article
Ilustrasi (Photo by Sides Imagery from Pexels)

Kita pasti selalu marah jika membahas kekerasan seksual, apalagi pelakunya adalah para punggawa gerakan kemanusiaan. Sebab, kejahatan akan berkali-kali lipat lebih memuakkan jika datang bersama kemunafikan.

Beberapa dari kita pasti punya ekspektasi bahwa dalam tubuh gerakan kemanusiaan yang berperspektif keadilan, pasti kasus-kasus kekerasan seksual akan cepat tuntas. Tentunya harapan itu berupa keadilan bagi penyintas. Tapi nyatanya nggak semudah dapet cashback di mall.

Gerakan kemanusiaan juga menyimpan banyak cerita kelam perihal kekerasan terhadap perempuan. Kalau kita menolak lupa, komunitas seni progresif di Indonesia masih memberi panggung kepada seniman pemerkosa.

Kadang-kadang, nggak habis pikir juga, kok bisa sih? Orang-orang yang saban hari ngomongin keadilan, eh malah merampas keadilan itu dari orang lain. Orang-orang yang selalu mengutuk penguasa, eh justru menjadikan relasi kuasa sebagai alat untuk merampas otoritas tubuh orang lain.

Terlebih, ketika si pelaku dibela habis-habisan oleh sirkel pertemanan sesama aktivis yang katanya progresif. Miris?? IYA! Kok bisa-bisanya orang yang punya perspektif keadilan malah membela pelaku kekerasan seksual sampai segitunya sih?

Ternyata, perspektif tak pernah cukup.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Pelaku kekerasan seksual, siapapun itu, selalu punya kemampuan untuk grooming kawanannya, sehingga ia akan mendapatkan dukungan tanpa batas. Meski ia telah merugikan orang lain.

Apa sih grooming itu? Grooming adalah upaya untuk menormalisasi suatu bentuk kekerasan dengan berbagai cara, semisal bujuk rayu atau memanipulasi keadaan. Korban saja bisa dimanipulasi, apalagi kamu yang cuma temennya.

Lantas, seperti apa bentuk grooming yang dilakukan oleh pelaku kekerasan?

Sebenarnya persoalan ini bukan pertama kali. Setahun lalu, saat bekerja di Kalimantan, saya menemui kasus kekerasan seksual yang pelakunya adalah lelaki ‘kiri progresif’. Ketika salah satu kolektif merilis nama pelaku terduga kekerasan seksual, saya sangat terkejut karena salah satunya adalah kawan saya.

Padahal, ketika di Kalimantan, kami sering berdiskusi, lalu melakukan advokasi dan aksi bersama. Yang jelas, saat itu kami memiliki relasi pertemanan yang berkualitas. Ia pun tampaknya clear terkait persoalan penindasan struktural, termasuk penindasan terhadap perempuan.

Ternyata, itu adalah grooming pertama. Menampilkan persona diri yang baik.

Baca juga: Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Pelaku kekerasan cukup pandai menampilkan persona diri yang ideal kepada korban maupun lingkungannya. Kawan saya tadi adalah sosok yang cerdas dan berwawasan. Dia fasih membahas seksisme dan bagaimana membangun support system bagi gerakan perempuan.

Bahkan, sebelumnya, saya sendiri sempat berpikir bahwa kasus yang menyeret namanya adalah fitnah semata. Grooming-nya begitu sempurna.

Grooming kedua, melalui pernyataan permohonan maaf.

Setelah namanya dirilis sebagai terduga pelaku kekerasan seksual, ia sempat menghilang, lalu kembali muncul dengan status di media sosial. Statusnya memuat diksi-diksi penuh penyesalan. Ia mengakui perbuatannya dan memohon maaf.

Seketika, rangkaian kekerasan yang ia lakukan dinormalisasi oleh kawanannya. Lebih banyak komentar dukungan daripada hujatan, berhasil membuat orang lain berpikir bahwa perilakunya adalah khilaf semata yang harus mendapat pengampunan.

Khilaf kok berkali-kali?

Baca juga: Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Grooming ketiga, datang dari pelaku kekerasan seksual lainnya. Menarasikan bahwa rangkaian kekerasan adalah masalah kasmaran semata.

Seorang laki-laki aktivis di Jawa Timur setelah di-callout perihal kekerasan seksual yang ia lakukan, dibela mati-matian oleh kawanannya. Bahwa carut-marut yang terjadi adalah masalah asmara yang tidak selesai, sehingga semua aktivitas seksual yang dulunya konsensual, kini berubah atas nama dendam, katanya.

Grooming jenis ini paling banyak terjadi, pelaku cenderung membiarkan kekerasan terjadi atas nama urusan pribadi. Bahkan, ketika masalah ini terjadi di lingkup gerakan kemanusiaan, grooming yang dilakukan tetaplah sama.

Nyatanya, semua kasus kekerasan seksual adalah masalah pribadi, namun menjadi tanggung jawab kolektif untuk menyelesaikannya.

Grooming keempat, upaya menjatuhkan nama baik.

Grooming ini juga sering terjadi, contohnya adalah kisah-kisah dari deretan cerita #NamaBaikKampus. Sering kali pelaku kekerasan seksual dibela mati-matian karena grooming yang ia lakukan. Menarasikan bahwa dirinya hanyalah korban fitnah, sehingga orang-orang menaruh simpati atas ‘cobaan’ yang ia terima.

Semestinya kita sadar bahwa tak boleh ada nama baik bagi pelaku kekerasan seksual.

Artikel populer: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Grooming-grooming tadi kerap terjadi tanpa kita sadari. Narasi-narasi yang dhadirkan menyeret kita pada empati yang tidak proporsional. Alih-alih berpihak pada korban yang rentan, kita malah membela pelaku habis-habisan.

Kita pun tak perlu malu jika pernah menjadi korban grooming dari pelaku, karena nyatanya manipulasi bisa menyasar siapa saja. Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak kena grooming dari pelaku?

Mudah, selalu dengarkan korban. Lalu, pahami pengalamannya dan berpihaklah kepadanya sebagai pihak yang paling rentan. Dengan begitu, kita mampu berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan, seperti kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang selalu kamu agungkan itu, wahai aktivis…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini