Tafsir Bebas Lomba Tujuh Belasan, Mana yang Paling Satire?

Tafsir Bebas Lomba Tujuh Belasan, Mana yang Paling Satire?

Foto: Hidayat Adhiningrat

Hari kemerdekaan Republik Indonesia biasanya menjadi momen hajatan besar bagi rakyat seantero negeri. Tapi, tolong, kesampingkan dulu perdebatan apakah yang benar hari kemerdekaan atau tanggal kemerdekaan?

Tapi memang sih, kalau hari berarti jawabannya Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, atau Minggu. Jadi kapan hari kemerdekaan Indonesia? Hari Jumat.

Ah sudahlah, intinya setiap tanggal 17 Agustus – tuh kan tanggal bukan hari – selalu diadakan berbagai macam lomba oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang khayya maupun yang missqueen.

Tapi, tahukah kamu, kalau jenis lomba yang sering digelar di kampung-kampung itu, yang dianggap remeh-temeh oleh sebagian kalangan, justru memiliki nilai filosofis tersendiri? Udah kayak filsuf nih.

Baiklah, mending kita langsung simak saja.

Balap Karung

Ini lomba paling bikin hati nyesek. Jenis karung yang dipakai adalah karung goni, yaitu karung yang biasa dipakai untuk menyimpan beras. Di kulit terasa gatal. Karena kasarnya minta ampun.

Tapi yang harus diingat pada zaman penjajahan dulu, rakyat Indonesia sering memakai karung goni sebagai pakaian. Mereka menjahit baju dari karung goni.

Konon, tren penggunaan karung goni sebagai bahan material membuat pakaian itu marak ketika Jepang mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Pemerintahan Hindia Belanda. Sulit sandang, sulit pangan, dan tentu sulit papan.

Tetapi penderitaan itu ternyata menghasilkan kreativitas dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk membuat lomba balap karung. Melompat secepat mungkin untuk mencapai garis finis. Agar kita ikut merasakan betapa perjuangan menuju kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari tren karung goni.

Mungkin saja, saat itu pakaian berbahan karung goni mungkin masuk kategori hypebeast di kalangan rakyat Indonesia. Ya kali. Boro-boro hypebeast, bisa menutup aurat tidak kedinginan saja sudah syukur.

Makan Kerupuk

Foto: Hidayat Adhiningrat

Ini lomba paling satire. Penderitaan rakyat Indonesia terpapar secara tersurat maupun tersirat dalam lomba ini. Tanganmu diikat ke belakang. Pergerakanmu dibatasi. Pemikiranmu dibatasi.

Kemerdekaanmu entah kapan bakal kau jumpai. Polah tingkahmu diawasi. Gerak-gerikmu senantiasa dicurigai. Ide-idemu dianggap khianat dan berontak. Padahal yang sedang diperjuangkan adalah kesetaraan hak.

Makan yang paling tidak enak bukan makan makanan basi. Tetapi makan sambil kepala mendongak ke atas sebagaimana lomba makan kerupuk ini. Padahal itu hanya sekadar kerupuk. Bukan pizza, bukan spageti, bukan donat merek impor. Itu kerupuk. Yang di kota Solo beli Rp 5.000 dapat 12 biji.

Dan, makan kerupuk sangat tidak instagrammable. Belum pernah ada netizen pemburu stok foto Instagram mengunggah sedang makan kerupuk dengan caption “makan dulu gaes”.

Panjat Pinang

Foto: Hidayat Adhiningrat

Lomba yang sangat tidak cocok untuk laki-laki yang suka berdandan. Mungkin tulisan tentang ‘Mengapa Sekarang Makin Banyak Laki-laki yang Berdandan?’ tidak menjadikan lomba panjat pinang sebagai bahan kajiannya.

Lagian buat apa? Lomba panjat pinang diperuntukkan bagi laki-laki yang kurang peduli soal dandan. Kok dandan, pakai baju saja kalau bisa seminimalis mungkin. Cukup celana pendek. Karena mereka, para lelaki itu, tahu kosmestik mana pun tak sanggup menandingi keganasan oli bekas.

Lomba panjat pinang mengajarkan pentingnya kebersamaan. Bahwa kemerdekaan yang diraih sekarang ini tidak luput dari kekompakan tim. Semua harus satu suara; Merdeka! Meski nyawa sebagai taruhannya.

Perjuangan memanjat pinang atau bambu yang dilumuri oli atau lumpur mengingatkan betapa berat perjuangan orang-orang dulu untuk meraih kemerdekaan. Mungkin akan lain cerita cuitan di Twitter, jika kita masih dalam penguasaan penjajah.

@rakyatjelata: “Lunch dulu gaes. Nanti lanjut lagi jalan Anyer-Panarukannya.”

@penjajah: “@rakyatjelata HEH! SIAPA YANG SURUH ISTIRAHAT!”

@rakyatjelata: “@netizenbudiman, tolong kamiiiii…”

@netizenbudiman: “ENYAH KAU DARI SINI WAHAI PENJAJAH!”

Begitulah tafsir bebas untuk lomba-lomba terpopuler ketika tujuh belasan. Sebenarnya masih banyak jenis lomba-lomba lainnya yang menarik untuk dibahas. Tetapi tiga itu mungkin sudah cukup untuk memakili penderitaan rakyat Indonesia ketika itu.

Lomba bukan sekadar lomba. Di dalam lomba ada upaya untuk terus menghargai sejarah. Menghargai setiap jerih payah bahkan tetesan darah. Seperti kata Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Dan, jangan sekali-kali meremehkan komentar netizen yang budiman.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.