Ilustrasi korporasi (Image by mhouge from Pixabay)

Unilever Global secara terang-terangan mendukung aktivisme LGBTQI+ dalam rangka perayaan Pride Month, bulan spesial bagi komunitas LGBTQI+. Unggahan Unilever Global membuat kaum muslim radikal bergunjing. Mereka bahkan tak tanggung-tanggung mendeklarasikan “nggak lagi deh beli produk-produk Unilever” lewat kolom opini media sosial.

Bagi sebagian umat muslim, persoalan LGBT memang hanya tentang sesat, sesat, dan sesat. Tapi ya terserah sih. Kalau saya, sebagai manusia, mencoba berlaku adil dan tidak mendiskriminasi sesama manusia dari segi identitasnya. Kalaupun saya pakai produk-produk Unilever, itu bukan karena visi politis Unilever, ya karena memang butuh aja.

Sebagai perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG), yakni perusahaan yang memproduksi kebutuhan hidup individu sehari-hari, Unilever tahu bagaimana menyiasati agar masakan terasa lezat, menyeduh teh secara praktis, menghilangkan noda di baju, mengatasi gigi berlubang, kulit kepala berketombe, bau mulut, hingga bau ketek.

Lantas, apakah Unilever benar-benar peduli terhadap kelompok LGBTQI+? Kamu-kamu yang taat syari’at perlu tahu…

Baca juga: Ada yang Beda dari Boikot Produk Gara-gara Dukung Hak LGBTQI+

Unilever punya berbagai tema aktivisme dalam branding merek dagangnya, bukan cuma isu LGBTQI+. Sejak 2006, perusahaan multinasional itu telah menggagas strategi merek yang terintegrasi dengan isu-isu sosial. Anggarannya pun tidak main-main.

Salah satu merek dagang teh Unilever, yaitu Lipton, kemudian memakai skema sebuah badan sertifikasi di isu lingkungan dan kesejahteraan sosial bernama Rainforest Alliance (RA). Lipton menjadi salah satu produk unggulan Unilever dalam pengarusutamaan sustainable sourcing, sebab Lipton merupakan merek yang memiliki profil paling tinggi dan nilai kapitalisasi saham hampir tiga kali lipat dari para pesaingnya.

Sertifikasi ini bertujuan untuk mengontrol keadilan dalam rantai nilai produksi, sehingga berdampak bagi kesejahteraan hidup petani. Kenyataannya, tak semudah itu menciptakan keadilan. Namun, bermodalkan logo kodok Rainforest Alliance, Unilever sangat fasih membuat iklan-iklan bernuansa aktivisme dalam branding produknya. Mereka bahkan juga mewacanakan aktivisme feminis mengenai standar kecantikan lewat iklan produk merek Dove.

P&G sebagai kompetitornya pun tak mau kalah. Mereka juga bikin kampanye kesehatan reproduksi untuk remaja perempuan melalui iklan produk pembalut. The Body Shop mengkampanyekan “No Animal Testing” dan ethical sourcing untuk citra sayang flora dan fauna. Coca Cola, bahkan turut menyatakan keberpihakannya dalam isu Black Lives Matter (BLM) akhir-akhir ini.

Baca juga: Kita dan Tragedi di Amerika: Bukan Siapa Paling Menderita, tapi Kapan Berkaca

Dalam isu LGBTQI+, Unilever juga bukan satu-satunya perusahaan pemilik merek yang merayakan kampanye warna-warni itu. Perusahaan-perusahaan sadar bahwa para konsumen dan angkatan kerja milenial yang mendominasi dunia perburuhan memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial. Lagian, peduli apa perusahaan dengan ranah identitas dan orientasi seksual karyawannya? Selama ia punya nilai produktivitas yang tinggi, ia layak dipertahankan sebagai karyawan.

Di masyarakat belahan bumi Utara, iklan-iklan bercorak aktivisme begini berpengaruh terhadap preferensi konsumennya. Berbeda dengan di Indonesia, tim marketing perusahaan di sini lebih memberatkan wacana produk halal, mengingat penduduk kita yang relijius bukan kepalang.

Masyarakat yang kelewat relijius tidak begitu peduli apakah perusahaan suplier mengupah karyawannya dengan adil? Apakah perusahaan pemilik brand mengambil nilai tambah secara adil? Itu menjadi tidak penting selama ada stempel halal dari MUI di sebuah produk.

Jadi, apa betul kampanye isu sosial oleh korporasi-korporasi besar berlandaskan pada keberpihakan politis atau pertimbangan kemapanan perusahaan?

Baca juga: Pada Dasarnya, Umat Beragama Itu Sama Saja, yang Beda Hanya Kelas Sosialnya

Corporate activism atau aktivisme oleh perusahaan memang telah menjadi tren sejak satu dekade terakhir dan semakin gencar ketika MDGs diupgrade menjadi SDGs dengan tambahan poin prinsip bisnis yang beretika sosial. Sebagian kalangan menilainya sebagai capaian positif, sebagian lagi menilainya justru semakin mengaburkan peran perusahaan-perusahaan besar yang berkontribusi dalam masalah ketimpangan dan kemiskinan global.

Dengan demikian, prasangka para aktivis dakwah tentang Unilever benar-benar berpihak pada aktivisme LGBTQI+, bisa saja meleset. Akan tetapi, kalaupun antum ingin berhenti mengonsumsi semua produk Unilever, lebih-lebih semua produk komunikasi yang menyediakan template perayaan Pride Month, wawww banget sih. Jalan hidup antum pasti bakal diapresiasi oleh aktivis dakwah anti-kapitalisme.

Dalam beberapa hal, aktivis dakwah anti-kapitalisme memang perlu mencontoh semangat kalangan muslim garis keras. Potensi-potensi revolusioner memang terkadang justru muncul dari pihak yang tak banyak bacot soal tradisi pemikiran Bapak Karl Marx.

Om saya, misalnya, sebagai bagian dari kalangan bapak-bapak yang WA-nya ramai oleh pesan forward seruan untuk umat muslim, sudah setahun ini belio berhasil menginisiasi dan mengelola koperasi syariah di komplek perumahan. Ia sadar betul fondasi ekonomi kerakyatan yang digadang-gadang mendiang Hatta dan seluruh muridnya adalah koperasi.

Artikel populer: Para Pelamar Kerja di Kezaliman Baru, eh Kelaziman Baru

Melalui koperasi syariah, ia mengagitasi tetangga-tetangga agar mencari produsen bahan-bahan pokok seperti hasil pertanian dan peternakan hingga macam-macam olahannya. Semua komoditi dibeli langsung dari petani dan peternak guna memangkas rantai nilai yang panjang. Anggota koperasi pun bisa membeli dengan harga yang lebih murah dibanding harga ritel.

Semangat komunitas tersebut dalam menghidupkan corak ekonomi kerakyatan dilandasi oleh seruan “Umat muslim sedunia bersatulah”, alih-alih “Buruh sedunia bersatulah”.

Kalau semangat boikot produk mengarah pada tujuan agar lepas dari rezim produk-produk perusahaan multinasional, lebih-lebih demi kemandirian ekonomi oleh rakyat, itu sip banget. Tapi, jika karena kampanye mendukung komunitas LGBTQI+, lalu solusinya cuma berpindah jadi konsumen produk lain, hilih itu sih nggak kaffah, ukh… akh…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini