Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Sulli (Instagram/jelly_jilli)

Belum lama ini saya menikmati libur akhir pekan dengan menonton serial televisi Korea Selatan berjudul Hotel Del Luna. Visual dan tata artistik film ini menarik, termasuk beberapa adegan yang melibatkan Choi Jin-ri alias Sulli, mantan personel grup vokal f(x). Sulli memiliki senyuman yang menawan dan penuh kebebasan.

Pada suatu waktu, ketika mampir ke akun Sulli di Instagram dan membaca berita-berita seputar dirinya, saya terperangah. Bagaimana tidak, komentar netizen Korea (Knetz) penuh dengan hate speech. Mereka selalu menemukan alasan untuk mem-bully Sulli. Mulai dari gaya berpakaian, riasan, hingga cara ia bermain dengan kucing dan makan seafood.

Namun, saya justru semakin kagum dengan sosok Sulli. Ia berani mendobrak pakem dan segala macam standar yang berlaku di dunia hiburan Korea. Sulli tampil sebagai perempuan yang asertif, memahami otoritas tubuhnya, dan mencoba bertahan dari segala bentuk perundungan selama bertahun-tahun.

Sulli di-bully dengan kata-kata kebencian karena memilih menjadi perempuan yang merdeka. Hingga akhirnya, pada 14 Oktober 2019, ia memutuskan untuk berhenti melawan. Sulli dikabarkan bunuh diri. Tapi, kalau kita lihat lagi, sesungguhnya kematian Sulli bukan karena bunuh diri, melainkan ‘dibunuh’ oleh kesedihan karena tekanan dari orang-orang yang kerap mem-bully.

Baca juga: Percayalah, Bunuh Diri juga Mengintai Kita, Tak Hanya Jonghyun

Sulli adalah peringatan bagi kita semua agar berhati-hati dan lebih memahami orang lain. Selama ini, banyak orang yang secara sadar maupun tidak sadar melakukan bullying atau perundungan atau perisakan di media sosial tanpa memikirkan konsekuensi pada si korban.

Menurut Psychology Today, bullying adalah upaya penindasan dengan pola khusus yang bertujuan untuk melukai dan mempermalukan orang lain. Perilaku ini merupakan upaya yang disengaja dan berulang-ulang untuk menyebabkan kerugian pada orang lain atau korban.

Lantas, mengapa orang bisa melakukan perundungan secara beramai-ramai dan berulang-ulang tanpa henti?

Baiklah, masih ingat seorang pria di Bekasi yang dibakar oleh massa, setelah beribadah di masjid? Persoalan awalnya karena si laki-laki tersebut diteriaki “maling” oleh seseorang. Dan, tiba-tiba, sekelompok orang yang marah mengejarnya. Laki-laki itu ketakutan dan berlari menghindar, namun ia tertangkap dan dibakar hidup-hidup.

Pertanyaannya, apakah setiap orang yang mengejar pria itu memiliki kesadaran utuh perihal perbuatan mereka? Tentu tidak. Kita bisa memastikan bahwa upaya main hakim sendiri tersebut dilakukan secara beramai-ramai tanpa ada perhitungan yang matang perihal risiko yang akan terjadi.

Baca juga: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Sama halnya pada kasus cyber bullying yang terjadi di media sosial, di mana Sulli dan banyak individu lain menjadi korban. Hanya cukup satu komentar pedas tak berdasar, itu sudah mampu memantik orang lain untuk ikut berkomentar.

Sementara itu, kita hidup dengan berbagai tekanan yang sangat kompleks, mulai dari tekanan di tempat kerja, keluarga, pendidikan, hingga tekanan yang berhubungan dengan hal-hal sekunder, seperti gaya hidup dan hiburan. Tekanan-tekanan ini akan memicu berbagai jenis emosi, mulai dari ketakutan hingga kemarahan.

Kita menyimpan berbagai jenis emosi itu di alam bawah sadar. Bagi orang yang menyimpan ketakutan dan tidak terakomodir, akan sangat rentan menderita berbagai jenis gangguan mental yang memicu serangan panik mendadak, seperti yang dialami oleh Sulli.

Namun, ada juga orang yang menyimpan emosi kemarahan secara terus menerus, semisal kemarahan pada bos di kantor, pasangan, orangtua, dosen, dan lain-lain. Kemarahan ini kadang-kadang tidak tersampaikan.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Kemarahan yang disimpan tersebut tidak akan pernah hilang, ia selalu menuntut katarsis, suatu momen pelepasan emosi. Di sini, relasi kuasa berlaku, seseorang akan cenderung melampiaskan amarahnya kepada individu lain yang lebih rentan. Dalam hal ini, lelaki yang dikeroyok massa di Bekasi adalah individu yang rentan. Begitu juga dengan Sulli.

Lelaki di Bekasi tadi rentan karena ia ketakutan dan tak memiliki kuasa untuk melawan, sedangkan Sulli selama bertahun-tahun diam ketika mendapatkan perundungan. Keduanya dijadikan objek.

Sulli sebagai seorang figur publik yang memilih berbeda dengan figur lainnya seolah-olah menjadi sosok yang ‘ideal’ di mata masyarakat untuk terus menerus dirisak segala aspek tentang hidupnya.

Namun, Sulli juga manusia. Ia juga memiliki batas dalam menerima tekanan dan batas dalam mengelola segala jenis emosi. Tak ada satu pun orang yang boleh dijadikan ‘keranjang’ pelampiasan kemarahan oleh orang lain.

Hal ini tentu bisa terjadi di mana saja. Tak hanya di Korea Selatan yang penuh tekanan dan semua orang dituntut untuk tampil ‘sempurna’, di Indonesia pun netizen tak kalah ganasnya.

Artikel populer: Dear Fiersa Besari, Sebaiknya Kita Berhati-hati Bicara ‘Mental Illness’

Masyarakat kita masih terbiasa untuk mengakomodir kemarahannya kepada individu lain, terutama di media sosial. Nama-nama seperti Awkarin, Nikita Mirzani, dan lain-lain masih menjadi objek ‘ideal’ perundungan masyarakat hingga hari ini.

Bedanya, persoalan kesehatan mental di negara kita sudah tidak tabu dan mulai menjadi isu penting di kalangan masyarakat. Sedangkan di Korea Selatan, masih sesuatu yang tabu. Berdasarkan riset nasional, hanya 15% penanganan dari seluruh laporan perihal mental illness yang masuk ke pemerintah Korea Selatan.

Kita tentu tak ingin ada korban akibat perundungan masyarakat. Kita tak boleh kembali diingatkan dengan angka kematian. Tak boleh ada korban hanya untuk mengingatkan kita tentang pentingnya kesehatan mental.

Kita perlu perbanyak pos-pos layanan dan penanganan persoalan mental, tak hanya untuk orang seperti Sulli, namun juga untuk para pem-bully. Agar kita mampu mengelola segala rasa sakit, takut, marah, tanpa membuangnya pada orang lain yang lebih rentan.

Sebab, setelah Sulli memilih mengakhiri hidupnya, apakah rasa sakitnya terhenti? Tidak. Ketika seseorang memilih bunuh diri, rasa duka, amarah, dan rasa sakit tidak pernah hilang. Semua itu akan berpindah dari diri korban ke orang lain. Stop bullying sekarang juga. Titik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.