Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Ilustrasi (Debashis Biswas via Unsplash)

Ketika bicara soal fenomena hijrah, kita akan cenderung merujuk pada pengertian hijrah dalam agama Islam. Sebab, fenomena ini belakangan sedang berkembang dan asal muasalnya dari kalangan Islam. Lantas, bagaimana duduk perkara hijrah itu sendiri?

Pengertian hijrah bisa dilihat dari beberapa pandangan. Pandangan yang paling umum adalah pengertian hijrah menurut ilmu Tasawuf atau Sufisme Islam. Dalam ilmu Sufi, hijrah diartikan secara harfiah sebagai ‘meninggalkan’. Pengertian ‘meninggalkan’ ini lantas berkembang sesuai dengan pendekatan ulama Tasawuf (ilmuan Sufisme).

Syekh Ibnu Atha’illah, misalnya. Dalam magnum opusnya Al-Hikam, menggunakan pendekatan realistis dalam mengartikan kata hijrah; “Janganlah berpindah dari alam ke alam karena engkau akan seperti keledai penggilingan. Berpindahlah dari alam kepada penciptanya.”

Syekh Ibnu Atha’illah menganggap hijrah yang hakiki bukanlah perpindahan secara geografis, melainkan sebagai upaya pemusatan kekuatan batin untuk menyisihkan segala hal yang bukan Allah.

Hal senada diungkapkan ulama Sufisme yang lain. Syekh Ibnu Abbad dalam salah satu karyanya Gayatul Mawahibil Aliyyah, menggunakan pendekatan eksplisit dan implisit dalam mengartikan kata hijrah.

Secara eksplisit, manusia berpindah dari alam kepada sang pencipta dan rasulnya. Sedangkan secara implisit, manusia berpindah kepada sasaran hijrahnya.

Makna hijrah secara eksplisit inilah yang dimaksud oleh kalangan Sufi sebagai meninggalkan kehidupan dunia dan menjalani hidup semata-mata beribadah untuk Tuhan. Sedangkan makna implisit diartikan sebagai berpindahnya manusia dari satu tujuan duniawi ke tujuan duniawi lainnya.

Kalau dalam bahasa kita sama dengan ‘target capaian’ yang terus menerus berubah. Misalnya ditanya kapan lulus, terus udah lulus ditanya kapan nikah, udah nikah ditanya kapan punya anak, gitu seterusnya sampai Jan Ethes lawan Prabowo. Eh?

Seperti dipahami, hijrah menjadi semacam tren sosial yang merebak di kalangan anak muda Islam. Baik di dunia nyata maupun maya, kita kerap melihat dan membaca bagaimana fenomena ini berjalan dengan gejala yang khas. Media sosial mengamplifikasi fenomena hijrah dengan menciptakan echo chamber bagi mereka yang punya teman pada fase hijrahnya.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Tidak sedikit kalangan hijrah ini menulis siraman rohani atau membagikan tulisan dari orang lain (tokoh panutan yang berhijrah) yang mereka sepakati sebagai kebenaran. Kalangan hijrah yang seperti ini umumnya mereka yang baru kemarin sore memutuskan hijrah.

Seperti fenomena bisnis MLM atau kewirausahaan yang senang membagikan quotes bisnis, hijrahers yang tergolong newbie juga membagikan tulisan atau gambar yang terkadang menyenggol ego orang yang tidak sepemahaman. Contohnya tentang hijrah anti-riba atau hijrah pakaian syar’i.

Tidak ada yang salah, memang, bagi mereka yang baru memahami riba itu dosa, kemudian keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai bank. Tapi, yang jadi masalah, setelah keluar ia menjelek-jelekkan profesi sebelumnya, termasuk karyawan di dalamnya.

Dunia perbankan yang dalam pengertian mereka terdapat unsur ribawi yang haram kemudian dipropagandakan sebagai sesuatu yang layak dimusuhi dan dimusnahkan. Sayangnya, tulisan atau gambar yang mereka buat atau bagikan tidak selalu disepakati oleh teman-temannya di media sosial. Alhasil, yang ada malah wor.. wor… wor…

Bank itu memang riba, dan riba itu dosa. Tapi apakah dengan menjelek-jelekkan perbankan adalah cara yang baik dan benar untuk mengumumkan bahwa mereka telah berhijrah? Masih banyak saudara-saudara kita lainnya yang tak punya pilihan selain kerja di bank.

Hijrahers anti-riba juga kadang tidak memberikan pilihan solusi yang realistis, selain argumen-argumen yang menjanjikan berkah jika keluar dari pusaran ribawi.

Kalau yang dimaksud bank syariah, ya silakan saja cek modal bank syariah dari mana kalau bukan dari induknya yang bank konvensional, bank yang sebagian besar pendapatannya berasal dari bunga.

Seperti hijrahers perbankan, hijrahers pakaian syar’i yang baru beberapa minggu belajar berpakaian Islami dengan hijab ukuran besar juga kerap membagikan quotes yang ‘nyerempet’ saudari-saudari lainnya yang belum berpakaian sama.

Jangankan yang belum berjilbab atau berhijab besar, yang sudah berhijab tapi kurang besar aja ikutan kena. Halus sih, tapi tetep aja makjleb. Setidaknya itu dilakukan agar orang tahu status barunya yang sudah berhijrah.

Baca juga: Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Selain itu, setiap gambar yang diunggah disertai caption dengan akhiran self reminder. Sebetulnya nggak self-self amat sih, karena nyatanya semua orang bisa lihat dan bukan dirinya sendiri.

Lupa, kalau media sosial itu ada akhiran kata ‘sosial’? Kalau untuk self reminder, tulis saja di buku diary. Tul nggak?

Hijrah tak otomatis mengubah kebiasaan buruk

Dalam sejarah Islam, ada sebuah kisah. Suatu saat seorang Arab Badui – suku udik pegunungan yang terkenal tak bertatakrama – hendak menemui Nabi Muhammad di Masjid Nabawi. Orang Badui itu masuk ke masjid, lalu kencing di salah satu sudut.

Tanpa ba bi bu, seseorang sahabat Rasul berdiri dengan menghunus pedang, menghampiri orang Badui itu. Sambil jalan, sahabat Rasul berkata, “Biar kupenggal kepalanya!” Tapi Muhammad langsung mencegah sahabatnya, kemudian menanyakan maksud orang Badui itu yang ternyata ingin memeluk agama Islam.

Seandainya tidak dicegah, sahabat Rasul ini sudah membunuh si Badui tanpa perlu mendengar alasannya. Berkat sifat pengasih Muhammad lah, pertumpahan darah yang tidak perlu, batal terjadi.

Dan, siapa lagi sahabat Rasul itu kalau bukan Umar bin Khattab? Orang yang sebelum masuk Islam sampai masuk Islam dikenal sebagai orang yang garang, kasar, keras, dan tanpa tedeng aling-aling.

Belakangan, di negeri kita, fenomena hijrah marak di kalangan anak muda Islam berusia 20-an atau setara usia anak kuliahan. Artinya, ada rentang waktu sekian puluh tahun sebelum ia memutuskan hijrah. Dengan rentang waktu itu, kita tidak bisa berharap banyak bahwa hijrah akan otomatis menjadikannya lebih baik.

Misalnya, hijrah di usia 25 tahun. Itu berarti selama 25 tahun, banyak kebiasaan buruk yang terbangun. Dengan demikian, hijrah adalah perubahan parsial dari kebiasaan buruk itu sendiri. Karena parsial, ada residu sifat buruk yang masih tertinggal, terutama pada fase awal berhijrah.

Seperti Umar bin Khattab tadi, yang mungkin kebiasaan mengubur bayi dan membunuh orang sudah hilang, tapi sifat kasarnya masih melekat bahkan setelah beliau hijrah memeluk Islam.

Artikel populer: Di Balik Viralnya Lagu Karna Su Sayang, Menurut Penciptanya

Hijrah juga bisa dianalogikan sebagai pernikahan. Setelah menikah, pasangan tidak otomatis meninggalkan kebiasaan buruk selama hidup melajang atau bersama orang tuanya.

Mungkin setelah menikah jadi rajin bekerja, tapi masih suka bangun siang dan malas mandi di akhir pekan. Dua hal terakhir adalah kebiasaan buruk yang terbentuk selama sebelum menikah. Btw, suka bangun siang dan malas mandi itu kamu, bukan?

Jika hijrah dianalogikan dengan menikah, beberapa kebiasaan buruk tentu tidak langsung berubah cepat. Hijrah dan perubahan sifat buruk mungkin perlu waktu lama selama kebiasaan itu terbentuk.

Untuk mengubah kebiasaan buruk yang menjadi residu hijrah, diperlukan waktu lama atau kejadian luar biasa yang membuat mau tak mau seseorang meninggalkan kebiasaan buruknya.

Batasan hijrah

Syekh Al-Raghib al-Isfahani, seorang pakar leksikografi dan literatur bahasa Arab abad XI, dalam kitabnya Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, menjelaskan makna hijrah dalam tiga hal.

Pertama, meninggalkan negeri yang dihuni orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya ke negeri yang berpenduduk muslim, seperti hijrahnya Nabi Muhammad.

Kedua, meninggalkan syahwat yang buruk dan dosa menuju kebaikan yang diperintahkan Allah. Ketiga, menundukkan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki seperti laku para Sufi.

Pengertian pertama jelas sulit dilakukan saat ini, karena tidak ada urgensi di dalamnya. Zaman dulu, Rasul berhijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah untuk menghindari gangguan suku Quraisy. Sedangkan di negara ini, muslim sebagai mayoritas dan gangguan ibadah nyaris tidak dirasakan. Maka, hijrah pada pengertian pertama gugur keharusannya.

Kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa fenomena hijrah yang sedang marak adalah hijrah pada pengertian kedua dan ketiga menurut Syekh Al-Raghib.

Jika pengertian hijrah adalah meninggalkan kebiasaan buruk dan berubah menjadi baik dalam laku kehidupan, bagaimana jika sedari awal seseorang memang sudah dari sononya berperilaku baik?

Seorang wanita dikatakan berhijrah ketika yang tadinya tak berhijab menjadi berhijab. Atau, seorang pria dikatakan berhijrah ketika ia resign dari bank dan memilih berjualan beras dengan alasan menghindari riba. Lalu, bagaimana jika ada pria dan wanita yang memang dari awal sudah berhijab dan tidak bekerja di bank?

Seperti kata Syekh Al-Raghib, hijrah adalah meninggalkan kebiasaan buruk pada masa lalu. Kalau dulu dan sekarang (sebelum dan setelah hijrah), memang dasarnya tak pernah berlaku buruk tapi cuma jadi rajin ngaji, ya tidak bisa dibilang hijrah. Sebab, semua orang juga bisa.

Karena itu, kita perlu berhati-hati menggunakan kata hijrah dan menempatkannya sebagaimana mestinya. Tabik ya akhi, ukhti…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.