Teroris ya Teroris, Islam ya Islam, Udah Gitu Aja!

Teroris ya Teroris, Islam ya Islam, Udah Gitu Aja!

Ilustrasi (Maret Hosemann via Pixabay)

Sejak awal, memang tak ada yang namanya teroris Islam. Menempatkan kata ‘Islam’ di depan kata ‘teroris’, maka dengan logika yang sama akan ada teroris Kristen, teroris Buddha, dan nama-nama teroris berdasarkan agama lainnya. Padahal, tidak ada satupun agama yang mengajarkan pemeluknya melakukan teror.

Demikian juga dalam Islam. Menjadikan jihad sebagai kata hubung terorisme dan Islam adalah logika paradoksal paling ngawur, karena sejatinya tak ada satupun ayat dalam Al-Qur’an yang menyuruh untuk memulai kekerasan.

Pasca kerusuhan di Mako Brimob, beredar video tentang gerombolan narapidana teroris yang ditangkap dan dikumpulkan dalam satu bus dengan posisi tangan diborgol.

Penampilan mereka mirip kelompok ekstrimis yang memanggul senjata di Afganistan. Begitu juga perilakunya, sama-sama mengusung simbol-simbol agama untuk melakukan perbuatan keji.

Kalau terus begini, citra Islam di mata dunia bakal semakin terpuruk. Makanya, muncul apa yang namanya Islamofobia. Padahal, para teroris cuma ngebet pingin kawin dengan 72 bidadari. Itu juga kalau bidadarinya mau.

Tentu ini tak lepas dari gejolak di Timur Tengah, meski banyak yang salah kaprah. Dalam konteks penjajahan dan agresi militer, mengangkat senjata untuk mempertahankan diri dan melakukan sabotase ke wilayah musuh dibenarkan. Tapi, di negara yang damai, aktivitas itu dipandang sebagai teror.

Jihad mengangkat senjata untuk melawan musuh hanya relevan pada abad pertengahan atau di daerah konflik yang menempatkan umat Islam sebagai kaum tertindas. Adalah tidak nyambung, jika jihad sebagai perang dibawa ke Indonesia yang damai.

Di Indonesia, Islam adalah agama mayoritas. Masjid bertebaran hingga pelosok. Adzan dan khotbah terdengar nyaring ke segala penjuru. Tak ada hambatan dalam menjalankan kegiatan beragama. Sungguh, itu sebuah keleluasaan.

Jika berpikir gerak umat Islam di Indonesia dibatasi, itu sih cuma haluuuu… alias halusinasi akut. Tapi memang bisa saja opini tersebut sengaja dibangun hanya untuk kepentingan politik dan tujuan-tujuan tertentu, eh?

Ada kelompok yang merasa negara hanya akan makmur, kalau dijalankan sistem pemerintahan khilafah. Bagi mereka, apapun masalahnya, khilafah jawabannya. Padahal ya, sudah dari sononya Indonesia itu beragam. Memaksakan tegaknya khilafah hanya akan membuat negara ini bubar.

Jadi, siapa sebetulnya yang ingin negara ini bubar?

Terlebih, upaya itu dilakukan dengan teror dan kekerasan. Bawa-bawa jihad fi sabilillah lagi. Jihad sendiri berasal dari bahasa Arab, dari akar kata jahada-yujhidu-jihad, yang artinya bersungguh-sungguh.

Sudah pada tahulah ya, kalau kata ‘jihad’ bisa dalam konteks yang bermacam-macam. Misalnya, bersungguh-sungguh dalam belajar bagi para penuntut ilmu, meski harus sampai ke negeri China 🙂 . Kemudian, bersungguh-sungguh mencari rezeki, bersungguh-sungguh mencari jodoh, ehm…

Jihad yang berarti ‘perang’ pernah cocok diterapkan ketika agama Islam baru saja tegak. Pada masa-masa awal dakwahnya, Nabi Muhammad SAW berperang dengan bangsa Romawi, Persia, dan Arab pagan. Sebab Islam sangat dimusuhi sebagai agama baru kala itu, penegakannya membutuhkan perjuangan berat.

Hari ini, lewat 1.400 tahun setelah Islam pertama didakwahkan, makna jihad mengalami pergeseran, meski akarnya tetap ‘bersungguh-sungguh’. Sekadar mengingatkan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu.

Kalau bernafsu ingin berkuasa sampai melakukan tindakan teror dan kekerasan, apa namanya coba? Kalau bernafsu ingin mengejar bonus 72 bidadari sampai jadi ‘pengantin’ teroris, apa itu namanya jihad?

Dan, katanya kalian pejuang poligami, syariat yang tertunda itu. Mengapa sudah empat kini malah mengejar 72? Kalian mau melawan atau mengejar hawa nafsu, sih?

***

Sekarang soal khilafah.

Kepemimpinan umat Islam sepeninggal Rasul dipegang oleh para sahabatnya: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

Namun, penyebutan itu bukan atas inisiatif mereka. Keempatnya, pada zamannya masing-masing, lebih sering disebut sebagai Amirul Mukminin yang berarti pemimpin kaum beriman.

Pertanyaannya, kalau mau mendirikan negara khilafah, model pemerintahan seperti apa yang diterapkan dan cocok dengan zaman sekarang?

Model pemerintahan zaman Khulafaur Rasyidin masih berpegang kuat pada aturan kitab suci Al-Qur’an dan menempatkannya sebagai undang-undang yang tunggal dalam setiap urusan negara.

Setelah era itu, muncul dinasti Islam berikutnya, Daulah Umayyah. Dinasti ini punya aturan sendiri. Begitu juga dengan zaman selanjutnya, Daulah Abbasiyah.

Hingga yang terakhir adalah dinasti Utsmaniyah atau yang kerap disebut dinasti Ottoman. Ini adalah dinasti Islam terakhir di muka bumi dengan sistem pemerintahan khilafah.

Sampai dinasti Ottoman yang berada di Turki, jihad dalam artian ‘perang’ masih relevan, meski tidak murni untuk mempertahankan dan menyebarkan agama Islam. Tapi lebih kepada politik, mengingat saat itu terjadi perang dunia pertama dan sengketa tanah Palestina.

Setelah Turki Ottoman runtuh, mulailah berdiri negara dan kerajaan yang mengusung ideologi Islam sebagai dasar negara. Arab Saudi, contohnya. Meski demikian, negara-negara Islam sadar perlunya membangun relasi dengan negara sahabat yang non-Islam dengan alasan pemenuhan kebutuhan domestik.

Sebagai negara Islam konservatif, Arab Saudi tidak nafsu-nafsu amat ingin menegakkan daulah khilafah seperti nostalgia era Ottoman. Bahwa khilafah berujung pada konsekuensi turun pangkat seorang raja atau kepala negara Islam saat ini, karena harus mau mengakui satu pimpinan. Lha, mana ada raja yang mau turun pangkat?

Di sisi lain, kondisi dunia yang relatif aman turut mengurangi urgensi pendirian negara khilafah, yang secara otomatis menegasikan alasan keterancaman umat Islam di tengah komunitas global.

Memangnya siapa yang selama ini bikin kacau dan membangun citra buruk terhadap Islam? Ya, teroris. Yang bawa-bawa agama dan senjata, menembaki dan membom orang-orang yang tidak bersalah. Selain itu, mereka yang menjadi dalang dari kemunculan para teroris.

Terorisme tetaplah menjadi ancaman, dan itu sudah jelas bukan ajaran agama. Sebab Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin dan jihad fi sabilillah tidak identik dengan kekerasan.

Udah gitu aja.