Ilustrasi (Photo by Noah Rosenfield on Unsplash)

Pernah lihat meme yang bunyinya gini nggak?

“Truk aja gandengan, masa kamu nggak?”

Atau, yang kayak gini:

”Sendal aja punya pasangan, kamu kapan?”

Daannn, segambreng meme lainnya yang berseliweran di media sosial dengan satu tujuan; mengejek para jomblo lajang yang tak jua menikah, sebab menikah katanya bagian dari kodrat manusia di dunia.

Perkara melajang ini selalu menjadi topik pembicaraan dalam masyarakat kita. Bagaimana ribut dan ribetnya masyarakat kita dalam menghadapi para lajang, seolah-olah mereka sejenis penyakit sosial.

Padahal, apa yang salah sih dari status lajang? Toh, semua orang berhak atas hidupnya sendiri, berhak untuk merdeka dalam setiap pilihan hidupnya, apakah melajang atau menikah, itu sama saja.

Saya punya beberapa teman yang masih lajang. Nggak cuma hidup mereka yang dicerewetin orang, saya pun kena imbasnya. Dianggap nggak sayang teman lah, karena membiarkan teman menjomblo. “Kenapa kamu nggak bantu nyariin jodoh biar hidup temanmu itu tertata? Apakah kamu nggak pingin melihat teman bahagia?” Kira-kira begitu katanya.

Lah?!

Baca juga: Pleidoi Cewek Lajang Indonesia

Ini lho, mindset masyarakat kita. Kata siapa orang yang melajang nggak bahagia? Kata siapa orang yang melajang itu hidupnya berantakan? Hidup mereka baik-baik aja kok. Sebab orang bahagia dengan caranya masing-masing. Kenapa kita yang ribet?

Ada yang bilang bahwa orang lajang itu menyalahi kodrat, karena Tuhan mewajibkan umatnya untuk hidup saling berpasangan. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa orang yang melajang adalah orang-orang yang lemah iman.

Perkara ini sebenarnya ambigu sih. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Sang Maha, yang mengatur segala isi dunia dan kehidupannya, masa iya nggak percaya bahwa lajang adalah salah satu rencana Tuhan terhadap makhluk bernama manusia? Kan, aneh.

Lalu, ada juga yang ngomong bahwa para lajang ini hidupnya ribet banget, terlalu milih-milih pasangan. “Kenapa nggak terima aja sih mumpung ada yang mau?” katanya.

Hih!

Wong, kita beli sayur aja milih yang segar-segar, yang bergizi dan baik buat kita. Apalagi dalam urusan jodoh, masa iya nyari pasangan asal-asalan? Ini ngomongin pasangan yang mau berbagi suka, duka, maupun dosa lho, eh.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Belum lagi, jika kelak memutuskan punya anak. Ada tanggung jawab yang lebih besar. Masa sih nggak boleh milih-milih pasangan, say? Kalau nggak ada yang cucok, ya maturnuwun mboten usah kemawon alias mending sendiri aja dulu lah yauw.

Sudahlah, singkirkan segala macam stereotip tentang lajang yang ada dalam batok kepalamu. Apalagi, kamu masih suka mem-bully, tolong ya, Tuhan sudah memberi kita akal dan pikiran, gunakan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Katanya kamu terpelajar?

Tapi anehnya nih, dan sering kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari, ketika si lajang bekerja atau punya usaha dengan penghasilan yang cihuy, terus ketemu orang yang sudah menikah dan punya anak yang lagi butuh duit bin kepepet, tanpa malu dan ragu ia ingin pinjam duit dari si lajang.

Banyak alasannya perihal ini, semisal…

“Kamu kan belum menikah, jadi belum ngerasain gimana susahnya cari uang buat beli susu, lalu bayar sekolah anak. Duitmu kan banyak, belum butuh ini-itu buat keperluan rumah tangga. Dipinjemin napa sih, ngga usah pelit-pelit jadi orang.”

Nah kan, orang-orang seperti itu banyak lho. Mendadak lupa kalau kemarin baru saja ngeledekin orang yang lajang. Mamamm tuh!

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Kalau nggak dikasih pinjam, karena tahu bakalan susah balikinnya, eh ngomongnya malah ngegas, “Pantesan susah jodoh, makanya nikah, punya anak, baru deh ngerasain gimana kayak saya.”

Wadawww…

Waktu mau pinjam, memelas. Giliran nggak dikasih, keluar deh aslinya. Entah apa yang merasukimu?

Makanya, hidup sendiri sudah bikin ribet tho, ngapain pula ngurusin hidup orang, terutama mereka yang melajang, jomblo, single, dan sebagainya. Faktanya, banyak lajang yang hidupnya tidak merana, tak seperti yang sering kalian jadikan ‘lelucon’ di meme-meme nggak lucu itu. Alih-alih menjadi beban, banyak lajang yang justru menjadi tulang punggung keluarganya.

Tolong camkan itu, kisanak!

Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat. Coba deh disurvei di lingkungan RT masing-masing, siapa yang paling banyak utangnya kalau bukan mereka yang sudah berkeluarga? Ini bukannya ingin memberi gambaran yang menakutkan dalam berumah tangga, tidak. Bukan itu.

Bagaimanapun, selain jodoh, berumah tangga itu butuh kesiapan mental dan finansial, bukan? Dan, tak ada salahnya orang melajang dulu guna mempersiapkan itu. Bukan malah dicerewetin seolah-olah melajang itu jadi beban keluarga atau beban sosial.

Artikel populer: Baru Usia 20-an, tapi Sudah Begitu Cemas Ingin Menikah

Lagipula, porsi hidup setiap manusia kan berbeda-beda. Nggak bisa lah kita menimbang dengan takaran yang sama. Menikah tak berbanding lurus dengan kebahagiaan, betul?

Kalau menikah adalah koentji hidup bahagia di dunia, kenapa juga ada sebanyak 419.268 kasus perceraian sepanjang 2018, menurut data MA? Dari jumlah tersebut, sekitar 307.778 kasus adalah pengajuan cerai dari pihak perempuan. Sedangkan dari pihak laki-laki sebanyak 111.490 kasus.

Itupun angka perceraian yang diajukan ke pengadilan agama oleh mereka yang menikah secara Islam, belum yang lainnya. Terpikir juga nggak bagaimana itu berdampak pada anak-anaknya? Belum lagi perceraian akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dapat menambah pelik persoalan, karena bisa berdampak hukum lanjutan.

Gini ya, say… sebab menikah dan melajang adalah pilihan, maka kita kudu banget-banget menghormatinya. Tak perlu saling nyinyir, karena bisa saja orang lain lebih baik dari kamu.

Jadi gimana nih? Jadi pinjem duit, kagak?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini