnya 59% menyatakan sudah menemukan ikigai, 36,4% mengatakan tidak yakin, dan 4,6% tidak menemukan ikigai.

Responden tanpa ikigai cenderung tidak menikah, tidak bekerja, berpendidikan rendah, tidak sehat, mempunyai tingkat stres tinggi, kurang bisa berjalan, memiliki keterbatasan fungsi fisik, dan nyeri tubuh yang sedang atau parah.

Baca juga: Semua yang Bergantung pada Upah adalah Kelas Pekerja

Berangkat dari hasil survei di atas, apakah bisa disimpulkan seseorang yang sudah memiliki ikigai bisa terhindar dari hustle culture, burnout, fatigue, monday blues syndrome, dan dysania (kesulitan bangun tidur di pagi hari) yang biasanya melekat kepada para pekerja di perkotaan? Menurut masyarakat Okinawa seperti itu.

Akihiro Hasegawa, psikolog klinis dan profesor di Toyo Eiwa University, menjelaskan kata ikigai serupa dengan aktualisasi diri, makna hidup, dan tujuan hidup. Bagi sebagian orang di Okinawa, berusia senja masih aktif bekerja justru dianggap perlu. Jika pekerjaan yang menjadi ikigai seseorang, pekerjaan lah yang bisa membuatnya berumur panjang.

Ikigai dari masyarakat Okinawa tersebut membuat jawaban-jawaban dari buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, yang awalnya saya pikir hanya basa-basi, menjadi masuk akal. Ratusan perempuan berusia senja bekerja sebagai pengangkut barang di pasar tersebut. Belanjaan yang beratnya lebih dari 20 kg dibawa dengan riang, tersenyum lebar dengan mata yang bersinar-sinar, bersemangat mengobrol dan menyapa setiap orang.

“Kalau tidak ke sini, tidak ada kegiatan di rumah. Malah sakit, badan pegal-pegal.”

“Di pasar banyak teman, bisa mengobrol dan berbagi makanan. Di rumah sepi, makanya meski dilarang anak saya tetap ke pasar.”

“Cucu saya banyak. Kalau saya bisa cari uang sendiri, kan, tidak merepotkan anak. Lebih enak begini.”

Artikel populer: Isu Kelas Sosial dalam Pencarian Kebahagiaan ala Squid Game

Membawa beban puluhan kilogram sebagai buruh gendong dianggap enteng, sementara beristirahat di rumah malah bikin pegal-pegal. Saya yang bawa ransel seberat 6-7 kilogram saja sudah mengeluh, can’t relate.

Jadi, apa alasan kita bangun di pagi hari? Ada yang harus sekolah untuk masa depan yang lebih baik, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengurus anak, membereskan rumah, dan sebagainya. Selain tentang ‘alasan bangun di pagi hari’, ikigai juga tentang kenapa alasan-alasan kita bangun di pagi hari tersebut layak dijalani dan menjadi rutinitas. Bahkan lebih jauh, menjadi alasan kita berumur panjang.

Regulasi ketenagakerjaan yang lebih baik memang mutlak diperlukan. Kebijakan struktural bisa sangat berpengaruh pada kultur bekerja di masyarakat. Namun, saat sistem belum berpihak pada kehidupan yang layak, banyak orang terjebak dalam survival mode seumur hidup. Sambil menunggu menemukan alasan untuk bangun di pagi hari yang mungkin bisa menjadi jawaban untuk mencapai work life balance. Nggak ‘fancy‘, memang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini