Kenapa Takut dengan Vagina?

Kenapa Takut dengan Vagina?

Ilustrasi (Timokefoto via Pixabay)

Beberapa waktu lalu, seorang laki-laki keberatan atas penggunaan kata payudara dan vagina dalam sebuah diskusi. Dua kata yang seharusnya normal saja digunakan, seperti ketika kita menggunakan kata mata, tangan, hati, ginjal, kaki, ataupun punggung.

Kata vagina rupanya memicu perdebatan moral atas apa yang pantas dan tidak pantas diucapkan dalam sebuah diskusi. Bahwa seorang perempuan menyebut anggota tubuhnya sendiri, ternyata bisa membuat seorang laki-laki merasa berkuasa untuk menentukan apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh diucapkan.

Tentu saja kejadian yang saya alami bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada 2012, dua politisi perempuan Partai Demokrat dikritik oleh politisi laki-laki Republikan di Michigan, Amerika Serikat, karena menggunakan kata vagina saat membahas peraturan mengenai aborsi.

Seperti kolega laki-laki dalam diskusi, politisi konservatif dari Partai Republik menganggap vagina adalah kata yang offensive, yang bisa diartikan sebagai kata yang dipandang menjijikkan, menyerang, menghina, atau tidak sopan.

Padahal, seperti halnya penis, paru-paru, atau ginjal, vagina adalah kata yang benar secara medis. Vagina hanyalah salah satu anggota tubuh yang tidak seharusnya dipandang lebih menjijikkan dari bagian tubuh lain.

Lalu, kenapa menyebut vagina dianggap tidak bermoral? Kenapa masyarakat sebegitu takutnya pada vagina?

Bisa jadi ketakutan tersebut tercipta karena si penerima pesan, baik si politisi Partai Republik atau kolega laki-laki dalam diskusi, melihat vagina dan payudara melulu dekat dengan kegiatan seksual, alih-alih sekadar bagian dari anggota tubuh.

Vagina dan payudara sering kali dilihat sebagai bagian tubuh yang hanya ada untuk diobjektifikasi. Seolah-olah vagina hanya berguna untuk kegiatan pemuasan kebutuhan seksual laki-laki.

Sebab itu, mengucapkan vagina seolah menjadi tabu. Mungkin karena mereka khawatir akan berpikiran yang tidak-tidak, jika mendengar kata vagina. Mungkin jadi takut membayangkan, lalu puasanya batal.

Padahal, vagina tak seharusnya melulu dikaitkan dengan kegiatan seksual dan pemuasan kebutuhan laki-laki. Vagina ada lebih dari sekadar sebagai pemuas kebutuhan laki-laki.

Pertama-tama, vagina adalah milik perempuan. Laki-laki harus berhenti melihat seksualitas perempuan hanya sebatas pelengkap hasrat laki-laki, dan masyarakat harus berhenti menabukan seksualitas perempuan.

Seperti halnya laki-laki, perempuan juga memiliki hasrat seksualnya sendiri. Hal ini adalah wajar dan tidak seharusnya dilihat sebagai sesuatu yang jorok.

Pembungkaman terhadap penggunaan kata vagina dan keterbiasaan melihat vagina semata sebagai alat pemuas kebutuhan seksual bagi laki-laki telah memberikan stigma terhadap kesehatan reproduksi dan seksualitas perempuan. Membicarakan soal vagina menjadi tabu, hingga akhirnya dihindari sama sekali.

Lantaran tabu, tentu saja sejak kecil kita dibiasakan melihat vagina sebagai sumber rasa malu dan sebagai sesuatu yang kotor, alih-alih sebagai bagian berharga dari anggota tubuh. Kita diajarkan untuk malu atas vagina, malu atas seksualitas kita.

Hingga akhirnya, tak banyak percakapan soal kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi, terutama dengan orang tua yang semestinya menjadi sumber pengetahuan pertama.

Persoalan ini tidak eksklusif terjadi di Indonesia saja. Survei yang dilakukan oleh The Eve Appeal menemukan bahwa 65% responden, yang terdiri atas perempuan muda Inggris, kesulitan menyebutkan kata vagina.

Hal ini kemudian ditemukan berkontribusi pada kenyataan bahwa setengah dari responden perempuan muda Inggris tidak dapat menunjukkan letak vagina dalam diagram anggota tubuh dan alat reproduksi.

Persoalannya kemudian menjadi lebih serius. Sepertiga perempuan muda di Inggris juga cenderung menghindari dokter untuk memeriksa kesehatan reproduksi, lantaran stigma seputar vagina dan kesehatan reproduksi.

Padahal, memeriksakan kesehatan reproduksi dengan rutin adalah salah satu cara paling jitu untuk menghindari kanker. Namun, jangankan mau ke dokter, mendengar kata dokter kandungan saja sudah langsung khawatir distigma tidak perawan, hamil di luar perkawinan, atau berpenyakit kelamin.

Karena itu, kita harus menghentikan pola komunikasi yang mempermalukan vagina sebagai anggota tubuh. Keluarga sebagai lembaga sosial terkecil harus mulai menggunakan kata vagina dengan benar, dan memulai perbincangan yang tepat mengenai alat kelamin.

Ibu harus berhenti mengajarkan anak perempuannya bahwa vagina adalah sumber kotoran yang memalukan dan membingungkan. Karena setiap anak perempuan harus paham mengenai anatomi tubuh mereka, termasuk soal vagina.

Pengetahuan soal vagina juga menjadi penting untuk menghindari pelecehan seksual. Apalagi, satu dari tiga anak perempuan mengalami pelecehan sebelum usia 18 tahun.

Kebanyakan dari mereka sulit mengungkapkan apa yang terjadi, lantaran selubung rasa malu tentang vagina, atau bahkan tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi karena tidak paham apa itu vagina.

Kita juga harus berhenti memupuk komentar yang merendahkan tentang tubuh dan kelamin perempuan. Anak perempuan tidak seharusnya tumbuh dengan rasa malu atas tubuh mereka.

Pertama-tama, kita harus mulai mengajarkan vagina sebagai organ penting dalam penciptaan manusia, dan payudara sebagai sumber nutrisi pertama manusia.

Percakapan terbuka mengenai fungsi organ-organ ini dapat membantu menghindarkan seksualisme dan objektifikasi berlebihan atas vagina dan payudara.

Pada gilirannya, keterbukaan soal vagina dan seksualitas perempuan dapat menghindari pengobjektifikasian terhadap perempuan secara umum dan memberikan kepercayaan diri terhadap anak perempuan.

Sudah saatnya berhenti jadi laki-laki bigot yang ketakutan pada vagina. Atau, sebaliknya, yang terlalu cepat ereksi saat mendengar kata vagina. Juga sudah waktunya bagi perempuan untuk lebih percaya diri terhadap tubuhnya, tanpa seksualitas dan objektifikasi yang berlebihan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.