Tanggapan tentang Dakwah Pemakaian Hijab yang Lagi Ngetren Itu

Tanggapan tentang Dakwah Pemakaian Hijab yang Lagi Ngetren Itu

Ilustrasi perempuan berhijab (Photo by M.T ElGassier on Unsplash)

Dalam beberapa tahun terakhir, tren memakai hijab di Indonesia mengalami peningkatan. Para artis pun semakin banyak yang berhijab, segala macam tutorial pemakaian hijab oleh para influencer juga begitu marak.

Terlepas dari label hijrah atau tidak, mereka ikut andil dalam menyuntik pola pikir masyarakat bahwa berhijab adalah langkah awal menjadi perempuan muslim yang taat.

Sayangnya, perubahan itu tak selamanya menguntungkan semua perempuan. Sebab, tidak semua perempuan mampu mengenakan identitas keagamaan itu. Mereka seolah-olah menjadi kelompok minoritas baru di tengah masyarakat kita yang amat suka menghakimi orang lain atas nama agama.

Fenomena berhijab atau berjilbab ini tentu tidak lepas dari peran besar para pendakwah, baik yang bergerak offline maupun online. Setidaknya, ada dua tipe khas yang jamak dipakai pendakwah dalam mengkampanyekan hijab, yaitu kebaikan memakainya dan kerugian jika tidak bersedia memakainya.

Karena hijab adalah pakaian ketakwaan yang indah, maka perempuan berhijab kerap digambarkan sebagai perempuan yang memancarkan kecantikan luar dalam. Seolah-olah hijab menjadi salah satu produk kecantikan bagi perempuan muslim. Seakan-akan menjadi standar baru kecantikan di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini.

Baca juga: Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Tidak heran, kita sering mendengar orang berkata, “Masya Allah, dia tambah cantik setelah berhijab.” Atau, “Cantik ya, tapi lebih cantik kalau berhijab.”

Penilaian seperti itu sebetulnya hasil dari penanaman sugesti oleh beberapa pendakwah yang terlampau sering diulang-ulang. Pola seperti ini serupa dengan media iklan dimana mereka menggambarkan wajah perempuan akan terlihat lebih cantik ketika misalnya memakai krim tertentu.

Semakin sering kita mendengar bahwa hijab menawarkan kecantikan, maka ia akan dianggap sebagai sebuah kebenaran tanpa perlu dikaji lebih lanjut. Betulkah jika sebagian besar tubuh tertutupi akan menambah kecantikan? Padahal, kecantikan bersifat relatif dan subjektif.

Kemudian, tawaran yang tidak kalah menarik adalah hijab dipercaya mampu menjauhkan perempuan dari pelecehan seksual. Hmmm, gini ya, perempuan tampak seksi pun bersifat subjektif. Tidak semua laki-laki melihat perempuan dengan pakaian terbuka akan mendadak ‘sange’.

Prinsipnya, birahi itu bisa timbul dengan alasan berbeda-beda, tergantung ketertarikan individunya ke mana. Banyak di antara teman laki-laki saya yang justru bernafsu ketika melihat perempuan berpakaian tertutup. Alasannya, karena mereka bisa berimajinasi ke bagian tubuh yang tertutupi itu.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Saya pernah mendengar penjelasan dari pendakwah perempuan ketika membahas catcalling. Katanya begini, “Setidaknya saat mereka menggodamu, mereka tidak suit-suit tetapi mengucapkan ‘Assalamualaikum’. Jauh lebih sopan, kan?”

Hey, hey, hey, yang namanya catcalling tetap saja bentuk pelecehan seksual. Tubuh perempuan bukan objek yang mesti diganggu dalam bentuk apapun. Mereka berhak mendapat kenyamanan saat berjalan di ruang publik.

Lagipula, penyebab pelecehan seksual bukan hanya dari pakaian, masih banyak faktor lain. Hal ini menandakan bahwa menjual nilai hijab sebagai penangkal pelecehan seksual justru menurunkan tingkat kehati-hatian perempuan terhadap penyebab pelecehan seksual, juga mengurangi perempuan untuk bisa berpikir logis dan sistematis.

Kemudian, yang paling utama dari tawaran berhijab adalah melaksanakan perintah Allah SWT. Hukumnya wajib. Padahal, yang wajib adalah menutup aurat, bukan mengenakan hijab.

Nah, pada umumnya, di Indonesia dikenal batas aurat pada seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Sangat jarang pendakwah mengungkapkan dalil atau pandangan ulama-ulama lain tentang aurat. Semuanya mesti diseragamkan, pola itu yang terjadi sekarang. Makanya, yang sedikit berbeda akan disalahkan karena tidak mengikuti yang umum-umum.

Baca juga: Jenis Hijrah yang Lebih Tepat bagi Orang Indonesia daripada Sekadar Penampilan

Jangankan pandangan lain tentang batas aurat, pandangan terhadap dalil yang menyatakan batas aurat adalah wajah dan telapak tangan saja, kebanyakan mereka hanya menyajikan teks. Boro-boro tafsir dan tingkatan dalilnya. Seolah-olah semua suduh cukup hanya membaca teks dan melupakan konteks tuntutan sosial budaya.

Kenyataannya, batas aurat punya banyak perspektif, bisa saja seluruh tubuh atau sebatas pakaian sopan.

Katanya lagi, jika tidak berhijab, perempuan tidak akan mencium bau surga, berdosa. Lha, apakah mencapai surga hanya dengan satu cara? Atau, apakah niat kita beribadah hanya karena terbayang indahnya surga? Lantas, bagaimana dengan kebaikan lain yang tidak kalah penting, suka menolong, misalnya?

Lalu, dikatakan juga bahwa kalau tidak berhijab, seorang perempuan muslim tak lagi pantas disebut sebagai perempuan muslim atau muslimah. Padahal ya, mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah Rasul sudah cukup menjadikan perempuan sebagai muslimah.

Mereka yang merupakan kelompok-kelompok tertentu menyebut muslimah hanya kepada perempuan yang tampak menutup aurat saja. Plus, label salehah.

Artikel populer: Fenomena Salmafina, Selebgram dan Feminis yang Melepas Hijab

Akibatnya, tawaran-tawaran dalam dakwah berhijab itu malah mengubah paradigma muslim di Indonesia mengenai kebaikan dan keburukan seseorang. Tanpa hijab, kamu dianggap bukan lagi muslimah yang salehah. Kamu dinilai tidak pantas jadi panutan karena membiarkan rambutmu terurai dan dipamerkan ke semua orang. Hufftt…

Dengan begitu, muslimah tanpa hijab ini rentan termarjinalkan oleh kelompok yang merasa jadi mayoritas. Apalagi, oleh kelompok tertentu yang menyatakan dirinya telah ‘hijrah’. Cara menyadarinya cukup sederhana, pernahkah muslimah tanpa hijab dipanggil ukhti???

Memang bukan tugas mudah menempuh cara cerdas dalam menawarkan hijab sebagai identitas agama. Meski demikian, langkah awal yang patut dicoba adalah berterus terang mengenai semua dalil tentang aurat, perkenalkan bahwa pandangan aurat sangat beragam perspektif.

Ayolah, perempuan juga harus membuka pikiran seluas mungkin, sehingga bisa memilih yang terbaik untuk dirinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.