The King: Eternal Monarch (Netflix/Youtube)

Gelombang wabah Covid-19 lagi tinggi-tingginya, namun era new normal sudah dimulai. Bukannya bersenang hati karena bisa kerja dan dapet duit lagi, malah terjebak dalam anxiety. Bukannya makin sehat, malah lebih sering nangis di pojokan kamar.

Lantas, apa solusinya biar hati bahagia dan imun naik? Ya jelas, hindari apapun yang bisa bikin naik pitam, banyak-banyak menyimak ‘keuwuan’. Salah satunya, nonton drama Korea alias drakor!

Tapi memang, nggak banyak drakor dengan kisah cinta yang ‘uwu-uwu’ tapi realistis. Kalaupun ada yang realistis perihal relasi romantis, alih-alih bikin gembira nan bahagia, yang ada justru bikin darah naik karena penuh kekerasan, pengkhianatan, dan kebohongan.

Kalau nonton drakor begitu ngenesnya, apa bedanya dengan mantengin data Komnas Perempuan dan LBH Apik soal kasus kekerasan dalam pacaran dan rumah tangga yang meningkat selama pandemi?

Nah, baru-baru ini, Netflix menyajikan sebuah drakor yang cukup ‘uwu-uwu’. Serial yang sudah tamat ini dibintangi oleh aktor kawakan yang identik dengan maskulinitas. Siapa lagi kalau bukan oppa Lee Min Ho?

Yap, serial The King: Eternal Monarch.

Baca juga: Nonton Drakor Kingdom tentang Politik di Tengah Wabah, Cocok Banget nih!

Pada awal-awal episode, rating drakor ini memang rendah banget karena di luar ekspektasi penonton. Ya gimana, dari kecil kita sudah dicekoki cerita-cerita tentang keluarga kerajaan yang menjalin hubungan asmara dengan rakyat biasa. Apalagi, pemeran utamanya oppa Min Ho, yang selama ini perannya nggak jauh dari penguasa lanang, idola para pencinta K-Drama.

Namun, seiring berjalannya episode, The King: Eternal Monarch malah menampilkan ‘keuwuan’ yang hqq dari Lee Gon (Lee Min Ho) dan Tae Eul (Kim Go Eun). Bikin hati gembira, tapi realistis dan tidak melanggengkan nilai-nilai patriarkis.

Kalau ditelisik, ce ilee, sebetulnya ada beberapa poin ‘keuwuan’ yang sekaligus bisa membuat kita sadar atau lebih sadar, seperti apa sih tanda-tanda hubungan asmara yang sehat?

1. Jatuh cinta pada diri sendiri dulu

Lee Gon dan Tae Eul mengajarkan kita bahwa sebelum meyakinkan diri untuk memulai suatu hubungan asmara, kita harus benar-benar mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu. Siapa kita, peran kita, dan privilese kita. Menjalin hubungan dengan mental yang tidak stabil dan belum berdamai dengan virus corona masalah internal, tentu akan membuat hubungan semakin rumit.

Baca juga: Nonton Drakor tentang Perselingkuhan yang Bikin Pikiranmu Jadi ‘Glowing’

Jadi, sebelum memutuskan untuk jatuh cinta, ada baiknya jatuh cinta pada dirimu sendiri dulu. Pun, seperti Pheya (Raja) Lee Gon yang harus menyelami masa lalunya selama bertahun-tahun sebelum memutuskan jatuh cinta pada kekasihnya. Kamu sudah mengenal dan jatuh cinta pada dirimu sendiri, belum?

2. Hargai batasan-batasan pribadi

Menyusun sebuah batasan dalam berhubungan bukan pertanda relasimu toksik. Justru, mengabaikan batasanmu dan pasanganmu lah yang menjadi sumber masalah. Sering kali, kekerasan dalam hubungan bermula ketika sepasang kekasih mengabaikan batasan-batasan pribadi. Misalnya, batasan privasi dan flirting.

The King: Eternal Monarch menunjukkan bahwa seorang raja sekalipun tidak diizinkan untuk mengatur batasan dari pasangannya. Lee Gon tak pernah memaksa Tae Eul untuk menerima pinangannya. Lee Gon tetap menghormati batasan-batasan yang dibuat oleh kekasihnya. Jadi, apakah relasimu sudah menghargai batasan-batasan itu? Atau, justru merampasnya?

3. Tujuan yang realistis

Boro-boro hidup di dunia paralel yang jauhnya antara ada dan tiada seperti Lee Gon dan Tae Eul, kita yang kadang LDR sebatas Jaksel-Bekasi saja sudah merasa hubungan terlalu jauh dan tidak realistis. Selain khawatir dengan jarak dan ongkos kencan, sering kali kita ditakutkan dengan impian yang tidak selaras.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Kita ingin cepet nikah, pasangan kita maunya pacaran dulu sambil nunggu punya rumah dan mobil. Atau, kita ingin hidup bebas supaya bisa keliling dunia dulu, tapi kekasih kita pengen banget jadi abdi negara.

Begitulah sebuah hubungan, tapi jangan lupa bahwa kita punya cukup akal untuk memahami realistis atau tidaknya sebuah hubungan. Sebab berharap dari hubungan yang tidak realistis hanya bikin dada sesak dan terluka pada akhirnya.

4. Jangan paksa pasangan berkorban untuk kita

Tae Eul yang abdi negara tentu sulit untuk menikah dengan seseorang yang nggak pernah hidup di dunianya. Pun, Lee Gon yang menjadi pemimpin negara, tentu sulit menikahi pasangan yang datang dari tempat lain yang begitu kontras. Sepintas, kita pasti berpikir, salah satu harus berkorban agar bisa bersama.

Namun, keduanya mengajarkan bahwa jangan pernah memaksa pasangan berkorban untuk kita. Sering kali, perempuan dipaksa untuk mengorbankan pekerjaan, karier, dan kehidupannya demi sebuah pernikahan. Apakah akan selalu begitu? Nggak dong!

5. Saling berbagi privilese

Ketika Lee Gon berada di Korea Selatan dan harus mencari pengkhianat yang membunuh ayahnya, Tae Eul sang kekasih yang juga seorang polisi, terus membantu dan membagi privilesenya. Pun, ketika Tae Eul berada di Kerajaan Corea, Lee Gon sebagai raja turut membantu kekasihnya dan mengerahkan semua privilese yang ia miliki untuk menyelamatkan kekasihnya.

Artikel populer: Maunya Tetangga Kayak di Drakor Reply 1988, Nyatanya Tetangga Masa Gitu?

Selain memahami batasan diri, kita juga harus memahami privilese masing-masing. Itu penting untuk melihat sejauh mana kita dapat berbagi dengan pasangan dan sejauh mana hubungan yang dibangun dapat berjalan. Gap privilese yang terlalu lebar tentu akan menjadikan masalah sosial di kemudian hari.

Sebagai contoh, pasangan bisa saja menjadi temperamen karena masalah ekonomi atau persoalan mental. Jika kita punya privilese ekonomi yang kuat dan mental stabil, tentu saja kita harus memahami pasangan.

Sebetulnya poin kelima tidak serta-merta menggambarkan hubungan yang sehat, tentu harus ada faktor kedewasaan, finansial, kestabilan mental, dan keterbukaan. Meski demikian, hal-hal tersebut bisa kita ciptakan.

Memang sih, The King: Eternal Monarch merupakan cerita fiksi fantasi, tapi narasinya tetap mengajarkan kita untuk realistis dalam berhubungan dan pastinya ‘uwu-uwu’ banget. Kamu juga bisa, kok!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini