Oh Syahrini, Oh Syahroni…

Oh Syahrini, Oh Syahroni…

Syahrini (instagram.com/princessyahrini)

Dari sekian banyak nama, tiba-tiba kita dihadapkan pada dua nama yang mirip dengan dua kisah ‘penyesalan dan permohonan maaf’ yang layak dicermati. Yup, ada nama Syahrini yang disorot netizen – yang selalu benar – karena unggahan di Monumen Holocaust, Jerman.

Kedua, tiba-tiba muncul nama Syahroni Daud. Pria inilah yang bikin iri kaum Adam se-Indonesia Raya, bikin patah hati nasional tempo hari yang muncul di salah satu video viral tentang telur palsu. Syahroni menjadi seorang pakar telur dengan jawaban-jawaban yang sangat melecehkan pola pikir ilmiah.

Syahrini alias Princess Syahrini alias Inces terlebih dahulu menyampaikan klarifikasinya melalui unggahan bertuliskan Dear All My Love For You Is Endless, yang dilengkapi kepsyen panjang, berbahasa Inggris, ditulis di Budapest, dan setiap kata diawali dengan huruf kapital.

Untung pakai bahasa Inggris, coba kalau bahasa Indonesia? Netizen pasti sudah memanggil Ivan Lanin.

Oh ya, saya sebut kata-kata itu sebagai klarifikasi, karena tidak ada kata maaf dalam unggahan tersebut, baik dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, maupun bahasa Wakanda.

Dalam unggahan yang tidak bisa dikomentari karena dipagari itu, Inces yang sudah pindah dari Berlin ke Budapest secara panjang lebar menjelaskan soal postingan-nya yang menuai kritik.

Bagian yang mungkin bisa dikategorikan sebagai penyesalan adalah kalimat I Now Understand That This Was Not Appropriate. Inces juga menjelaskan soal definisi ‘bagus’ dalam bahasa Inggris hingga concern-nya soal Hak Asasi Manusia (HAM).

Sedangkan Syahroni menjadi bagian dari penyelidikan polisi perihal isu telur palsu. Sebelum itu, tanpa diketahui identitasnya, video Syahroni sedang beraksi di pasar tersebar begitu luas. Syahroni bak seorang pakar telur palsu dengan mempraktikkan cara mendeteksi telur palsu dan menjatuhkan vonis bahwa telur-telur yang ada di pasar itu palsu.

Luar biasanya, dalam atraksinya di pasar, dia didukung oleh seseorang berbaju PD Pasar Jaya. Bagi yang nonton videonya, pasti juga mendengar sebagian ibu-ibu memuji Syahroni. “Wah, untung bapak jeli, ya.”

Jeli-jeli gundulmu.

Dalam pemberitaan di media arus utama, Syahroni menyampaikan permohonan maafnya dalam jumpa pers di Kantor Unit PD Pasar Johar Baru, Jakarta. Pria berusia 49 tahun itu mengaku mendapat informasi soal telur palsu dari pesan berantai di WhatsApp.

Maka jangan heran ketika di dalam video itu ada pertanyaan, “Telur palsunya terbuat dari apa?” Syahroni bisa tegas menjawab, “Bahan kimia, sudah banyak beredar di WA.” Woii… bahan kimia apa yang beredarnya di WA?

Duh, rupanya berbekal kabar palsu tentang telur palsu yang diterimanya di WA, Syahroni mengetes telur bagus yang dibeli anaknya dari jatah Kartu Jakarta Pintar (KJP). Yang namanya telur bagus, kuningnya memang kental, maka tertuduhlah telur bagus itu sebagai telur palsu. Gile, telur saja difitnah!

Ironisnya, dalam pemberitaan media perihal permintaan maafnya, Syahroni berkata, “Ilmu saya sangat sedikit dan telur palsu yang beredar di masyarakat ini benar-benar asli, tidak ada yang palsu.” Ingin ku berkata kasar, “Lah, ngana tahu ilmu sangat sedikit, ngapain pakai acara praktik di pasar?”

Begitulah. Kita kebetulan mendapati dua orang bernama mirip, melakukan suatu hal yang dianggap salah oleh orang lain, karena ketidaktahuannya.

Syahrini, yang jumlah pengikutnya di IG enam kali lipat dari pemilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno, tidak tahu bahwa ada hal-hal yang harus diperhatikan saat berada di Monumen Holocaust.

Sedangkan Syahroni – sebagaimana banyak orang yang kerap bereaksi berlebihan pada berita palsu (fake news) dan kabar bohong (hoax) yang disebarluaskan lewat WA – sebetulnya tidak tahu, tapi merasa paling tahu. Lha, ini ngomongin tahu atau telur?

Memang sih, ada banyak hal yang tidak kita ketahui di dunia ini, tinggal bagaimana kita seharusnya mencari tahu. Soal gebetan saja kita mencari tahu dengan stalking di akun media sosialnya, kok. Pakai akun palsu lagi. Eh?

Syahrini sebenarnya punya peluang untuk sekadar posting foto di spot lain pada Holocaust tanpa perlu menambahkan kata ‘bagus’. Syahroni apalagi, dia punya peluang untuk mendiamkan pesan WA itu, eh, malah memilih menjadi ‘pakar telur palsu’ dan tampil di pasar pula.

Sebagai manusia yang budiman sudah selayaknya kita menerima penyesalan Syahrini maupun permintaan maaf dari Syahroni. Dan, selayaknya kita juga belajar untuk sedikit lebih cerdas. Tidak gegabah melakukan sesuatu yang kita tidak tahu. Tidak mengunggah atau menyebarluaskan informasi yang belum tahu kebenarannya.

Kamu begitu, nggak?

Dalam kasus Syahrini, sebaiknya baca-baca dulu tulisan tentang tempat yang akan dikunjungi, sebelum atau saat traveling. Soal Syahroni, ya jangan malas untuk cek dan ricek. Seperti kata almarhum Cak Rusdi, “Merasa pintar? Bodoh saja tak punya.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.