Tentang ‘Game of Thrones’ Ala Jokowi. Jangan Berlebihan Memuji, Ceritanya Begini

Tentang ‘Game of Thrones’ Ala Jokowi. Jangan Berlebihan Memuji, Ceritanya Begini

Ilustrasi (Twitter/@jokowi)

Kurang dari lima belas menit Presiden Joko Widodo menyampaikan pidatonya dalam pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali. Presiden pidato mungkin biasa, tapi saat bahasannya menganalogikan jalan cerita serial Game of Thrones, hal itu kemudian menjadi menarik.

Tentu saja, sejauh mana pengandaian cerita Game of Thrones, serial televisi Amerika yang dibuat untuk HBO, dari adaptasi novel serial karya George R.R. Martin tersebut, menjadi relevan atau tidak dengan bahasan pidato Jokowi.

Jadi begini pemirsa yang budiman…

Seperti biasa, linimasa media sosial kembali diwarnai perdebatan keras antara pro dan kontra Jokowi. Perdebatan yang seringnya nirfaedah, alih-alih membicarakan substansi atau efek dari kebijakan IMF dan Bank Dunia terhadap Indonesia.

Tapi, ya sudah, kalau analogi serial Game of Thrones lebih menarik, mari kita bahas tuntas. Jangan setengah-setengah. Yang kayak gitu biasanya nontonnya juga setengah-setengah, atau malah nggak pernah nonton. Nggak nonton kok ikut rame?

Ada pula netizen julid yang berlebihan. Yang dibahas apa, yang diperdebatkan malah yang lain. Misal, ada yang bilang, “Halah Jokowi, ngomong aja alfatekah, sok-sokan pake bahas film.”

Komentar di atas saya yakin semisal Tretan atau Coki Pardede dari Majelis Lucu Indonesia pun akan kesulitan mencari celah menemukan di mana korelasinya, selain lebih enak dijadikan bahan tertawaan. Perbandingannya mungkin setara dengan bahasan absurd materi video Youtube-nya Atta Halilintar.

Namun, barisan yang memuji pidato Presiden Jokowi juga tak kalah absurd. Misal, ada yang ngomong, “Pak Jokowi, pidatonya keren banget, semoga nanti Game of Thrones bisa diperankan sama Reza Rahadian.”

Saya mbatin sembari menahan diri untuk tidak mengumpat, serta tetap mencoba berwajah teduh dan tersenyum layaknya Rio Dewanto saat menghadapi persoalan.

Baca juga: 4 Tokoh Selain Thanos yang Bisa Digunakan Jokowi dalam Pidatonya

Awal mula pidato Presiden Jokowi yang menyingung serial Game of Thrones muncul dalam kalimat ini: “Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa winter is coming.”

Istilah Winter is coming adalah ungkapan yang terkenal dari keluarga Stark yang berkedudukan di Utara.

Imbas Jokowi berpidato dengan mengutip Winter is coming ala Ned Stark tersebut, HBO Asia bahkan mengunggah meme berwajah Jokowi berbadan Ned Stark, yang kemudian banyak dipuji-puji, tapi saya kok malah merinding cemas.

Bagaimana tidak, jika Anda benar-benar menonton serial ini, terutama pada seasons 1 di akhir episodenya, Ned Stark berujung tragis. Saya sendiri tidak sampai hati menulis bagaimana tragisnya.

Alih-alih direpresentasikan sebagai fenomena ekonomi global oleh Jokowi, saya justru melihat Game of Thrones lebih dekat dengan kondisi perpolitikan di Indonesia.

Bagaimana sekian klan beradu kekuatan dan finansial untuk meraih kekuasaan. Paling tidak, kita bisa melihat klan Cendana, klan Cikeas, klan Teuku Umar, klan Hambalang, dan lain-lain.

Kalau saya boleh usul sekaligus koreksi, Presiden Jokowi sebaiknya mengutip Tyrion Lannister. Selain paling cerdas, ia juga tokoh yang ‘keluar pakem’ dan pandai berdiplomasi.

Bahkan salah satu kutipannya malah seperti ala-ala Soekarno tentang “beri aku 10 orang terbaik” ketika menyikapi benteng yang sulit ditembus bernama Casterly Rock. Yah, walaupun Tyrion tampaknya lebih berani dalam memilih kata dalam pernyataannya.

Baca juga: Jawaban Penggemar Naruto soal Indonesia Rasa Konoha

Selanjutnya, Presiden Jokowi melanjutkan pidatonya.

“Namun akhir-akhir ini, hubungan antar negara-negara ekonomi maju, semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones

Dalam serial Game of Thrones, sejumlah great houses, great families, bertarung hebat antara satu sama lain untuk mengambil alih kendali the Iron Throne. Mother of Dragons menggambarkan siklus kehidupan. Perebutan kekuasaan antar great houses itu bagaikan sebuah roda besar yang berputar.

Seiring perputaran roda, satu great house tengah berjaya, sementara house yang lain menghadapi kesulitan, dan setelahnya house yang lain berjaya, dengan menjatuhkan house yang lain.

Namun, yang mereka lupa tatkala para great houses sibuk bertarung satu sama lain, mereka tidak sadar adanya ancaman besar dari Utara. Seorang Evil Winter yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia dengan es dan kehancuran.”

Di bagian tersebut, pidato Jokowi tampak seperti sedang meresensi dengan penggambaran sederhana bagaimana jalinan cerita dari Game of Thrones tersusun.

Ada benarnya, tapi yang saya pahami cerita ini mempunyai kompleksitas tersendiri dari setiap tokohnya, pun saat dia mewakili houses/families-nya. Banyak yang saya tidak duga dari cerita tersebut.

Satu hal lagi, saya tidak tahu apakah Jokowi pernah menonton serial ini?

Serial ini adalah terbrutal yang pernah saya tonton, penuh adegan sadis dan sederet kelakuan amoral. Tapi, memang, semua terjalin rapi dan selalu merangsang untuk ditonton berkelanjutan.

Lalu, hal lain yang menurut saya agak aneh adalah ungkapan ‘Evil Winter’ yang disematkan Jokowi. Pada seasons 1 sampai seasons 7 – satu seasons rata-rata terdiri dari 10 episode, kecuali season 7 hanya 7 episode – tidak ada istilah ‘Evil Winter’.

Jangan-jangan, Jokowi malah sudah dapat bocorannya bisa dapat istilah ‘Evil Winter’, karena seasons 8 atau terakhir akan tayang pada 2019.

Artikel populer: ‘Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga’ dalam Cerita Anime Naruto

Saya coba bertanya ke beberapa teman penggemar serial ini. Mereka juga merasa aneh dengan istilah tersebut. Mereka yang membaca novelnya pun juga nihil menemukan istilah itu.

Mungkin yang dimaksud ‘Evil Winter’ adalah The Others/White Walkers. White Walkers ini sebenarnya sebuah ras kuno manusia yang tubuhnya terbentuk dari es. Konon datang dari ujung Utara Westros.

Mereka ada di dunia ribuan tahun lalu sebelum era Age Of Heroes. Era itu sendiri terjadi sekitar 10.000 tahun sebelum era Game of Thrones. Gerombolan White Walkers ini dipimpin oleh Night King.

Dalam serial Game of Thrones sendiri, tidak banyak dari mereka yang memiliki pengetahuan atau kekuatan menghadapi Night King. Tolong itu penulis naskah pidatonya ditanyain, istilahnya dapat dari mana?

Jadi, kita sebaiknya jangan terlalu puja-puji tentang analogi Game of Thrones dalam pidato Jokowi, meski itu telah melambungkan nama Jokowi di seantero dunia.

Lalu, bagaimana perasaan Prabowo Subianto, rival Jokowi di pilpres nanti? Apakah Prabowo yang mantan mantu Soeharto itu nggak iri? Apakah tim sukses Prabowo tidak tertarik menyaingi pernyataan-pernyataan Jokowi yang berbasis film kesukaan milenial?

Kubu Prabowo jangan mau kalah, jangan hanya nyuruh nonton film G30S/PKI tapi pas nobar cuma ngantuk seperti jenderal yang satu itu. Cari film lain dong, yang sarat nilai-nilai ketimuran.

Misal, film “Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-coran dan Tertimpa Meteor”. Atau, mungkin film Warkop DKI yang mungkin bisa jadi suara hati Prabowo sekaligus bisa menghibur rakjat: “Maju Kena Mundur Kena”.

Atau, jangan-jangan Prabowo sendiri ternyata penggemar Game of Thrones, siapa yang tahu? Sebab, di sisi lain, bisa jadi pidato Jokowi memberikan semacam ‘hidayah’ tentang ikhtiar apa yang bisa dilakukan terkait perang dagang Amerika-Tiongkok.

Atau, bahkan tanpa dinyana, para petinggi Bank Dunia dan IMF tergugah pikiran dan hatinya setelah mendengarkan Jokowi tentang sebuah pertanyaan besar selama ini: memberikan solusi atau menambah ketimpangan ekonomi?

Selamat menonton, Valar Morghulis…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.