Kalaupun Nggak Pacaran, Bukan Berarti Harus Nikah Muda

Kalaupun Nggak Pacaran, Bukan Berarti Harus Nikah Muda

Ilustrasi (splitshire/pexels.com)

Salah satu kebiasaan saya di ruang perpustakaan di rumah adalah membereskan majalah-majalah lawas dan buku-buku yang selalu saja berantakan. Ada sebuah majalah yang menggoda saya untuk membukanya kembali.

Majalah itu dibundel, terbit tahun 1950-an. Liberal namanya. Meski bernama Liberal, toh isi majalah ini tak “sebebas” namanya. Bahkan, di dalamnya, saya menemukan beberapa ilustrasi yang mengajak kita beretika “sopan” di tempat umum.

Etika sopan tersebut, mungkin saja tak berlaku lagi sekarang. Sebab, saya tak melihat hal-hal yang digambarkan di dalam ilustrasi itu mewujud hari ini.

Misalnya, ilustrasi seorang perempuan yang membonceng seorang laki-laki dengan sepeda. Keterangan di bawah ilustrasi itu tertulis, “Nona, kalau tidak ada alasan jang mendesak, djanganlah nona mau membontjengkan kawan ataupun saudara lelaki sematjam gambar diatas. Sebab itu kurang sedap dipandangan umum, dan nona akan diketawai.”

Bukan cuma satu. Ada banyak pesan-pesan moral bergambar ilustrasi semacam itu. Selain ilustrasi perempuan berboncengan dengan lelaki, ada pula lelaki dan perempuan yang bergandengan tangan di pasar. Di dalam ilustrasi, orang-orang memandang dengan tatapan aneh ke sepasang kekasih yang bergandengan tangan tersebut.

Lantas, di bawah ilustrasi tertulis, “Kami rasa, memilih tempat jang sesuai untuk bergandengan tangan adalah bidjaksana.”

Oh, betapa. Roda kehidupan terus berputar. Sekarang, hal-hal tadi sudah tak tabu lagi. Kita bisa dengan mudah melihat pasangan muda-mudi bergandengan tangan di pusat perbelanjaan, atau menyaksikan perempuan membonceng lelaki dengan sepeda motor.

Namun, saat ini, kita terusik oleh hadirnya ‘para penjaga moral’ yang merasa paling pantas mengkavling tanah surga. Masih ingat emak-emak yang menegur dua orang pria di atas sepeda motor, yang disangka homoseksual? Lalu, malu karena ternyata pria itu bersaudara. Menegur dahulu, tanpa bicara baik-baik. Malu kemudian.

Atau, pada akhir Desember 2017, kita juga dihebohkan dengan sebuah gerakan yang menamakan diri mereka: Celup alias cekrek, lapor, upload. Gerakan ini mengklaim sebagai kampanye anti-asusila yang digagas untuk mengembalikan fungsi ruang publik yang sesungguhnya.

Bak pahlawan, mereka berseru, “Selamatkan ruang publik kita, pergoki mereka! Laporkan kepada kami.”

Namun, gerakan itu mendapatkan respon negatif dari warganet. Celup disangka memanfaatkan dasar hukum yang keliru, terlebih lagi mereka melanggar etika. Belum lagi mereka mencatut logo dan nama sejumlah media untuk keperluan kampanyenya.

Sekarang, ada sebuah gerakan yang gencar mengurusi jomblo, pacaran, dan nikah muda. Gerakan itu menamakan dirinya Indonesia Tanpa Pacaran.

Indonesia Tanpa Pacaran digagas pada September 2015 oleh seorang penulis bernama La Ode Munafar. Niatnya sih baik. Sang penggagas mengatakan, pacaran itu merugikan, buang-buang waktu, haram, merusak, dan sebagainya. Lalu, apa solusi yang ditawarkan, kalau tak boleh pacaran? Hanya satu: menikah muda.

“Menikah muda membuat setan menangis, berpacaran membuat setan tepuk tangan dan tertawa,” begitu katanya.

Saya mau merespon soal gerakan ini. Pertama, dari nama gerakannya saja sudah mengklaim. Seolah-olah Indonesia bebas dari pacaran. Apakah semua anak muda Indonesia mendukung gerakan ini? Kan, nggak.

Kedua, apakah pilihan menikah muda lebih baik dibandingkan pacaran? Anda bisa cek data di Badan Pusat Statistik (BPS) yang bekerja sama dengan Badan Dunia untuk Anak (UNICEF). Pada 2016, dua lembaga ini merilis laporan pernikahan usia anak. Dalam laporan itu disebutkan, angka pernikahan usia anak atau di bawah 18 tahun masih tinggi di Indonesia, yakni 23%.

Sementara, perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun hanya menurun 7% dalam waktu tujuh tahun. Selain itu, BPS juga mencatat, angka kejadian pernikahan anak lebih dominan terjadi di pedesaan sekitar 27,11% dibanding perkotaan yang sebesar 17,09%.

Belum lagi, dampak yang dipicu dari pernikahan dini. Menurut data BPS, perempuan muda usia 10 hingga 14 tahun mempunyai risiko yang lebih besar untuk meninggal di dalam proses kehamilan dan persalinan ketimbang yang berusia 20 hingga 24 tahun.

Lalu, bayi yang dilahirkan juga memiliki potensi meninggal lebih besar, ada peluang meninggal dua kali lipat sebelum berusia satu tahun. Dampak negatif lainnya adalah memperpanjang masalah sosial yang ada. Mereka yang menikah muda akan mengalami putus sekolah. Lantas, terutama perempuan, akan semakin terdesak dalam urusan perbaikan kesejahteraan.

Saya kemudian berpikir. Bukankah gerakan ini bisa memicu pernikahan usia anak? Maaf, jika saya salah. Namun, slogan “nikah muda” sebaiknya diganti dengan “nikah di usia yang tepat”.

Jangan lupa, nikah bukan sekadar bertemu lalu ijab qabul. Nikah itu butuh perhitungan. Bukan hanya jeprat-jepret di atas pelaminan bersama keluarga dan kawan-kawan, lantas diunggah di media sosial.

Banyak risiko yang dihadapi setelah menikah. Kebanyakan, yang saya dapatkan dari beberapa referensi bacaan, orang yang menikah muda lebih berpotensi cerai. Mereka masih labil dan belum matang untuk membina rumah tangga.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah semua orang yang pacaran berotak mesum, hingga digeneralisir bahwa pacaran itu merusak? Ah, masih banyak yang waras dan pacaran bertujuan untuk lebih saling mengenal satu sama lain.

Pacaran atau tidak pacaran, itu sudah masuk ranah privat. Terserah saja. Tak perlu memaksa orang lain untuk tidak pacaran dan didorong-dorong untuk nikah muda. Apalagi, bawa-bawa fatwa bahwa pacaran itu haram.

Saya kemudian mencari tahu, apakah untuk bisa masuk ke dalam gerakan itu harus bayar? Ya, ternyata memang bayar. Dari informasi di media sosial yang saya baca, kalau kamu mau ikutan gerakan ini, mendapatkan kartu anggota, kamu harus bayar Rp 180 ribu.

Nah, jadi jomblo aja masih kena tarif, life…

1 COMMENT

  1. ahahha kerja 24 jam jadi IRT itu cuma mitos dari kaum2 liberal
    justru jadi IRT bisa menguntungkan, gak hrus lembur, bisa tidur siang (jarang karyawan tidur siang, kalo tidur bisa di tegur atau malah di public-shaming oleh kalian para konsumen), gk tiba2 dipanggil untuk kekantor lagi pas udah pulang.
    apalagi kalo nikah ama orang kaya, behh bisa rekrut pembantu sma babysitter dah :v

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.