Suka Helvetica atau Comic Sans? Ketika Bentuk Huruf Tentukan Gengsi Seseorang

Suka Helvetica atau Comic Sans? Ketika Bentuk Huruf Tentukan Gengsi Seseorang

Ilustrasi (Bonnie Kittle via Unsplash)

Dari undangan mantan nikah, perang komentar di media sosial, hingga meme hoaks di grup Whatsapp, pastinya ada font di sana. Seperti butiran debu, font boleh dianggap tidak penting, namun nyatanya ada di mana-mana.

Font adalah bentuk dan model huruf pada sebuah program atau software. Secara umum terdapat tiga jenis font, yaitu Serif, Sans-serif, dan Dekoratif. Contoh umum Serif adalah Times New Roman, dengan tambahan goresan pada ujung garis huruf.

Sementara Sans-serif, misalnya Tahoma, tidak memiliki tambahan goresan tersebut. Font dekoratif lebih banyak jenisnya, mulai yang cursive atau bersambung, seperti tulisan tangan, kaligrafi, dan sebagainya.

Seperti produk-produk lainnya, penggunaan font menciptakan lingkaran-lingkaran yang saling meliyankan. Pengguna Helvetica, misalnya, tentu tak ingin disamakan dengan pengguna Comic Sans.

Apa saja jenis font dan siapa yang menggunakannya? Tulisan ini akan mengangkat hal yang tak begitu penting itu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Asiiik..

Kelas Atas

Pada font kelas ini, aktivitas penggunaannya bukanlah tentang pemakaian font mana yang #aesthethic, melainkan jual beli lisensi font yang dimiliki sehingga dapat menjadi konsumsi publik.

Pada masa industri percetakan, font didominasi oleh dua korporasi, yaitu Monotype dan Linotype – yang kemudian diakuisisi Monotype. Sekarang, Monotype tetap menjadi penyedia font terbesar, selain FontShop atau Bitstream. Beberapa penyedia lain yang skalanya lebih kecil adalah Adobe, Microsoft, atau Fontlab.

Akhirnya kita bisa menggunakan font jenis Arial sampai Wingdings, karena perusahaan penyedia sistem operasi seperti Microsoft atau Mac membeli lisensi masing-masing font dari perusahaan tersebut.

Sama seperti kelas atas lainnya, pengguna font kelas ini jumlahnya sangat sedikit, namun mereka memiliki otorisasi yang paling besar terhadap font yang beredar sekarang ini.

Kelas Menengah

Pengguna font kelas menengah memiliki kesadaran identitas font yang tinggi, sehingga antar penggunanya menciptakan penggolongan yang cukup terstruktur. Berikut beberapa di antaranya:

Basic Fonts

Basic fonts adalah sejumlah font yang tersedia di beberapa perangkat. Jenis font yang kalau kamu gunakan sebagai huruf presentasi di Power Point lalu dipindahkan ke laptop yang lain tidak akan menghancurkan paragraf-paragraf yang telah kamu buat.

Baca juga: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Jenis font ini dapat digunakan lintas platform digital karena termasuk dalam core web font yang diprakarsai oleh Microsoft. Basic fonts yang menjadi tren saat ini adalah jenis Sans-serif, misalnya Calibri, Arial, Trebuchet MS, atau Verdana.

Para pengguna font jenis ini tidak begitu ambil pusing dengan jenis font yang mereka gunakan, selama font itu cukup jelas dibaca. Karena itu, banyak situs menggunakan font-font jenis ini. Misalnya situs berita seperti Detik dan Liputan6 menggunakan font jenis Arial. Sementara Voxpop menggunakan Verdana dan Geneva.

Old School Fonts

Sekalipun Microsoft Word telah mengganti font default menjadi Calibri sejak seri 2007, para pengguna font masa lalu akan tetap menggantinya ke Times New Roman – biarpun tujuannya bukan buat karya ilmiah.

Old School fonts biasanya berupa Serif fonts, seperti Times New Roman, Courier, Garamond, atau Georgia. Font yang mirip dengan huruf-huruf koran dan majalah-majalah serius macam Tempo atau Gatra.

Pada praktiknya, font tersebut memang lebih baik digunakan dalam percetakan ketimbang layar digital. Karena itu, jangan heran, jika mendengar mereka lebih senang membaca buku cetak ketimbang digital macam Kindle.

Mereka juga bisa jadi akan mengeluhkan buruknya selera musik masa kini atau sedihnya anak-anak sekarang yang asik bermain di layar ponsel ketimbang layangan.

Social Media Hipster Fonts

Font ini mulai dari Serif, Sans-serif, sampai dekoratif. Dengan tagar aesthetic, para hipster mengisi feed Instagram masing-masing sehingga begitu indah dipandang. Sans fonts yang membawa energi modernisme paling banyak digunakan, terutama Helvetica. Ingat, Helvetica, bukan Arial!

Tentu bukan hal yang asing bagi kita untuk melihat Helvetica dengan quote semacam “Job fills your pocket, adventure feed your soul” di-overlay sebuah foto pemandangan dan perjalanan.

Sementara, untuk mendukung mood romantis, Serif fonts dipakai untuk kata-kata puitis. Font dekoratif juga sering digunakan sebagai variasi untuk disandingkan dengan Sans fonts. Jangan harap menemukan Comic Sans di linimasa mereka, kecuali sebagai bentuk ironi yang dianggap ‘meta’.

Baca juga: Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

Font yang digunakan para hipster media sosial boleh beragam, namun semua memiliki pakem-pakem yang akhirnya menyeragamkan.

Designer Fonts

Para desainer di sini memang bukanlah Max Miedinger dengan Helvetica-nya. Namun lovehaterelationship para desainer dengan Helvetica membuat font ini menjadi salah satu kesukaan hipster (yang mendaku diri sebagai konsumer dengan selera terbaik).

Dari inner circle desainer juga lah wacana kebencian terhadap Comic Sans ataupun Papyrus dikenal banyak orang.

Penggunaan font oleh desainer terdapat pada produk-produk visual yang kita lihat sehari-hari. Mulai dari banner event, poster film, flyer produk, art cover, sampai infografik.

Rasanya bukan kesalahan jika kita bilang bahwa font jenis Sans lah yang paling banyak digunakan desainer kali ini. Jika Helvetica dianggap terlalu mainstream, maka hispter-nya hipster menggunakan Sans-serif lain, seperti Lato, Gotham, atau Bebas Neue. Sementara font jenis lain biasanya hanya dijadikan sebagai variasi.

Dominasi Sans-serif merupakan respons terhadap berkembangnya informasi digital. Sans-serif adalah font paling nyaman dipandang pada layar. Desainnya yang simpel dan minimalis juga sejalan dengan kesan kekinian yang ingin dicapai banyak produk.

Seluruh media sosial populer, misal Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube menggunakan Sans-serif sebagai interface-nya. Brand besar seperti Pepsi, Google, Apple, dan Microsoft juga mengubah logonya dengan huruf Sans.

Kelas Bawah

Di sinilah Jokerman, Kristen ITC, Creepy, Papyrus, Curlz, dan tentunya Comic Sans berada. Font kelas bawah adalah font yang sudah dianggap tak layak pakai oleh selera yang diproduksi oleh desainer.

Selain font-font tersebut, penyalahgunaan font secara umum yang tidak sesuai pakem juga menjadikan produk tipografi tersebut terasa salah. Misal, meme-meme bajakan yang sudah salah kategori, bukannya memakai Impact tapi Times New Roman.

Ada juga undangan aqiqah anak dengan kombinasi Jokerman dan Comic Sans, atau sebuah header dengan jenis Curlz. Ugh, bagi orang yang berkecimpung dalam dunia desain, hal-hal begitu kadang membuat sakit mata dan menjadi bahan olokan. Bahasa pretensiusnya: kitsch.

Artikel populer: Di Balik Viralnya Lagu Karna Su Sayang, Menurut Penciptanya

Beberapa waktu lalu, saya diminta seorang teman untuk membuatkan banner untuk kegiatan penggalangan dana. Saya buatlah satu desain sesuai selera saya (yang kurang lebih desainer ini, uhuk). Tapi nyatanya, teman saya tak suka.

Ketika akhirnya kami membuat bersama, hasilnya juauuh dari desain awal. Ketika saya memakai kombinasi Droid Serif dan Lato, dia memakai… Creepy. Iya, header yang menjadi poin utama banner itu berupa huruf jenis Creepy berwarna merah dengan background hitam.

Selain Tahoma pada tulisan yang lebih kecil, dia juga meminta variasi Papyrus. Hasil desain partisipatif itu malah menghasilkan produk yang tidak saya setujui.

Namun, terlepas dari ‘kegagalan’ tipografi yang terjadi, acara penggalangan dana yang dilakukannya sukses. Banner yang didesain terbukti menjadi salah satu faktor penarik perhatian.

Setelah dipikir-pikir, desain yang dianggap kitsch itu malah lebih sesuai konteks yang berlaku ketimbang desain saya yang kekinian itu. Nah, lho!

Akhirnya, memang dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat melihat keindahan produk-produk desain yang dianggap kitsch, terutama bagi kita yang terbiasa melihat sajian visual yang menjadi selera kekinian.

Baik desainer maupun sebagai penikmat, adalah sebuah tindakan intoleran untuk memaksakan font mana yang harus digunakan dan kapan menggunakannya.

Seperti yang sering terjadi, keterbatasan akses pengguna font ini dengan media font yang biasa digunakan, font kelas bawah lah yang sering mengusik kemapanan yang sudah terbentuk pada selera kelas atas.

Selera, pada akhirnya, bukanlah suatu hal yang definitif. Jadi, selama tujuan dari penulisan tercapai, tidak ada kesalahan yang jelas jika kamu memilih Comic Sans ketimbang Helvetica. Sebab, font memiliki nilai imaterial sendiri, sebuah bahasa yang bicara melampaui kata-kata yang ditulisnya sendiri. Ceileh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.