Ernie Judojono (Instagram @himynameisernie)

Sebelumnya ada Mbak Yuni Shara, lalu muncul Tante Ernie Judojono yang tampak bugar di usia yang sangat matang. Influencer cum selebgram dengan 1,2 juta followers itu menjadi perbincangan hangat di media sosial era 2020 BC (Before Corona) sampai saat ini. Bahkan, netizen menjuluki Tante Ernie sebagai ‘Tante Pemersatu Bangsa’.

Saya sendiri termasuk orang yang termotivasi dan berniat rajin nge-plank supaya otot yang selama ini kayak nutrijel suka rela bertransformasi. Minimal jadi agar-agar, alih-alih bugar. Memangnya punya tubuh kayak Tante Ernie nggak pake usaha?

Tetapi, ada saja mbak-mbak atau ibu-ibu yang julid tanpa menyadari bahwa modal nyinyir doang mah jangan harap otot jadi kenceng. Otot jemari tangan mendadak kekar sih, mungkin saja. Soal yang lain-lain, kalau nggak bonus, berarti anugerah Ilahi.

Baca juga: Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Bapak-bapak baby boomer juga nggak mau kalah. Meledek mereka yang follow IG Tante Ernie. Milenial bermental baby boomer pun sama aja, sok iyes, nyinyirin followers-nya Tante Ernie. Padahal, nggak follow juga bisa kok memantau kontennya. Udahlah ngaku aja.

Kita memang sering kali melihat perempuan yang membenci perempuan lain, padahal disenggol aja nggak. Sementara, banyak lelaki menganggap bahwa perempuan bertubuh ‘seksi’ yang suka berpakaian mini sudah pasti genit. Itu prasangka-prasangka toksik sejak jaman baheula. Berisiko jadi fitnah pula.

Ada beberapa prasangka terhadap perempuan, terutama mengenai tubuhnya yang diekspresikan di ruang publik. Semisal risih, autojulid, jijik, bahkan merasa terancam atau bahasa gawl-nya insecure.

Dulu, Mbak Inul Daratista pernah dihina-hina karena goyang ngebornya. Alih-alih sensual, goyangannya malah kayak gerakan senam. Keringat yang menetes bagai lunturnya lemak yang kepanasan. Kalau sampai berimajinasi aneh-aneh gegara ada orang senam sambil nyanyi, ya masalahnya ada di kamu atuh. Jika Pak Haji Rhoma Irama ketika itu mara-mara karena katanya bermaksud membela (((marwah))) musik dangdut, lha kamu?

Baca juga: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Tapi, jangankan manusia yang hidup dan bisa bergerak, setahun belakangan dada patung Putri Duyung di Ancol saja diberi kemben berwarna keemasan karena manajemen menganggap keputusan tersebut lebih nyaman untuk pengunjung yang membawa keluarga.

Ada juga kasus lain, Patung Akar di Yogyakarta dirobohkan pada 2014 karena patung berbahan kayu berbentuk setengah manusia dari kaki hingga pinggang itu dianggap sekelompok ormas mengandung unsur pornografi. Patung ‘Peminta Hujan’ karya seniman Cekoslovakia, Marta Jiranskova, yang diberikan kepada Presiden Soekarno juga ditutupi kain saat dipamerkan di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, Oktober 2016. Patung berupa dua perempuan tanpa busana tersebut dianggap ‘meresahkan’ masyarakat.

Selanjutnya, pada 2017, patung dua penari balet di Surabaya pun ditutupi kain, sebelum dibongkar atas desakan sekelompok orang yang menilai karya seni itu mengandung unsur pornografi. Pada tahun yang sama, saat kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, pihak Istana Bogor menyatakan bahwa penutupan aurat patung sebagai ‘penghormatan terhadap budaya Arab’. Masih ada lagi, yaitu patung Bawah Laut Gili Meno, patung Taman Ketapang Satu, dan patung Zapin, diprotes karena dianggap erotis.

Baca juga: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Kalau kamu merasa capek baca paragraf berisi patung yang dirobohkan, ditutup
kain, dan diprotes, bayangkan aku yang ngumpulin beritanya. Banyak sekali kekonyolan di negeri ini terkait tubuh perempuan.

Di TV apalagi, dilakukan sepenuh hati supaya KPI berkenan meloloskan tayangan. Tak peduli tubuh perempuan itu milik Sandy Cheeks si tupai pintar di Bikini Bottom. Lucu sekali logika ini. Memaksa pihak lain melakukan sesuatu, karena diri sendiri tak berdaya ngeblur dari mata masing-masing.

Nah, menyimak isi unggahan akun Tante Ernie, saya menangkap semangat untuk menyuarakan “tubuhku otoritasku” dengan cuek dan riang gembira. Meski perlu juga berhati-hati mengingat kasus Tara Basro yang mengkampanyekan body positivity malah terancam UU ITE.

Artikel populer: Tara Basro dan ‘Body Positivity’ sebagai Perlawanan yang Revolusioner

Ekspresi yang melibatkan tubuh perempuan memang sulit mendapat ruang di masyarakat kita dengan kultur patriarki yang masih sangat dominan. Laki-laki dan perempuan yang julid dengan foto Tante Ernie di IG adalah teks-teks objektifikasi.

Lupakan konteks, apalagi aktivisme yang mewakili keresahan pribadi atau gagasan yang muncul dalam keseharian bermedia sosial. Banyak orang hanya akan melihat ekspresi yang melibatkan tubuh perempuan sebagai pornografi dan pornoaksi, siapapun itu. Selamat bertugas untuk kamu yang merasa sebagai ‘polisi moral’…

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini