Film Tilik (Ravacana Films)

Sekumpulan ibu-ibu dapat kabar bahwa Bu Lurah mereka sakit dan masuk ruang ICU. Karena tidak ada bus yang bisa disewa mendadak, mereka akhirnya menyewa sebuah truk sebagai transportasi menuju rumah sakit. Di atas bak truk tersebut mengalir berbagai obrolan dengan gaya yang khas.

Gosip, gibah, rasan-rasan, nyacati. Segala hal yang terjadi sejak awal hingga akhir perjalanan, men-trigger mereka untuk terus membicarakan sosok Dian, perempuan muda di desa yang tak kunjung menikah dan dianggap bisa meresahkan warga.

Dalam percakapan selama 27 menit, muncul berbagai macam karakter dan ekspresi wajah. Dari Bu Tejo sang tokoh utama yang suka bergosip dan ceplas ceplos, Yu Ning yang tak ingin menelan informasi mentah-mentah tanpa sumber akurat, hingga sosok sopir truk genit dan istrinya yang takut suaminya itu direbut orang.

Itu semua disajikan dalam film pendek berjudul Tilik. Film hasil kerja sama antara Ravacana Films dan Dinas Kebudayaan DIY ini berhasil menyedot perhatian banyak orang, terutama karakter Bu Tejo yang langsung viral. Tilik sendiri artinya menjenguk.

Baca juga: Mereka yang Menikah dan Ditinggal Nikah oleh Mantan

Banyak orang merasa terhibur menonton film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo tersebut, sebab bisa melihat bagaimana cara sebagian orang dalam menilai hidup orang lain. Bahkan, beberapa merasa terhibur dengan narasi seksis yang menggambarkan bagaimana kejamnya kebiasaan perempuan dalam membahas kaumnya sendiri.

Sesungguhnya film Tilik tak sekadar membahas kebiasaan buruk satu-dua orang, tapi lebih dari itu: membahas kita semua. Bagaimana selama ini kita suka mencampuri urusan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, hanya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita baik-baik saja. Membicarakan ‘keburukan’ orang lain, seolah-olah kita auto lebih baik.

Film Tilik berusaha mengingatkan kita atau bahkan menegur bahwa kita adalah Bu Tejo dalam berbagai momen. Setidaknya dalam hati kita pasti pernah menyacati atau mencela orang lain yang bahkan kita tidak kenal secara pribadi.

Baca juga: Jodoh dan Pesta Pernikahan Diatur-atur, Kapan Urusan Ranjang?

Sigmund Freud mendefinisikan hal ini sebagai salah satu mekanisme pertahanan diri (defence mechanisms), yakni proyeksi. Upaya manusia memetakan dan melampiaskan dorongan perasaan dan ketakutan pribadi pada objek di luar dirinya, dengan cara-cara yang defensif.

Manusia terus menerus melakukan berbagai jenis mekanisme pertahanan diri, hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa kondisi psikisnya baik-baik saja. Mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh Bu Tejo adalah proyeksi. Bu Tejo yang berambisi pada kehormatan dan martabat, memproyeksikan ketakutan-ketakutannya akan kehilangan kehormatan dan martabat pada sosok Dian.

Itu sebetulnya kerap terjadi dalam masyarakat kita. Bagaimana orang terus menerus mengeruk informasi tentang transformasi gender Lucinta Luna, karena orang ketakutan dengan fenomena gender ketiga. Atau, bagaimana orang menyesalkan cara Adhisty Zara eks JKT48 ketika bersama cowoknya, karena orang fobia pada perempuan yang atraktif secara seksual.

Baca juga: Deddy Corbuzier, Jerinx, Anji, dan Apa yang Tersirat dari Karya Orhan Pamuk

Pada level paling minimal, kita tentunya pernah sesekali mempertanyakan atau bahkan mencela pilihan beberapa orang yang diceritakan dalam kitab suci. Meskipun, kita tak kenal betul atau bahkan ketemu sekali saja tidak. Itu karena kita ketakutan menjadi pendosa, sehingga berusaha meyakinkan diri bahwa ada orang-orang yang lebih berdosa dari kita.

Walaupun omongan Bu Tejo dalam film Tilik ternyata benar bahwa Dian adalah istri simpanan, bukan berarti kita berhak menilai-nilai dan ikut campur urusan pribadi atau hidup orang lain. Apalagi, menjadikan Dian sebagai proyeksi dari ketakutan-ketakutan mereka.

Kita sering sekali menjadikan gibah sebagai ‘obat penghilang stres’, mulai dari gibahin selebgram, bintang drakor, hingga persoalan pribadi para tokoh dalam oligarki politik. Seakan bisa mengalihkan diri dari hidup kita yang penat dan penuh tekanan. Ye kan?

Gibah atau gosip sudah menjadi sesuatu yang wajar dalam masyarakat kita dan terkadang dijadikan alternatif hiburan. Bahkan, dalam beberapa momen, banyak dari kita yang bergibah secara random untuk membuka pembicaraan yang akrab dengan teman lama, misalnya.

Artikel populer: It’s Okay jika Tak Punya Keluarga yang Okay

Film Tilik menggambarkan bagaimana gibah berubah dari perbuatan kejam menjadi aktivitas yang ternormalisasi. Pun, film ini juga menunjukkan narasi seksis bahwa gibah melekat pada perilaku perempuan. Padahal, gender apapun, usia berapa pun, kini seolah diizinkan untuk membicarakan apapun tanpa menimbang substansi pembicaraan.

Gibah tak hanya milik ibu-ibu, ia pun hadir pada anak SD yang membicarakan mainan baru temannya, pada sekumpulan anak SMA selepas latihan upacara, hingga para lelaki di warung kopi.

Tulisan ini juga gibahin Bu Tejo kok, sebab Bu Tejo adalah kita dalam beberapa momen. Jadi, mari mengingat-ingat, pernahkah orang lain tersakiti oleh kata-kata kita, hanya karena kita ingin meyakinkan diri sendiri bahwa kita seolah lebih baik?

Yakin nggak pernah kayak Bu Tejo?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini