Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Ilustrasi (SaLam Ullah via Pexels)

“Sederhana, tak usah muluk-muluk. Kalau ingin keluar dari zona nyaman, tinggal saja di rumah mertua. Hahaha…”

Kalimat di atas adalah hasil reka ulang guyonan saya selaku personalia dengan karyawati yang tiba-tiba mengalami peningkatan kerja cukup signifikan. Berangkat pagi tak pernah telat, dan pulang selalu belakangan. Rajinnya nggak ketulungan.

Terbesit pertanyaan, ada apa gerangan?

Setelah beberapa basa-basi yang menjemukan, usut punya usut si karyawati ini sudah beberapa hari tinggal di rumah mertuanya. Daya telisik saya terusik. Ada korelasi apa antara tinggal di rumah mertua dengan peningkatan kinerja karyawan atau karyawati?

Si karyawati menuturkan bahwa banyak yang bilang hubungan antara mertua dan menantu jarang menemui jalan mulus. Apalagi kalau tinggal satu rumah. Apalagi usia pernikahan baru satu atau dua tahun.

Canggung, kalau orang Jawa bilang pekewuh, serba kurang leluasa. Dalam situasi tersebut, perbedaan kebiasaan kerap muncul menjadi pemicu singgungan. Konflik dalam batin? Pasti. Tidak berani mengutarakan? Banyak juga yang mengalami.

Tentu saja tak selebay dalam cerita sinetron atau FTV. Yang saking pinginnya si mertua memisahkan anak dan menantunya sampai dibela-belain memanggil Thanos untuk melenyapkan menantunya dari planet bumi. Tentu tak seperti itu.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Contoh sederhananya seperti ini. Misalnya mertua terbiasa mencuci pakaian dengan cara memasukkan semua baju ke mesin cuci. Dengan alasan efisiensi waktu supaya segera bisa mengerjakan hal lainnya.

Sedangkan menantu tidak demikian cara kerjanya. Ia lebih memilih untuk memilih dan menyikat kerah baju, baru kemudian memasukkan ke dalam mesin cuci. Alasannya, supaya lebih bersih.

Suatu hari, si mertua mengetahui kebiasaan menantunya. “Kalau gitu caranya, kelamaan. Mending langsung dimasukin ke mesin cuci. Cepet. Toh, sama-sama bersihnya.”

Entah ini bernada sinis atau nggak, tetapi terkadang jika hati tidak sedang enak, apalagi badan dalam kondisi yang kurang fit, kalimat seperti itu sontak membuat si menantu baper tingkat militan. Apa-apa yang dikerjakan dianggap salah. Apa-apa yang dilakukan tidak pernah mendapat apresiasi yang layak.

Masakan pun dikritik kurang asin, rasanya skill memasak turun drastis. Lantai sudah disapu, disapu lagi oleh mertua, rasa-rasanya langsung menjadi manusia paling jorok di muka bumi.

Baca juga: Kelas Pekerja dalam Karya Satire Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

“Satu-satunya cara untuk mengurangi singgungan-singgungan yang demikian adalah berlama-lama di kantor.”

Hahaha… saya menanggapi pernyataan itu dengan tertawa lepas. Saya memang tidak merasakan tinggal satu rumah bersama mertua. Tetapi dari cerita tersebut, saya cukup bisa merasakan nuansa yang terjadi.

“Memang dulu akad nikahmu gimana?”

“Ya syah! Sangat syah! Hahaha…”

“Bukan gitu. Maksudnya ada nggak komitmen atau rencana setelah menikah harus seperti gimana atau tinggal di mana gitu?”

Mungkin bagi yang akan melangsungkan pernikahan, ini bukan dakwah untuk menyegerakan pernikahan, ada baiknya memang membicarakan rencana jangka panjang dan jangka pendek (kayak kalimat jaman Orba ya?). Paling tidak tentang kesiapan berbagai macam kemungkinan mengenai tempat tinggal.

Apakah akan tinggal terpisah dari orang tua atau masih satu atap bersama orang tua? Karena memang ada beberapa orang tua yang mensyaratkan, kita boleh menikah dengan anaknya asalkan nanti tinggal bersama orang tua. Ada orang tua yang tidak ingin jauh dari anak-anaknya.

Atau, mau langsung tinggal terpisah jauh dari orang tua? Seperti saya sekarang. Tinggal di rumah kontrakan sembari mengumpulkan pundi-pundi kekayaan untuk membeli sebidang tanah seluas 10 hektare, lalu membangun kontrakan dan kos-kosan seribu pintu, eh?

Artikel populer: Pemilik Modal Bukan, Bos juga Bukan, tapi Nyinyirin Buruh

Setiap pilihan tentu ada risikonya. Dekat dengan orang tua, paling tidak kita punya referensi bagaimana membangun mahligai rumah tangga. Atau besok kalau mau punya momongan ada yang dimintai masukan. Tidak bingung bagaimana menjalankan. Kalau jauh dari orang tua, kita harus memiliki semangat juang yang tinggi. Asik.

Sementara, untuk memahami perempuan, banyak-banyak baca buku tentang perempuan. Salah satunya adalah kumpulan cerpen dari Ni Komang Ariani berjudul “Bukan Permaisuri” terbitan Kompas Gramedia 2012. Atau yang lebih lawas, misalnya “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana. Sedikit banyak ada ilmu yang bisa diserap dari cerita-cerita fiksi tersebut.

Bahwa menjadi perempuan itu tidak mudah dalam masyarakat yang patriarkis. Penuh kompleksitas. Karena itu, harus sebisa mungkin menghargai perempuan.

Atau, kapan-kapan saya perlu mencobanya juga. Keluar dari zona nyaman dan tinggal bersama mertua. Eh tapi, dikejar-kejar deadline harus bayar kontrakan ini rasanya sudah seperti ditendang keluar dari zona nyaman, lho!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.