Tanda-tanda Mulai Bosan dengan Instagram dan Alasan Mengapa Tetap Bertahan

Tanda-tanda Mulai Bosan dengan Instagram dan Alasan Mengapa Tetap Bertahan

Ilustrasi (Elijah O'Donell via Unsplash)

Instagram dan penggunanya ibarat kisah cinta yang enggan berakhir, meski sudah (mulai) terasa membosankan. Bagaimana tidak, hampir seluruh isi dalam fitur IG disesaki konten-konten yang membosankan. Tapi, tetap saja apa-apa IG, apa-apa kamu, eh.

Semua pengguna IG kini berlomba-lomba mengamalkan teori tindakan sosial yang pernah diutarakan Max Weber. Dalam teori itu, ada empat kategori. Pengguna fitur IG masuk kategori tindakan rasionalitas instrumen.

Dalam kategori tersebut, segala tindakan yang dilakukan seseorang didasari pertimbangan untuk mencapai tujuan. Lantas, apa tujuan kebanyakan orang dalam menggunakan ragam fitur di IG?

Ya, apalagi selain membuat mereka yang bukan siapa-siapa merasa menjadi pusat semesta. Sebetulnya mirip dengan media sosial lain, tapi IG yang kini agresif memfasilitasi itu semua. Sudah bukan rahasia lagi banyak netizen yang hijrah dari Facebook dan Twitter ke IG. (( hijrah ))

Padahal ya, tidak semua punya pesona (atau upaya yang cukup) untuk menjadi pusat perhatian. Ujung-ujungnya, kebanyakan pengguna mengikuti formulasi yang sudah berjuta kali dilakukan. Gimana gak bosan, coba?

Mulai dari fitur post-nya. Semula, IG begitu segar karena menjadi media sosial pertama yang menawarkan konten visual. Waktu awal banget rilis, fitur efek foto ala foto-foto yang diambil dengan kamera lawas menjadi daya tarik utama.

Kala itu, orang-orang membagikannya dengan maksud agar terlihat gemes saja. Namun, seiring bertambahnya pengguna, posting-an foto-foto di IG tak lagi soal bersenang-senang.

Pelan-pelan, mulai ada yang mencoba untuk merusak kebahagiaan kita itu dengan membagikan foto-foto berdekorasi mewah dan tentu saja kelewat tinggi untuk segelintir orang. Alias, tukang pamer.

Pada akhirnya, mereka mendapatkan ruang. Sementara, yang kadung kecanduan dengan IG menjadi merasa tak percaya diri. Ujung-ujungnya, pengguna lain jadi ikut-ikutan dan dari situlah lahir istilah Instagrammable.

Kalau trennya lagi ke hutan pinus, maka ke hutan pinus lah mereka demi terlihat seperti pecinta alam. Padahal, hutan pinus itu jahat, karena menyedot sumber air untuk tanaman di sekitarnya.

Kalau trennya foto di pameran, maka fotolah mereka di sana tanpa memikirkan jerih payah senimannya. Terus, kalau trennya makan mewah, ya ikut-ikutan juga. Bahkan, urusan traveling pun harus dibumbui dengan kriteria Instagrammable.

Itu mau liburan atau mau jadi full-time budak feed, sih?

Fitur Instagram Story sama saja isinya. Sekadar diunggah agar dibilang punya kehidupan. Kalau tidak isinya tentang mereka yang sedang mencoba hype dengan nongkrong di tempat terbaru, ya lagi-lagi posting film yang lagi ditonton tanpa peduli dengan undang-undang pembajakan.

Atau, posting kegiatan-kegiatan lainnya yang sedang tren sampai lupa bahwa tanpa di-instagram story-kan pun, Tuhan sudah melihat. Astaghfirullah.

Fitur Instagram Live dalam Instagram Story juga tak begitu memikat, kecuali memang penggunanya sangat populer. Lagipula, siapa sih yang selalu ingin tahu kegiatan orang yang setiap hari ketemu? Ya, malesin sih, maka berhentilah melakukannya. Sementara, fitur IGTV terasa seperti YouTube yang gagal karena tidak populer.

Lantas, bagaimana dengan fitur Ask Me yang sempat bikin polemik? Setelah ribut-ribut apakah maksud Ask Me itu bertanya atau ditanya, semuanya jadi hambar.

Banyak yang kira IG ini punya bapaknya, sampai harus jawab semua pertanyaan di Instagram Story? Apa mereka tidak tahu bahwa di bagian atas Instagram Story tidak “—–“ lagi, melainkan sudah “….” alias susah di-skip?

Cobalah menjawab pertanyaan yang tidak biasa, gitu. Jangan soal keseharian atau sedang deketin siapa saja. Basi dan sudah pasti cepat ditinggalkan.

Sekadar saran, jawablah pertanyaan yang filosofis. Semisal, kenapa manusia terlahir di dunia? Atau, kenapa tahu kotak bisa berubah jadi bulat, sementara bumi tidak bisa berubah dari bulat menjadi datar?

Kan, modyar… Haha.

Lantas, tadi katanya, hampir semua fitur digunakan dengan pola yang monoton dengan tujuan yang sama. Jadi, apa dong yang bikin kamu IG tetap sulit untuk ditinggalkan?

Pertama, fitur video. Fitur video ini masih berisi konten yang sesungguhnya sejalan dengan kategori tindakan rasionalitas instrumen ala Max Weber, tapi dikemas dengan menarik.

Semula, fitur posting-an video berdurasi 15 detik. Masih ingat jenis komedi berdasarkan lagu Kunto Aji “Sudah Terlalu Lama Sendiri”? Atau, musisi-musisi yang suka cover lagu via fitur video di IG? Ya, masa lalu memang membahagiakan, sayang.

Tapi, seiring waktu, posting-an video diperpanjang menjadi 60 detik. Dari situ, malah tersedia banyak ruang dan waktu bagi pengguna IG untuk bereksplorasi.

Dengan 60 detik, pengguna IG jadi tahu Hotman Paris ngapain aja di Kopi Joni! Dengan 60 detik, pengguna IG jadi tahu kasus apa aja yang sedang ditangani Hotman Paris!

Lah, kenapa Hotman Paris terus sih ini? Ya sudah, ini ada rekomendasi lainnya. Ada juga humor ala Spontan dari @minangkocak atau animasi komedi dari @dalangpelo atau video Indonesia lawas dari @videosejarah.

Lalu, kedua. Ini adalah yang utama. Kolom komentar! Kolom ini selalu terasa seperti teori Butterfly Effect yang pernah dicetuskan oleh Edward Lorenz. Teori itu menyebutkan bahwa satu kepakan kupu-kupu bisa bikin tornado di wilayah yang teramat jauh.

Sekarang, kita ganti kepakan kupu-kupu dengan posting-an di IG, terutama dari figur yang populer. Kemudian, ganti tornado dengan komentar netizen.

Kalau malas follow, googling saja dengan kata kunci ‘dihujat netizen’, maka kamu akan temukan banyak nama selebritas yang sudah menjadi ‘korban’ di IG.

Terkadang itu menggelikan, karena mereka bisa berantem atas keinginan figur publik untuk melawak. Terkadang meresahkan, karena mereka menggunakan kata-kata barbar kepada sosok yang harusnya juga dilindungi.

Ya, jadi begitulah, isi dari fitur-fitur IG hari ini. Sudah tahu (mulai) membosankan, tapi tetap saja sayang. Kamu dengan pasanganmu begitu nggak?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.