Ilustrasi kehamilan. (Photo by Jonathan Borba on Unsplash)

Perempuan dengan kehamilan adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Karena bisa hamil memang kodrat perempuan. Tapi mau hamil atau tidak, itu adalah pilihan masing-masing sebagai pemilik tubuh yang merdeka. Mau punya anak berapapun, ya terserah perempuan. Sebab mereka yang mengalami proses kehamilan dan melahirkan.

Tapi, sering kali kehamilan dan melahirkan dianggap sebagai perjuangan seorang perempuan sejati. Alhasil, segala kesulitan, kelelahan, dan kesakitan tidak boleh dikeluhkan, karena perempuan sejati tidak mengeluh. Harus bahagia menerima kodrat, katanya.

Padahal, ada yang namanya morning sickness, gampang mual dengan bau-bauan, kelelahan yang berkepanjangan, gangguan selera makan, tidur tidak nyaman, kaki bengkak, inkontinensia, pinggang dan punggung sakit plus pegal melulu, mudah sakit gigi, emosi tidak stabil, sakitnya kontraksi, induksi, jahitan, waww banyak banget.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Lantas, nggak boleh mengeluh sama sekali demi label ‘perempuan sejati’ gitu? Kepala kejedot pintu aja kita melenguh kok, eh mengeluh. Lagi pula, romantisisasi atau pengidealan semacam itu jelas bias. Tak hanya menganggap perempuan seperti benda mati yang tidak merasakan sakit ataupun keluhan lainnya, tapi juga secara tidak langsung menganggap perempuan lain – yang tidak hamil dan melahirkan – bukan seorang perempuan sejati.

Jangankan mengeluh, menangis saat emosi tak karuan pun boleh aja kok. Nggak lebay dong. Karena pada dasarnya kehamilan dan melahirkan tidak ada yang mudah. Kalau mudah, tidak akan ada keluhan atau gangguan seperti yang tadi. Tak akan ada catatan angka kematian ibu hamil dan melahirkan. Sebab menurut BKKBN, ada sekitar 4.100 kasus kematian ibu hamil dan melahirkan pada 2019. Lalu, pada 2020, angkanya naik menjadi 4.400 kasus.

Jadi, keluhan perempuan hamil dan melahirkan itu valid. Jangan dibungkam, mending kasih pelukan.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Lagi pula, kehamilan dan proses melahirkan yang dialami perempuan satu dengan lainnya jelas berbeda-beda. Jangankan itu, kehamilan dan melahirkan anak pertama, kedua, dan seterusnya oleh perempuan yang sama juga berbeda-beda kok situasi dan kondisinya.

Saya sendiri melewati proses kehamilan dan melahirkan sebanyak dua kali. Saat hamil anak pertama, saya masih bisa bekerja, menyetir, hingga sendirian pergi ke luar kota – meskipun digempur perasaan tak karuan, mulai dari morning sickness hingga pinggang pegal dan mual-mual sepanjang hari. Proses melahirkannya pun tidak mudah. Lalu, pada kehamilan anak kedua, hampir tak bisa beraktivitas alias harus bed rest.

Di sisi lain, banyak juga perempuan lain yang bahkan lebih dari itu, harus setengah mati menjalani kehamilan dan melahirkan. Tapi sayangnya, masih ada orang-orang yang tak bisa berempati. Tak heran, ada yang sampai depresi saat hamil atau setelah melahirkan karena tekanan dari orang-orang sekitarnya, termasuk keluarga. Misalnya, dengan membanding-bandingkan pengalaman mereka saat hamil dan melahirkan.

Baca juga: Seks Tidak Mesti Hamil, sekalipun Menikah

Apalagi, kalau ada perempuan yang melahirkan secara sectio caesarea (SC) atau operasi sesar, atau mengalami baby blues hingga postpartum depression (PPD). Beuuhhh, segala macam ‘nasihat’ bakal dilontarkan bak teror kepada perempuan yang baru melahirkan tersebut.

Stigma bahwa perempuan yang melahirkan secara sesar adalah perempuan manja masih melekat erat di masyarakat kita. Sama halnya dengan perempuan-perempuan yang mengalami baby blues hingga PPD, mereka dinilai sebagai perempuan lemah iman, karena dianggap tidak bisa bersyukur dan belum siap menjadi seorang ibu.

Ayolah, pasti kalian sering mendengar kalimat seperti ini saat menjenguk seorang kerabat atau teman yang habis melahirkan: “Lahirnya normal atau sesar? Kok sesar sih, kenapa emangnya? Nggak kuat atau takut sakit? Padahal aku dulu ngelahirin normal juga bisa kok.”

Dan yes, betul sekali, masih ada ibu yang sinis kepada anak perempuannya atau menantunya karena tidak melahirkan anak secara ‘normal’ seperti dirinya. Begitu juga dengan baby blues atau PPD, banyak yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, drama bin lebay, karena mereka mengklaim tidak mengalami baby blues atau PPD waktu dulu melahirkan. “Dulu, bla bla bla…”

Artikel populer: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Padahal, tidak mengalami bukan berarti tidak ada, lantas orang lain yang mengalami dianggap mengada-ada. Sebab kesakitan dan kelelahan saat hamil dan melahirkan itu nyata.

Ketahanan tubuh serta psikis setiap perempuan juga berbeda-beda saat hamil dan melahirkan. Jadi, bisa nggak sih kita berhenti meromantisisasi kehamilan dan melahirkan dengan istilah perjuangan menjadi perempuan sejati?

Karena perempuan sejati adalah mereka yang mau menyediakan bahu dan uluran tangan kepada perempuan lain yang membutuhkan, tanpa kecuali, tanpa stigma ataupun justifikasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini