Ilustrasi. (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Sejak Awkarin mengunggah foto aneka rangkaian bunga yang berisi ucapan selamat karena ia telah membeli hotel, lingkar pertemanan saya menderita insekyur kolektif – seperti reaksi kebanyakan orang.

Perempuan muda itu, yang usianya paling banter berpaut dua atau tiga tahun di atas kami, telah berhasil membeli tempat tinggal mewah. Sementara, kami masih tidur di kos-kosan yang tiap dua pekan sekali membongkar aib penghuninya, dalam bentuk bunyi token listrik yang mengganggu. Batin kami terusik.

Tak sampai 24 jam, segala bentuk rasa kurang percaya diri itu lenyap. Terkuak sudah, ternyata pamer kekayaan itu hanya gimik pemasaran yang terselubung, promosi yang begitu aduhai dari jasa penyedia tiket dan hotel daring. Kami gembira dan sedih secara bersamaan.

Di satu sisi, kami gembira tak lagi insekyur, karena ternyata itu cuma strategi menggocek – meski sebetulnya tak mengubah fakta bahwa kami masih kere dan Awkarin makin sugih bukan kepalang. Tapi di sisi lain, kami sedih sebab waktu kami habis hanya untuk meratapi iklan.

Baca juga: Seandainya Seleb Internet Jadi Panitia Ospek Online

Sebab itu, saya berinisiatif mempelajari bagaimana pola distribusi gimik ini dan membuat semacam strategi tandingan supaya besok-besok tidak mudah terkecoh. Bukan apa-apa, gimik dari para influencer ini juga menyita waktu dan membuat kita luput pada hal-hal yang jauh lebih substansial.

Maka, simak berikut ini:

1. Tak ada gerakan yang organik di internet

Sepintas lalu, kampanye-kampanye para influencer memang terlihat organik alias terjadi secara alamiah. Pesohor melempar gimik, lalu para pengikutnya memberi tanggapan dengan suka cita. Kemungkinan menjadi viral makin tinggi. Mereka cuan, kita cuma kebagian ributnya.

Tapi kalau mau lebih teliti, sebetulnya hampir tak ada yang organik pada setiap isu yang beredar di internet. Trending topic di Twitter saja lebih sering digerakkan secara sporadis oleh tagar yang dibikin akun-akun bot atau melalui giveaway. Maka dalam setiap isu krusial, selalu ada tim kreatif yang mikir strategi, influencer lain yang diajak kolaborasi, dan klien yang minta revisi.

Baca juga: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Ingat saat Bu Sisca Soewitomo gantung panci? Kita lengah menerjemahkannya secara harfiah. Padahal, panci ya lazimnya memang digantung, masa dirukyah? Apakah geger geden itu terjadi secara alamiah? Enggak, Gan.

Tanpa menanggalkan rasa hormat, dengan pengikut di Instagram yang ‘cuma’ lima puluh ribu dan katakanlah memiliki engagement rate 20% dari jumlah pengikut (yang rasanya jarang sekali), hampir mustahil satu postingan Bu Sisca – dengan kepsyen ambigu – mendapatkan impresi yang begitu luas.

Keberhasilan kampanye yang belakangan kita tahu menjadi ajang promosi fitur kirim makanan dari ojek online ini disokong oleh kolaborasi influencer lintas platform dan lintas audiens. Di Twitter misalnya, beragam akun dengan sasaran audiens yang khusus dan afinitas yang tinggi turut meramaikan kata kunci “Bu Sisca gantung panci” – secara terstruktur, sistematis, dan masif. Silakan lacak di kolom pencarian kalau tak percaya.

Baca juga: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

2. Burn your idols

Jangan, bagian ini jangan diterjemahkan secara harfiah. Kamu bukan Raja Namrud yang tega membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup, kan? Maksud saya, lenyapkanlah segala macam pemujaan dan kultus terhadap idola.

Sebagaimana manusia, mereka memiliki rutinitas seperti kita. Mereka sangat mungkin berbuat kekeliruan, kekonyolan, dan sifat-sifat manusiawi lainnya. Dan, reaksi kita terhadapnya tak perlu berlebihan.

Memang, tidak ada yang lebih memesona ketimbang menyaksikan foto komikal Mas Adam, suami Mbak Inul itu, mencukur kumisnya hingga ludes tak tersisa. Tapi, apa pentingnya membahas siklus hidup bulu di wajah seorang pria dewasa, yang ternyata kampanye terselubung dari layanan e-wallet?

Menggelikan, wqwqwq…

3. Jangan ikuti influencer

Ini tergolong radikal. Cara menghindari menjadi korban iklan di televisi adalah dengan tidak menonton televisi, cara terbaik menghindari patah hati adalah dengan tidak jatuh cinta, dan begitu seterusnya. Ini sangat cocok bagi mereka yang sudah masuk pada tahap mangkel jadi korban gimik-gimik nggak penting para influencer.

Artikel populer: Lebih Dekat dengan Bude Sumiyati, Selebtwit Level Bidadari

Atur lingkar pertemananmu di media sosial. Kendalikan algoritma dan tren-tren di linimasamu, jangan sebaliknya. Jadilah individu merdeka!

4. Berpikir kritis

Sebetulnya ini saran yang dikeluarkan Badan Intelijen Negara (BIN) agar Milenial dan Gen Z nggak terjerumus pada radikalisme dan terorisme. Tapi, karena relevan, maka berpikir kritis boleh juga diterapkan untuk menghindari jebakan gimik influencer.

Selalu skeptis tiap kali ada peristiwa mencurigakan. Misalnya, sesuatu yang sepele tapi jadi perbincangan banyak orang. Kalau perlu kritik habis-habisan. Tentu dengan satu catatan: ancaman UU ITE, Gan.

Duhh…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini