Ilustrasi (Image by Free-Photos from Pixabay)

Ada satu masa dalam hidup saya di mana ayah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Saya mengambil cuti satu minggu untuk memastikan ia menghabiskan semua makanan dan obat. Kadang rasanya lelah sekali, karena orang sakit bisa bersikap kekanak-kanakan.

Tapi, kala itu, saya teringat bahwa ayah lah yang menunduk dan memegangi bagian belakang boncengan sepeda saya saat masih kanak-kanak, untuk memastikan sepeda tadi berjalan seimbang ketika saya mengayuhnya. Dan, ya ampun, itu kan juga melelahkan.

Ada banyak tulisan yang mengulas pentingnya hubungan ayah dan anak perempuan, dan bagaimana itu bakal memengaruhi kehidupan mereka. Tapi, bagaimana hubungan yang stabil dan damai bisa terbentuk antara ayah dan anak perempuan, kalau perkara jam malam sepulang hangout bersama teman saja selalu jadi perdebatan panjang?

Baca juga: Ayah Konghucu, Ibu Islam, Anak Memilih Katolik Meski Jadi Minoritas Itu Berat

Setidaknya ada satu hal yang bisa kita sadari: Seberapa pun menyebalkannya, ayah adalah satu-satunya lelaki yang akan tetap ada untuk kita. Sebab itu, rasanya saya ingin mengajukan tulisan ini guna mewakili anak-anak perempuan yang ingin menyampaikan surat untuk ayah sedunia.

Mari kita mulai.

Untuk para ayah yang jokes-nya memenuhi 7 hari dalam seminggu hidup kami…

Jujur saja, kadang rasanya menyebalkan ketika pesan dan telepon kalian memenuhi ponsel kami, meminta kami untuk segera pulang ke rumah. Ya ampun, saat itu bahkan masih pukul 6 sore dan kami sudah cukup dewasa untuk menjaga diri, sudah punya NPWP pula.

Tapi, kalian berkeras dan berkata tak baik kalau perempuan pergi sampai malam. Kami tidak tahu apakah kalian akan bicara hal yang sama, jika adik laki-laki kami belum pulang hingga pukul 10 malam? Sungguh deh, kami kan cuma ingin bersosialisasi.

Baca juga: Boleh Dicoba, untuk Kamu yang Sering Cekcok dengan Orangtua

Oh ya, jangan lupakan soal muka cemberut kalian sewaktu kami dijemput laki-laki yang datang ke rumah. Asal tahu, kami sudah menempuh banyak malam untuk bertukar pesan dan candaan di WhatsApp sampai tiba waktunya saling menyatakan perasaan dan menjalani kencan pertama setelah resmi menjadi pasangan. Bisa nggak sih sedikit melunakkan ekspresi wajah kalian agar pacar kami nggak takut-takut banget dan mengkeret saat menjemput? Atau, memang begitulah SOP para ayah dalam menyambut pacar anak-anaknya?

Dear para ayah yang walaupun rambutnya mulai memutih bakal tetap jadi bapak-bapak favorit kami…

Kami menyukai kegiatan menari, berlari, menulis, atau melukis di atas kanvas. Hobi kami adalah apa yang kami cintai dan kami tidak yakin bisa hidup tanpa melakukannya. Jadi, bisakah kalian mendukung kami melukis kanvas kehidupan ini?

Tidak, tidak, kalian tidak perlu repot-repot mencari tahu pelukis terkenal hanya untuk membuka pembicaraan, apalagi para filsuf yang meletakkan kanvas kehidupan. Kalian cukup melibatkan diri dengan lebih tepat.

Baca juga: Kredo Orangtua Zaman Sekarang, Banyak Anak Banyak Konten

Saran kami, bagaimana kalau kalian meletakkan ponsel dan laptop sebentar saja, lalu mendengar cerita soal kegagalan kami menembus seleksi olahraga nasional? Bagaimana kalau kalian bicara tanpa berteriak dan tidak lagi tampak begitu sibuk bekerja? Bagaimana kalau kalian datang saja ke acara launching buku pertama kami dan benar-benar merasa bangga atas apa yang kami kerjakan, alih-alih menyesali betapa kami seharusnya bekerja kantoran sebagai PNS yang punya tunjangan tetap dan terjamin?

Untuk para ayah yang kalau tertawa bakal membuat seisi rumah ikut tertawa…

Kami masih ingat ketika tidak sengaja mendengar perdebatan kalian dengan ibu. Panjang dan melelahkan. Tidak ada lelucon, yang ada cuma nada kesal dan beberapa kali terbatuk karena bicara terlalu cepat. Pintu kamar ditutup. Duh, memangnya kami tidak dengar?

Para ayah sedunia, ketahuilah bahwa hubungan pertama yang kami pelajari di dunia ini, yakni antara kalian dan istri kalian – ibu kami. Bagaimana kalian memperlakukan ibu adalah bagaimana kami memandang hubungan kami dengan pasangan kelak. Apa yang kalian tunjukkan, entah sikap menghargai atau tidak menghargai istri, adalah contoh yang kami miliki perihal hubungan rumah tangga.

Iya ayah, kami butuh contoh yang baik buat menghadapi kehidupan pernikahan yang – ayo akui saja – mungkin nggak bakal mulus-mulus amat.

Artikel populer: Pijat Payudara dan Hal-hal Lain yang Harus Dipelajari Calon Ayah

Buat para ayah yang tidak keberatan menyisihkan kulit ayam gorengnya untuk kami setiap kali makan di restoran cepat saji…

Kami paham betul kalian tidak terlalu suka dengan outfit celana pendek kami untuk datang ke tempat les setiap sore. Kalian juga tak setuju-setuju amat dengan pilihan jurusan kami di universitas. Atau, tempat nongkrong yang jauh dari rumah. Atau, tugas ospek yang kelewat ribet dan membuat kami ingin menangis setiap lima menit.

Tapi, ayah-ayah sedunia, tolong ingat ini baik-baik: kami akan selalu membutuhkan dukungan kalian, apa pun yang terjadi. Kalian mungkin tak akan setuju saat kami memilih belok ke kiri, tapi akan sangat menyenangkan kalau kalian tetap melihat kami sebagai manusia yang bertanggung jawab.

Jadi, plisss…. percayalah pada kemampuan kami untuk bertahan hidup. Kami akan baik-baik saja dengan pilihan kami, sekaligus tetap membutuhkan seluruh cinta (dan kepercayaan) dari kalian.

Itu saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini