Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Ilustrasi (Photo by Toa Heftiba on Unsplash)

Mas Didi. Nama aslinya, Didi Prasetyo. Publik lebih mengenalnya dengan nama Didi Kempot. Yang belakangan mendapat sematan baru sebagai Bapak Patah Hati Nasional. The Godfather of Broken Heart. ‘Lord’ Didi.

Tentu saja kabar itu berseliweran di jagat maya. Bagaimana seorang musisi, seniman dari skena musik Campursari malah akhirnya yang mendapatkan julukan itu. Kok bukan dari skena musik yang lain?

Ini bukan perkara Jawa-sentris karena lirik lagu yang sebagian besar beliau ramu berbahasa Jawa. Tetapi memang pesan yang ingin disampaikan lewat lagu-lagunya berada di teritori patah hati.

Bagi saya ini menarik. Apalagi, setelah membaca artikel mbak Rika Nova berjudul “Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun”.

Tulisan itu mengajak kita untuk bagaimana bersikap ketika dianugerahi adegan dan skenario dalam hidup bernama patah hati. Bahwa kecewa dalam patah hati bukan hal yang lebay. Sedih menangis, meluapkan emosi yang berkecamuk nggak karu-karuan adalah hal yang, “Iya, patah hati ya sakit, fisik juga bisa sakit karenanya.”

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Mungkin kapan-kapan mbak Rika harus ketemu Mas Didi. Mas Didi Kempot (Kelompok Penyanyi Trotoar) ini benar-benar mengaplikasikan patah hati dengan sangat, ya gimana ya, ya benar-benar total dalam menikmati patah hati.

Menariknya setiap patah hati, setiap kekecewaan, setiap kesedihan ternyata juga punya potensi yang cukup besar untuk diubah menjadi sesuatu yang mampu memicu daya pikir, daya juang, dan daya kreativitas.

Setidaknya ada sekitar 400-an lagu yang Mas Didi Kempot ciptakan. Memang tidak semuanya bercerita tentang kesedihan. Kan ada juga lagu-lagu pesanan sebagai bagian dari profesionalisme seorang seniman. Tetapi hampir semua yang menjadi hit adalah tema-tema yang terkait dengan broken heart.

Kalau saya bilang lagu “Stasiun Balapan” apa yang tergambar? Kereta api? Masinis? Mbak-mbak penjaga loket tiket? Security? Nggak. Yang tergambar justru tangis pilu orang patah hati karena ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya. Orang yang berjanji pergi sebentar, namun ternyata tak pernah pulang. Itu sakit.

Baca juga: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Lagu yang semakin melambungkan nama seorang Didi Kempot di kancah permusikan nasional itu menjadi hit di awal era millenium (bukan Panji manusia Millenium, lho). Dan, sampai sekarang lagu tersebut masih menjadi semacam anthem bagi kawula muda yang mengalami patah hati.

Judulnya “Stasiun Balapan”, isinya ratapan. Itu amazing gaes. Mengalami patah hati, bisa bermain alat musik, bikin lagu sendiri, diberi judul nama sebuah stasiun. Lagunya terkenal, orang jadi tahu pula kalau salah satu nama stasiun kereta api di Solo adalah Stasiun Balapan.

Itulah mengapa mas Didi Kempot didaulat menjadi Duta Kereta Api Indonesia pada 2017. Ya, karena lagu itu. Padahal, kata ‘Stasiun Balapan’ hanya disebutkan di awal lirik lagu. Nggak ada penggambaran, misalnya oh fasilitas yang ada cukup keren, pelayanannya menyenangkan, tempatnya nyaman, atau keunggulan-keunggulan lainnya. Nggak ada itu. Isinya ya ratapan gaes.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Dalam satu sesi wawancara, Mas Didi Kempot hanya menjawab, “Ya mungkin aku cocok mewakili orang yang sedang naik kereta api,” jawabnya disusul ledakan tawa.

Selain “Stasiun Balapan”, ada “Tanjung Mas Ninggal Janji” (nama pelabuhan di Semarang) dan “Terminal Tirtonadi”. Ada juga yang merupakan destinasi wisata seperti “Parangtritis” yang pernah dikolaborasikan dengan grup musik Endank Soekamti, serta “Pantai Klayar”.

Ini sekali lagi bukan Jawa-sentris atau Campursari-sentris, tetapi memang ‘Lord’ Didi layak jadi Bapak Patah Hati Nasional. Kita bisa belajar banyak dari beliau bagaimana mengelola patah hati. Patah hati nggak hanya menimpa sobat proletar. Sobat borjuis juga berpotensi tertimpa patah hati.

Yang suka menulis mungkin bisa menyikapi dengan tulisannya. Yang bisa lagu semoga kecipratan anugerah kreativitas sebagaimana yang dilakukan Mas Didi Kempot lewat medium musik Campursari-nya.

Sementara, yang punya nama di Belanda dan Suriname, bolak-balik pentas di sana dengan membawa misi mempopulerkan dan melestarikan Bahasa Jawa dengan lagu-lagu patah hatinya, yang dianggap mampu menemani orang-orang yang sedang patah hati.

Artikel populer: Memangnya Kenapa kalau Nonton Bioskop Sendirian?

Kebetulan sebuah forum bincang-bincang berfaedah di warung kopi di Kota Solo mempertemukan saya dengan seorang pria Jawa-Belanda berusia 60 tahun yang turut melejitkan nama Didi Kempot.

Pertanyaan saya singkat, “Apa yang membuat Anda ketika itu begitu yakin memilih Mas Didi? Padahal, dunia musik Campursari masih jauh dari kata anak muda.” Dia menjawab lebih singkat, “Anak itu (Didi Kempot) beda, punya potensi dia.”

Patah hati nggak apa-apa kok. Patah hati itu juga rezeki. Semoga diberi kemampuan untuk mengelola patah hati. Dijadikan modal untuk perbaikan diri. Syukur-syukur bisa menghidupi. Maka, jangan takut patah hati, jangan takut mencintai. Patah hati itu potensi.

“Apa potensimu?”

“PATAH HATIIIIII…”

*Now playing: Layang Kangenby Didi Kempot

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.