Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Ilustrasi (Danny via Unsplash)

Sebagian perempuan mengejar jenjang pendidikan terlebih dahulu ketimbang menikah karena khawatir bahwa ikatan rumah tangga akan mengekang kebebasannya. Penggunaan kata ‘ikatan’ dalam rumah tangga menempatkan setiap anggota keluarga merasa berhak mengikat satu sama lain.

Bentukan tersebut menganggap bahwa ‘ikatan’ adalah hal yang lumrah atau normal. Namun, mengatur dengan dominasi kekuasaan tanpa mempertimbangkan suara perempuan, tentu saja tidak adil. Itu abnormal.

Belakangan menjadi perbincangan di media sosial terkait video seorang pendakwah keagamaan yang menyatakan bahwa kesalahan perempuan di zaman sekarang karena lebih mengutamakan pendidikan ketimbang menikah.

Wah, kalau begitu, ada benarnya ucapan seorang teman, “Kami bangga bersalah.” Gitu aja.

Pendidikan yang notabene adalah langkah memperoleh ilmu dengan metode terstruktur malah digunakan untuk menghukum perempuan. Padahal, akses berpendidikan seharusnya tidak mengenal gender.

Giliran laki-laki yang ingin melanjutkan pendidikan, bagi mereka yang lajang, bakal dianggap sebagai prestasi. Sementara yang sudah menikah, istrinya harus ridho meskipun ditinggal ke luar kota dan anak-anak tetap berada di rumah.

Baca juga: Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Lha, kalau perempuan? Bagi yang kurang beruntung akan dianggap sebagai istri tidak bertanggung jawab – tidak memikirkan suami dan anak-anaknya. Sedangkan perempuan lajang pengejar pendidikan akan ditakuti karena mereka dianggap jago berdebat – keras kepala. Ya Allah…

Ternyata perjuangan Kartini pada zaman dahulu demi kesetaraan perempuan di bidang pendidikan, kini muncul lagi ke permukaan. Sayangnya, itu muncul di tengah peradaban dimana teknologi baru setiap saat muncul dan dihuni oleh manusia yang mengaku berpandangan terbuka. Kontras banget.

Kejadian seperti ini sebetulnya pernah terjadi di Amerika pada tahun 1830-1840-an, dimana kalangan konservatif dan liberal memperdebatkan keinginan perempuan untuk memasuki institusi pendidikan.

Kaum konservatif beranggapan bahwa pendidikan akan menghancurkan peran perempuan sebagai istri dan ibu. Sementara kaum liberal mengklaim bahwa pendidikan akan berpengaruh positif untuk meningkatkan peran istri dan ibu dalam rumah tangga.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Teman saya bercerita tentang keinginan teman baiknya yang berprestasi di bidang keilmuan tertentu untuk mendaftar beasiswa dalam program perpendekan menuju doktoral. Suaminya mengizinkan dan mendukung.

Tapi, mirisnya, ketika dia berkonsultasi dengan guru agama malah disarankan agar menunda dengan dalih suaminya masih berpendidikan sarjana. Dikhawatirkan kedudukannya sebagai istri akan lebih tinggi dibanding suami.

Sepertinya orang-orang yang anti-kesetaraan begitu takutnya, kalau perempuan yang berdaya secara mandiri dan memiliki pemikirannya sendiri bakal melawan kekuasaan laki-laki yang sudah mendarah daging.

Larangan tersebut sekaligus menegaskan sifat otoriter yang tidak ingin ditumbangkan oleh siapapun. Pendidikan memang senjata, tetapi bukan untuk memerangi laki-laki, apalagi suami. Pendidikan ada untuk melawan kebodohan, ketertindasan, kesalahpahaman, kekerasan, dan sekawannya.

Seharusnya para suami merasa beruntung memiliki istri yang melek pendidikan, atau bahkan memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebab, suami-suami yang terutama masih kolot bakal ikut tercerahkan pikiran dan pengetahuannya. Bagus kan, kenapa harus takut?

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Dalam esainya, Mohammad Hatta pernah menulis, “…dan tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral! Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”

Namun, anehnya, sistem patriarkal tak hanya didukung oleh laki-laki pemangku kekuasaan, baik di publik maupun di ranah privat. Banyak juga kalangan perempuan yang merasa aman-aman saja atau bahkan ikut mengecam program-program yang melindungi atau memberdayakan perempuan.

Menilai kedudukan anggota rumah tangga dari jenjang pendidikan adalah pemikiran yang dangkal. Bukan pada tempatnya membawa embel-embel titel ke ranah rumah tangga. Rumah tangga bukan perguruan tinggi yang menilai siapa pemilik titel dan kecakapan tertinggi akan menduduki posisi rektor.

Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga maupun bermasyarakat. Adakah peraturan yang menyebutkan bahwa pendidikan menentukan hak dan kedudukan dalam rumah tangga? Nggak lah.

Artikel populer: Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Sebagai teman hidup, istri yang cerdas mampu diajak berdiskusi untuk memecahkan masalah rumah tangga. Sumbangsih pemikiran istri bukan untuk menjatuhkan pandangan suami sebagai laki-laki, melainkan menambal kebocoran atau meluruskan kebengkokan – meskipun perempuan disebut-sebut berasal dari tulang rusuk yang bengkok.

Dan, teman diskusi yang baik tentu memahami bahwa perbedaan pemikiran itu wajar. Sebab, pembentukan karakter di institusi pendidikan mampu menanamkan sifat yang lebih toleran terhadap perbedaan.

Manfaat pendidikan bagi istri sebagai ibu sebaiknya juga dilihat dari sudut pandang lain. Anak-anak yang tumbuh dari didikan seorang ibu cerdas bakal berpeluang besar mendapatkan pendidikan terbaik sejak dalam lingkungan rumahnya.

Perempuan cerdas mampu memainkan peran serta teknik yang baik dalam keluarganya. Mulai dari hal-hal yang terkait pembentukan karakter anak, iman, moral, fisik/jasmani, intelektual, psikologis, sosial, hingga pendidikan seksual.

Jadi, kalau masih takut dengan istri yang melek pendidikan atau berpendidikan lebih tinggi, suami-suami macam apa?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.