Suka dengan Teori Konspirasi Illuminati? Ini Sarannya

Suka dengan Teori Konspirasi Illuminati? Ini Sarannya

Ilustrasi (Image by Michael Knoll from Pixabay)

Sekitar tahun 2010, saya bersama kakak pernah masuk ke salah satu toko buku di kawasan Kwitang, Jakarta. Sebagai mahasiswa baru yang merantau jauh-jauh dari Maluku, memiliki banyak buku adalah salah satu impian.

Ada satu buku yang menarik perhatian saat itu. Buku bersampul warna hitam dengan judul Hitler Mati di Indonesia; Rahasia yang Terkuak. Sontak, rasa penasaran ini bergejolak. Terlebih, ada stempel berwarna merah bertuliskan “Dilengkapi Foto & Dokumen Asli”.

Pada bagian bawah buku tertulis kutipan dari dua orang penting tentang kesannya sehabis membaca buku tersebut. “Buku yang akan menggemparkan dunia,” tulis Oetoyo Oesman, mantan Menteri Kehakiman. Sementara itu, mantan Dubes RI untuk Argentina dan Belanda, Soedarmanto Kadarisman bilang, “Merinding saya membacanya.”

Saya pun tak berhenti merinding. Bahkan, setelah membacanya seperti ada guncangan batin. Apa iya, sosok fasis yang mengagung-agungkan ras Arya itu ternyata menghabiskan masa tua di Indonesia?

Buku tersebut seolah menjadi awal perkenalan dengan teori-teori konspirasi, ehmm… Yah, ada semacam perasaan paling tahu gitu. Rasanya ingin mengumumkan kepada semua orang tentang apa yang ada di dalam buku. “Woiii… lu tau nggak sih kalau Hitler si kumis seupil itu mokat di Indonesia? Nggak tahu kan lu?! Cupu!”

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Petualangan seputar ‘teori konspirasi’ ternyata tak berhenti di situ. Beberapa kawan juga menyenangi hal serupa. Kami sempat berdiskusi ihwal tangan-tangan tersembunyi yang mengatur jalannya kehidupan. Illuminati, Freemasonry, Yahudi, menjadi topik utama saat itu.

Buku selanjutnya adalah buku berjudul New World Order; Menguak Rencana Licik Zionis Menguasai Dunia karya A. Ralph Epperson. Harga buku bergambar all-seeing eye itu bikin uang makan sehari berkurang banyak. Nggak apa-apa deh, demi merasa paling tahu mengetahui ‘teori konspirasi’.

Namun, sampai saat ini, buku tersebut tak pernah selesai dibaca. Padahal, sudah dibela-belain beli sampai uang makan berkurang. Hanya membaca separuh saja, selebihnya pamer tentang bahaya tatanan baru yang sedang diupayakan elit-elit Freemason.

Selain buku, perihal Illuminati ini saya peroleh dari Muse, sebuah grup musik asal Inggris. Bagi beberapa orang, Muse mungkin tak lebih dari band yang mengusung genre alternatif seperti pada umumnya. Tapi, bagi mereka yang nyandu ‘teori konspirasi’, Muse tak ubahnya tentara yang menghadang kekuatan Illuminati.

Baca juga: Kalau Aku Yahudi, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Dalam beberapa lirik lagu Muse kental sekali unsur perlawanan tersebut. Dominic Howard, drummer Muse, beberapa kali mengenakan kaos bergambar piramida terbalik yang merupakan simbol perlawanan terhadap Illuminati. Sedangkan Matthew Bellamy, sang vokalis, ketika membawakan lagu “Time Is Running Out”, sering kali memperagakan adegan mata satu.

Belakangan, ceramah ustaz Rahmat Baequni tentang ‘simbol Illuminati’ pada beberapa bagian masjid di rest area Tol Purbaleunyi pun menjadi viral. Padahal, apa yang dia sampaikan tak ada yang baru. Tak lebih dari thread-thread usang di Kaskus.

Bahkan, bisa dibilang khazanah per-illuminati-an di Kaskus jauh lebih beragam ketimbang yang disampaikan ustaz. Kalau tak percaya, coba saja cek mulai dari desain set Opera Van Java hingga bentuk meja juri Indonesian Idol yang pernah dituding sebagai bagian dari agenda penyebaran simbol Illuminati.

Ketika sang ustaz mendoktrin pengikutnya dengan beberan teori tentang tragedi penyerangan World Trade Center, sejujurnya saya sudah pernah melakukannya kepada seorang kawan. Ia merasa terpukau setelah saya menulis Q33NY menggunakan font jenis Wingdings. Q33NY disebut sebagai nomor seri pesawat yang menabrak gedung WTC. Padahal, itu salah. Nomor seri pesawat tersebut bukanlah Q33NY.

Baca juga: Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Lantas, mengapa masih banyak orang yang percaya begitu saja? Bisa jadi karena manusia memang menyukai cerita-cerita fantastis. Terlebih, tentang hal-hal yang kesannya rahasia.

‘Teori-teori konspirasi’ yang terkadang mempersetankan nalar dan cenderung menggampangkan sesuatu itu hilir-mudik selama beberapa tahun terakhir. Cerita tentang masjid di rest area Tol Purbaleunyi tadi adalah fragmen kecil dari gambaran besar bahwa masyarakat kita mudah percaya dengan informasi yang simpang siur.

Kita bisa lihat ketika pelaksanaan pilpres atau hajatan politik lainnya. Mulai dari ‘teori konspirasi’ kebangkitan PKI hingga kematian ratusan anggota KPPS. Kematian tersebut memang mengagetkan dan perlu ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Tapi kabar yang mengatakan bahwa kematian anggota KPPS akibat racun merupakan respons yang terkesan menggampangkan.

‘Teori konspirasi’ memang nikmat digunakan sebagai jalan pintas. Sebagai pembenaran pada hal-hal yang sulit dipahami. Sebuah gosip tentu tak akan menarik perhatian khalayak, jika ceritanya monoton. Dengan demikian, dibutuhkan cerita yang memenuhi unsur fantastis.

Artikel populer: Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Sebagai orang yang pernah terjerembap dalam cerita-cerita Illuminati, saya justru membayangkan, bagaimana jika jaringan, agenda, dan simbol-simbol Illuminati benar-benar ada di Indonesia? Tentu akan sangat keren kan?

Itu berarti Indonesia semakin diperhitungkan di dunia per-illuminati-an. Dengan demikian, kehancuran tatanan bisa lebih cepat terjadi. Hahaha…

Nah, khusus mereka yang getol membahas isu ini, yang terkadang sampai mempersetankan nalar, segeralah bergabung! Sebab, New World Order sudah semakin dekat. Kalau kata John Lennon, “I hope someday you’ll join us, and the world will be as one.”

Saya pun membayangkan tatanan dunia baru itu lahir dari Indonesia, berikut seorang pemimpin yang ikonik dengan all-seeing eye. Ya, siapa lagi kalau bukan Jaja Miharja?

Apaan tuhhh..?! 🙂

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.