Orang-orang Syirik dan Murtad di Sekeliling Kita

Orang-orang Syirik dan Murtad di Sekeliling Kita

Ilustrasi keimanan (crosswalk.com)

Saya dan anda, yang beragama, bersepakat bahwa syirik adalah dosa besar. Ia tidak bisa diampuni kecuali dengan bertaubat. Tapi beragama juga tidak menjamin kita akan masuk surga. Surga adalah hak Tuhan sepenuhnya.

Kita juga tahu bahwa murtad adalah dosa. Hukuman terberat dari murtad, bagi kebanyakan dari kita, adalah kematian.

Tapi saya yakin, kita bersepakat satu hal, bahwa murtad tak harus dihukum mati. Sebab, seseorang bisa saja bertobat. Jika kita percaya konsep Keadilan Ilahi dari Murtadha Mutahhari, kita tahu ada keselamatan di luar Islam. Ia adalah hikmah.

Dalam sebuah artikel berjudul “Mestikah Bunda Teresa Masuk Neraka”, ia berargumen tentang keadilan Ilahiah, hikmah, dan kebesaran Tuhan terhadap hambanya.

Tapi apakah dengan membiarkan syirik dan orang murtad tidak berbahaya? Bagaimana jika ia mempengaruhi, merayu, mengajak, atau memanipulasi anak-anak kita, keluarga kita, pacar kita, untuk jadi syirik dan murtad? Apakah sebaiknya orang murtad dan syirik itu dihabisi saja? Atau dipaksa tidak jadi murtad?

Kita tidak khawatir anak-anak jadi syirik dan ikut murtad, karena kita yakin pada pendidikan sang anak. Kita juga tahu mereka sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang baik dan benar, juga salah yang mesti dihindari.

Lagipula, yang dihukum mati adalah orang murtad yang mengajak syirik. Jika tidak mengajak menjadi murtad atau syirik, ya seharusnya gak apa-apa. Islam itu agama kedamaian, gak ujuk-ujuk membunuh atau menghukum tanpa alasan.

Apakah orang murtad akan kita jauhi? Saya kira kita perlu sepakat bahwa mereka berhak hidup dan keputusannya menjadi murtad adalah hak pribadinya. Siapapun berhak menjalani hidup yang ia anggap paling benar, dengan catatan, ia tidak memaksakan jalan hidupnya itu kepada orang lain dengan ancaman atau manipulasi.

Iman yang baik bagi saya lahir dari keraguan. Ia harus muncul dari pergulatan yang hebat antara kepercayaan, keyakinan, syak wasangka, dan rasa ingin tahu. Iman bukan sesuatu yang turun dari langit, lalu begitu saja diterima tanpa ada usaha untuk mengkritisi, membongkar, dan mencari tahu.

Iman yang hanya disuapkan tak bisa dipertanggungjawabkan oleh diri sendiri, karena ia bersumber dari orang lain yang tak pernah kita ketahui dari mana berasal. Tapi tentu saja, iman yang baik tidak lahir dengan diam. Ia adalah usaha dinamis dari manusia untuk memunculkan hakikat kehidupan.

Iman melahirkan kekuatan untuk bisa menghadapi hidup. Ia bisa bernama apa saja. Ia bisa bernama agama, sains, estetika, atau filsafat. Iman adalah usaha untuk memperoleh keparipurnaan hidup.

Mendefinisikan iman dalam kerangka agama hanya akan membatasi kita dan kekuatan yang berasal darinya. Sebagai muslim, iman berdasarkan kepada apa yang menjadi perintah Allah dan laku hidup Muhammad.

Saya percaya bahwa agama ini adalah agama yang mulia. Agama perdamaian, meski banyak yang mengaku memeluk agama ini melakukan sebaliknya.

Agama ini adalah agama yang teduh, meski banyak pemeluknya lebih suka bersitegang perihal pendapat. Agama santun, meski banyak pemeluknya bermuka masam. Agama mulia, meski banyak pemeluknya bersikap hina. Dan, agama yang mengutamakan nalar juga nurani, meski banyak pemeluknya yang gagal paham.

Iman saya adalah cara saya. Saya percaya bahwa beragama tidak harus berwajah muram, memaksa, dan bertikai. Kesalihan laku dan sikap toleran lebih penting daripada zuhud pada ritus yang berujung pada merasa benar sendiri.

Saya pun percaya bahwa sikap tolong menolong dan bersikap adil lebih baik daripada beragama secara membabi buta. Ajaran agama yang bertentangan dengan hati nurani dan akal sehat harus ditentang dengan cara mengkritisinya.

Saya percaya bahwa Allah dan Nabi Muhammad tak akan mengajarkan keburukan, sehingga jika ada keburukan pada ajarannya, saya harus mencari tahu sendiri dan membuktikan bahwa hal itu tidak benar.

Keimanan tidak boleh dipaksakan. Ia harus lahir dari rahim pemikiran dari kepala masing-masing manusia. Ia tidak boleh disebarkan dengan kekerasan dan pemaksaan. Ia tak boleh diberikan sebagai sebuah perintah yang tunggal tanpa menyediakan ruang perbedaan tafsir.

Ia pun harus lahir dari usaha kebaikan bersama dan pemahaman bersama. Karena tidak ada satu manusia pun, dan tak akan pernah ada satu manusia pun, yang berhak menghakimi yang lain dengan label sesat atau keluar dari ajaran karena perbedaan faham.

Agama yang saya pahami lahir dari usaha sendiri. Bukan dari doktrin dan paksaan dari orang lain. Saya mencari dan belajar, meragu dan bertanya, kecewa dan tertegun, marah dan menunggu, semua itu melahirkan apa yang saya yakini sebagai Islam.

Saya percaya setiap manusia menanggung dosa dan pahalanya sendiri-sendiri. Jika seseorang tersesat, biar Allah yang menghakimi tindakan itu, bukan manusia. Jika seseorang terselamatkan karenanya, biar Allah yang memberikan hadiah, bukan manusia.

Saya berusaha mencari tahu sejarah agama saya. Memahami konteks dan teksnya. Karena keselamatan tidak melulu lahir dari doa-doa. Keselamatan bisa didapat dari usaha mencari tahu.

Dan, beriman pada satu agama bukan berarti tertutup dan menjadi statis. Keimanan berkembang dari usaha untuk terbuka dan belajar dari yang lain. Ia bisa saja sains, filsafat, seni, dan sastra. Ia bisa saja berasal dari agama lain atau bahkan mereka yang tak beragama.

Kebijaksanaan yang lahir dari banyak sumber akan menjadi kekuatan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Sementara eksklusivitas hanya akan memberikan kita dogma buta dan kaca mata kusam yang membuat masa depan menjadi muram.

  • Soni Tomi

    tapi mungkin harus baca kisah Abu Thalib, Paman Rasulullah SAW yang merupakan Garda Depan pelindung Nabi dan penghibur nabi..sayangnya akhir hidup sang paman tidak beriman kepada nabi…lalu dimanakah sang paman di neraka atau Surga??? silahkan baca sendiri untuk kelanjutannya