Ilustrasi ibu. (Photo by Ron Lach from Pexels)

Ketika perempuan berperan sebagai orangtua, kondisinya bisa lebih rumit dibanding laki-laki, sebab imajinasi masyarakat tentang ibu yang ideal tak pernah lepas dari kriteria domestik sebagai variabel penunjangnya. Bagi perempuan, menjadi ibu itu ada pilihan shift-nya segala. Berbeda dengan lelaki, tidak ada peristilahan full-time father dan part-time father saat jadi orangtua.

Tak peduli apa latar belakang sarjananya, seorang ibu diharapkan berperan sebagai ahli gizi keluarga, pengelola finansial rumah tangga, pengasuh anak-anak, hingga juru masak dan kebersihan di rumah. Masyarakat mendambakan sosok perempuan demikian dengan puji-pujian wanita ahli surga. Mitos pun dibuat-buat bahwa perempuan berbakat dalam multitasking, sementara lelaki tidak. Gender stereotype dalam selubung pujian talenta ini meneguhkan hati perempuan untuk mengerjakan tugas domestik lebih banyak dari laki-laki.

Baca juga: Kalau Ibu adalah Sekolah Pertama, Berarti Ada Sekolah Kedua, Ketiga, dan Seterusnya

Sudah begitu, selelah-lelahnya kerja tersebut tidak akan terhitung dalam portofolio di CV-nya. Apabila ibu rumah tangga ingin kembali melamar pekerjaan setelah usia balitanya beranjak remaja, HRD perusahaan tidak akan mempertimbangkan karier ibu rumah tangga sebagai pengalaman kerja. Ini membuat mereka tersingkir dari pasar tenaga kerja dan tak mudah memperoleh kesempatan berkarya. Jika begini, saya sarankan bunda-bunda melamar beasiswa LPDP saja.

Saat reviewer bertanya, “Apa kontribusi Anda untuk Indonesia?”

Bunda bisa menjawab, “Saya merawat, mendidik, dan mengasihi anak-anak saya sesuai nilai-nilai Pancasila, sehingga mereka tumbuh dengan wawasan kebangsaan. Kini, mereka tengah dipersiapkan menjadi tenaga kerja yang terampil agar turut meningkatkan PDB Indonesia.”

Menanggalkan peran publik demi mengoptimalkan pengasuhan bukanlah pilihan sederhana bagi setiap perempuan. Sebagai individu, mereka ingin berkembang dan berguna bagi sosial dan masyarakatnya. Sebagai ibu, mereka ingin menjamin tumbuh kembang anak sebaik mungkin. Sebagai istri, mereka digelayuti ekspektasi tentang perempuan ideal menurut norma agama dan masyarakatnya.

Baca juga: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Pilihan mereka memunculkan tiga kategorisasi ibu, yakni ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan ibu beban ganda. Nia Ramadhani, Nagita Slavina, dan Tasya Kamila pasti tidak menghadapi pilihan jadi ibu tipe mana. Mereka bisa berkarya, melakukan hobi, sekaligus memastikan tumbuh kembang anak dengan perut kenyang dan hati senang. Rumitnya pertimbangan menjadi ibu tipe apa hanya bagi perempuan dari pasangan kelas menengah yang serba terbatas secara finansial.

Perbedaan pengalaman perempuan sebagai orangtua ini pun kadang memecah belah persatuan. Ada ibu rumah tangga yang merasa dirinya lebih mulia ketimbang ibu pekerja, ada ibu bekerja yang merasa dirinya lebih sukses sebagai perempuan, ada juga tipe ibu beban ganda yang merasa paling sempurna. Asal tahu saja, masyarakat akan selalu nyinyir terhadap pilihan manapun.

Misalnya dengan komentar-komentar, “Sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi ibu rumah tangga?”, “Udah punya anak kok masih mentingin karier terus?”, “Gak kasian apa anaknya dibawa-bawa ke tempat kerja?”, dan sebagainya.

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Kalau terpancing sama komentar seperti itu, besar kemungkinan sulit bagi para ibu menyadari ketidakdilan dalam perannya sebagai individu, istri, maupun orangtua.

Lha, memangnya ada ya ibu yang tak kepingin berada di sisi anaknya sepanjang waktu? Keinginan menemani tumbuh kembang anak itu kan naluri seorang ibu.

Hanya saja, tidak setiap ibu bisa resign kerja tanpa mengkhawatirkan stabilitas ekonomi keluarga. Ucapan bijaksana “Saya rela lepas karier demi anak lho, bund” bisa mengoyak batin si ibu pekerja. Apalagi, jika diucapkan oleh istri yang harta benda suaminya cukup menyejahterakan satu keluarga.

Mungkin, perempuan yang begitu tak paham kalau mencari nafkah demi masa depan anak juga merupakan insting naluriah seorang ibu. Lagi pula, banyak ibu pekerja yang mengisi peran-peran publik di ranah pendidikan, pelayanan sosial, dan kesehatan. Ini membuat mereka harus menitipkan bayinya ke orang lain setiap pagi hari demi anak-anak orang lain.

Ibu beban ganda adalah pilihan yang dianggap lebih solutif. Perempuan tetap punya karier sekaligus kontributif secara finansial dan pengasuhan. Mereka bersedia menyiapkan sarapan keluarga dan membawa-bawa balitanya saat bekerja, sementara tidak setiap institusi tempatnya bekerja menyediakan fasilitas ruang laktasi ataupun playground. Mereka bersuami, tapi rasanya seperti jadi orangtua tunggal. Jadi, apakah double burden itu adalah solusi yang bijak?

Artikel populer: Sarjana, Serba Bisa, Hidup Bahagia di Desa? Ada, di Hometown Cha-Cha-Cha!

Selama ibu-ibu tidak menganggap membesarkan anak adalah sebuah kompetisi dalam mencerdaskan anak, ibu-ibu dari golongan kelas sosial yang sama ini sebenarnya bisa bersolidaritas menuntut haknya sebagai individu, orangtua, dan pasangan rumah tangga. Karena sesungguhnya, pemerintah bisa terlibat dalam urusan domestik mereka.

Negara bisa membuat kebijakan cuti hamil dan menyusui yang adil, menjadikan ruang laktasi sebagai standar fasilitas publik, memberi subsidi susu, hingga mengatur standar daycare yang profesional. Demi kesejahteraan anak, pemerintah juga perlu menjamin lembaga pendidikan yang sehat, akses literasi, taman bermain, wahana wisata non-komersial, makanan bergizi, dan imunisasi.

Mengupayakan anak-anak tumbuh bahagia, cerdas serta sehat secara fisik maupun mental adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya seorang ibu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini