Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?

Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?

Ilustrasi Perempuan. (Photo by Anthony Tran on Unsplash)

Lagi ramai di publik tentang Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang pengesahannya cuma ditunda itu. Dari sekian pasal yang diributkan, salah satunya perkara abortus atau aborsi oleh korban perkosaan.

Sejak zaman baheula, masyarakat kita menilai bahwa menggugurkan bayi dalam kandungan adalah perbuatan dosa, pamali, dan berbenturan dengan norma sosial, meskipun janin tersebut merupakan hasil perkosaan.

Lha, piye? Apakah ‘budaya memerkosa’ atau rape culture di masyarakat kita memang sudah seawet itu?

Nyatanya, jangankan ngomongin aborsi oleh korban perkosaan, dengar ada korban perkosaan yang dinikahin sama pelakunya saja banyak yang bersyukur kok. Bahkan, ada yang sampai bilang, “Ya untung yang merkosa mau tanggung jawab nikahin si korban.”

TANGGUNG JAWAB?!! Maap, capslock kepencet. Jengkel.

Kalau sudah begitu, nggak heran deh negara ini enggan mendengarkan suara rakyat yang berpihak pada korban perkosaan. Wong, masyarakat kita juga konservatif banget soal ini, terlebih perkara aborsi oleh korban perkosaan.

Itulah sebabnya mengapa banyak banget yang ketawa di media sosial, lengkap dengan segambreng meme, termasuk dari kalangan perempuan sendiri, ketika menyikapi perkara ‘suami perkosa istrinya sendiri’.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Ya gimana, soal perkosaan saja masih bisa memaklumi pelaku kok, apalagi ngomongin pemerkosaan dalam pernikahan atau marital rape? Malah dijadikan guyonan yang sebetulnya nggak lucu sama sekali. Semisal, “Ih, diperkosa suami sendiri kok takut, kan enak, aneh deh, hihihihihi…”

Coba deh, perhatikan kalimat yang meluncur dari perempuan itu, bikin gemes nggak sih? Pengen banget deh ngajak orang-orang yang menertawakan marital rape itu menyelam di Antartika, siapa tahu kepalanya bisa adem, terus bisa berpikir jernih.

Ada yang pernah baca kasus Anton Nuryanto, warga Sunter Agung, Jakarta, yang menggorok leher istrinya sendiri, Fauziah, di hadapan dua anak mereka, pada bulan Juli 2019?

Anton merasa kesal, lantaran Fauziah menolak berhubungan badan dengannya, karena merasa letih setelah seharian mengurus rumah. Lantas, Anton mengambil golok dan membunuh istrinya sendiri.

Kalau sudah begitu, apa iya masih bisa haha-hihi sambil bilang bahwa diperkosa suami sendiri itu enak?

Lalu, kasus Aminah di Sukabumi, masih di bulan Juli 2019. Aminah yang sedang depresi setelah melahirkan (postpartum depression) kerap dipaksa oleh suaminya, Maman, untuk berhubungan seksual. Padahal, Aminah baru melahirkan bayi usia dua bulan.

Baca juga: Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Hingga akhirnya, Aminah membacok Maman, saat Maman tidur. Kejadian tersebut akibat akumulasi kekesalan Aminah terhadap Maman, yang nggak mau tahu keadaan istrinya, yang masih merasakan letih sehabis melahirkan, mengurus bayi, juga masih diliputi postpartum depression.

Tuh bu-ibu, pemicunya sama kan, gara-gara diperkosa suami?

Kemudian, ada lagi cerita Choiron, warga Jalan Demak, Surabaya, Jawa Timur, yang memaksa istrinya untuk melakukan threesome hingga gangbang dengan beberapa pria sekaligus. Hal itu dilakukan Choiron, bukan cuma demi mendapat lembaran rupiah dari bisnis ‘menjual’ istrinya, tapi juga karena ‘kelainan’ seksual.

Kalau sudah begitu, apa iya masih mau bilang “tinggal tidur aja, gampang kok, tinggal ena-ena, apa susahnya”? Apakah masih mau menyangkal keberadaan marital rape?

Duh, mesti cek-ricek nih ke catatan Komnas Perempuan yang menyebutkan bahwa sepanjang 2017 saja, terdapat 259 ribu laporan kasus kekerasan terhadap perempuan. Dan, untuk kasus kekerasan seksual dalam pernikahan atau marital rape, ada peningkatan 14% pada 2018.

Ya, ada 138 kasus perkosaan dalam pernikahan pada 2018 yang dilaporkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta P2TP2A. Selebihnya dilaporkan ke organisasi masyarakat atau lembaga lain yang menangani kasus serupa.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Saya percaya, dari sekian banyak kasus marital rape yang dilaporkan, ada lebih banyak lagi yang disimpan rapat-rapat oleh para korbannya, dengan alasan bahwa itu aib pernikahan yang tak patut dikonsumsi publik. Apalagi, ini perkara consent, yang menurut sebagian besar masyarakat kita masih tabu.

Kita, perempuan dalam masyarakat ini, sejak dulu didoktrin untuk menjadi seseorang yang harus manis, penurut, dan manut terhadap laki-laki, terutama suami. Termasuk, urusan ranjang. Bahkan, ada juga lho di masyarakat kita yang meyakini bahwa suami selingkuh atau menikah lagi karena istrinya tidak pandai memuaskan suami di ranjang.

Duh, suami yang kebelet selingkuh, kok istri yang disalahin? Suami ngebet mau nikah lagi, kok cari-cari pembenaran yang memojokkan istri?

Oh ya, baru-baru ini, seorang artis asal Turki, Vahit Tuna, mengadakan ’pameran’. Itu bukan pameran instalasi seni biasa, namun sebuah instalasi yang mengiris hati. Tuna ’menghiasi’ dinding luar gedung Kahve Dunyasi, di Istanbul, dengan 440 pasang sepatu perempuan.

Sebanyak 440 pasang sepatu itu sebagai representasi jumlah perempuan yang meninggal dunia di tangan suaminya, karena kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), termasuk marital rape. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah Emine Bulut dibunuh oleh mantan suaminya, di depan anak mereka. Dan, karena kasus ini, muncul lah gerakan #WeDontWantToDie sebagai gerakan anti-pembunuhan terhadap perempuan.

Artikel populer: Karena Seks Memang Harus Bebas

Dari peristiwa itu, pelan-pelan masyarakat Turki belajar memahami bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan bukan hal yang main-main. Dan, masyarakat kita seharusnya sudah selangkah di depan Turki. Sebab, saat kaum patriarki di Turki masih terkaget-kaget dengan isu kesetaraan gender, kita sudah memulainya terlebih dahulu. Salah satunya, lewat UU penghapusan kekerasan dalam rumah tangga pada 2004.

Lalu, saat ini, kita masih menunggu DPR untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) sebagai produk hukum yang bersifat lex specialis bagi para perempuan, korban kekerasan seksual.

Dengan pengesahan RUU PKS, perempuan korban kekerasan seksual akan lebih terjamin keselamatannya. Bahkan, bisa melindungi korban dari masyarakat yang melanggengkan rape culture.

Karena sekali lagi, marital rape itu nyata. Ini bukan tentang kesalahan istri, namun karena para suami yang tak mampu meredam ego. Dan, marital rape bukan perkara mudah di tengah masyarakat yang melanggengkan rape culture.

Apakah kita memang benar-benar hidup di negara ‘rape public’? Lho, katanya republik.

6 COMMENTS

  1. Panjang2 tulisannya dan terlalu maksa nakut2innya. Begini ya Komnas bedakan antara sikap kriminal dg hubungan marital biasa. Banyak juga istri atau suami dibunuh karena mengincar harta warisan bukan karena seks atau perkosaan. Itu perbuatan kriminal. Lalu apa lantas suami istri yg menolak memberi harta harus dihukum. harus dibuatkan RUU Warisan dan Belanja istri/suami. Sepertinya Komnas perlu menikah dan saran saya menikahlah dg pria yg baik dan bertanggung jawab sehingga pikirannya tentram dlm susun masukan sebuah RUU. Tidak menakut2i pembaca dg perbuatan2 kriminal yg bisa saja terjadi pada siapa saja karena memang dirasuki fikiran sesat seperti membunuh karena ingin harta, cemburu buta, emosi tak terkendali, tersinggung akibat salah sikap atau ucapan, hinaan yg terus menerus dll.
    Seperti diketahui hubungan antar manusia terkadang pasang surut. Dg RUU ini jika seandainya kondisi rumahtangga sedang menurun bahkan krisis, maka pasal2 ini bisa menjadi bahan untuk saling menjerumuskan. Alih2 membuat rukun malah semakin mempersenjatai rumah tangga utk memenjarakan pasangan.
    Untuk urusan Perkawinan dan Rumah tangga sebaiknya kembalikan kepada hukum Sang Pencipta yaitu hukum Agama masing2 warga negara. Disana sudah diatur hak dan kewajiban suami/istri juga sanksi bagi pelanggarnya.

    • Nakut nakutin gimana.. kejadian2nya emang kenyataan lho pak..
      Lagian semua juga berharap menikah dgn pasangan yg baik2.. tp dalam perjalanannya kan naik turun..

    • Komen panjang lebar tapi ramashok ke artikel yg ada. Marital rape is real. It happens around you. Kamu tidak mengalami, bukan berarti itu tidak nyata. Show empathy to the victims. Gausah melebar ke cemburu buta, emosi tak terkendali dan lain-lain. Sex dilakukan berdasarkan consent, dan kalau salah satu pihak menyatakan tidak bersedia tapi tetap dipaksa, itu namanya rape. Tolong dimengerti.

  2. buat pa nikah klo ujung2 nya juga memperkosa ,, mnding cari aja jablai pinggir jalan jelas sekalipun perkosa g tanggung jawab gx ksih makn g kasih minum, gk belikan baju,,, artikell taik!!!!

  3. Artikel kelas teri 😂 mulut emak2 bgini, bahasanya gaya logika nya lemah. Istri nolak hub intim karena ga mood trs mau ancam lapor polisi karena merasa diperkosa yowisss cari istri baru pusing2 amatt

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.