Kematian Hawking di Hadapan Orang-orang yang Julid

Kematian Hawking di Hadapan Orang-orang yang Julid

Stephen Hawking (Thinking Minds)

“Although I cannot move and I have to speak through a computer, in my mind I am free. (Stephen Hawking)

Ia lahir ketika peringatan kematian Galileo, dan ia meninggal saat perayaan hari kelahiran Albert Einstein. Dialah sang fenomenal, sang ‘nabi’ abad baru di dunia sains, Stephen Hawking.

Dunia pun berkabung untuknya. Headline seluruh kantor berita di dunia ini menulis namanya dengan tinta hitam: Stephen Hawking, dies in age 76.”

Dan, kenangan-kenangan akan Hawking pun mengalir, layaknya sajak duka yang biru dan getir. Ia yang lebih dari separuh hidupnya duduk di kursi roda karena Lou Gehrig yang dideritanya, toh tetap saja menorehkan banyak cerita, bukan sekadar cerita tanpa arti, melainkan tentang dunia dan seisinya.

Ia yang mampu menjelaskan seisi dunia hingga partikel-partikelnya, ia yang menuliskan semua yang ada di dalam kepala merdekanya.

Banyak buku yang ia tulis dengan para koleganya, antara lain A Brief History Of Time, Black Holes and Baby Universes and Other Essays, The Universe in a Nutshell, dan On the Shoulders of Giants.

Buku lainnya adalah God Created the Integers; The Mathematical Breakthroughs That Changed History, The Dreams That Stuff Is Made of; The Most Astounding Papers of Quantum Physics and How They Shook Of Scientific World, dan My Brief History.

Dan semua itu, ia tulis tatkala Lou Gehrig memeluknya erat, memenjarakan tubuhnya di atas sebuah kursi roda. Namun, itu justru memerdekakan pikirannya, jauh ke alam semesta.

Betapa dunia kini berpayung hitam, sang ‘Nabi Fisika’ itu telah berpulang. ‘Nabi’ yang merdeka, bukan karena tubuhnya bebas ke mana saja, tapi merdeka yang sesungguhnya. Sebab sejatinya merdeka itu ada di kepala, juga jiwa.

Sayangnya, di antara riuh pahit getir rasa kehilangan, sebagian masyarakat kita, terutama netizen, justru bersikap tak punya hati kepada yang mati.

Mereka sibuk menanyakan tentang agama Hawking, tentang sematan kata ateis seolah ia sungguh penuh dosa. Kemudian, menimbang dan mengukur, akankah Hawking bertemu Tuhan yang tak dipercayainya, atau apakah Tuhan mau menerimanya di pintu surga yang selama ini disangkalnya.

Betapa sempitnya, betapa kerdilnya.

Ketika suara-suara tak berhati itu justru muncul dari mulut-mulut orang yang selama ini mengaku berpendidikan tinggi, mengaku sebagai manusia yang paling toleran, mengaku sebagai manusia yang paling berpikir logis.

Lalu, semuanya seperti balon yang pecah karena saking gembungnya berisi udara….

“Matinya Stephen Hawking si ateis.”

Menarik bukan, saat semua yang sudah dilakukan oleh seseorang, betapapun baiknya, betapapun bergunanya bagi sebuah kemajuan ilmu pengetahuan, lunas dalam hitungan detik hanya karena kata ateis.

Celakanya, stempel itu diamini dan diikuti oleh orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi dan juga berlatar belakang sains.

Entah fenomena apa yang bikin melongo ini, seolah kata-kata Mephistopheles menampar tepat di muka, tak lagi pipi kanan kiri, tapi tepat di muka, But wisdom, knows the mines, where you gets more, in mountain veins, foundation falls.”

Setinggi itukah arogansi sebagian masyarakat kita dalam menuhankan agama? Melupakan sisi kemanusiaannya, melupakan bahwa manusia lain pun punya hati dan rasa. Bahwa masih ada kata tenggang rasa yang bukan sekadar kata. Masih ada kata empati yang juga sarat makna.

Empati yang minus saat memandang seseorang yang berbeda keyakinannya, lewat justifikasi yang tak perlu ini seolah mengingatkan kembali pada teori-teori Hans Albert dalam bukunya “Rekonstruksi Nalar Kritis”.

Di situ, Albert sempat membahas tentang bagaimana dualisme kebenaran ditimbang tak seimbang sebagai sebuah kebenaran ganda lewat perilaku masyarakat yang cenderung menafikkan ilmu pengetahuan dan menolak berpikir kritis.

Itu hanya karena dianggap tak sejalan dengan teologi, keimanan, serta dogma yang diyakininya.

Albert menyebutnya sebagai mere calculating rationality. Saat logika tak lagi sejalan dengan keimanan, yang membuat manusia enggan berpikir secara rasional tentang segala sesuatu. Mereka hanya berpatokan, berkeyakinan, serta memegang teguh prinsip pada ‘kebenaran’ timbangannya sendiri.

Menyedihkan sekali.

Saat logika dikesampingkan, rasio akal sehat dipinggirkan, hanya karena fanatisme buta bahwa orang yang beragama lebih tinggi derajatnya ketimbang orang yang tak meyakini adanya Tuhan.

Padahal, kita tahu, beberapa tahun terakhir ini justru dunia dirusak oleh orang-orang yang mengklaim dirinya paling ‘beragama’ dan merasa lebih tinggi derajatnya dari manusia yang lain.

Bukankah itu sesuatu yang ambigu?

Adab ketimuran kita senantiasa mengajarkan untuk mengenang yang mati dalam balutan-balutan kebaikan, memaafkan segala kesalahan, melupakan sakit yang pernah mereka torehkan.

Tapi sepertinya, di hadapan manusia yang mabuk agama, adab semacam ini tak lagi ada artinya.

Padahal, jika kita bicara adab pun, seharusnya mengenai orang yang kita kenal secara personal, yang menyentuh kita langsung dengan tangannya. Sementara Hawking jauh di sana. Kita hanya mengenalnya lewat teori-teori Big Bang, yang menginspirasi banyak cerita seperti Game of Thrones dan lainnya.

Apa hak kita menjustifikasi kebaikan orang yang tak kita kenal secara personal dalam stempel kejahatan yang paling hitam di muka bumi ini, hanya karena dia ateis?

Kematian Hawking meninggalkan bahan renungan yang lebih sempit dari yang saya kira. Saya pikir, kematiannya akan meninggalkan banyak PR sains dan banyak hal grandeur lainnya.

Siapa sangka, kematiannya ‘hanya’ meninggalkan sebuah renungan kerdil tentang seberapa berharganya kita sebagai manusia di hadapan orang-orang yang julid, jika kita menjadi seorang ateis.

Salahkah, jika seorang manusia memilih menjadi ateis atau menjadi apapun yang ia inginkan? Bukankah hak hidup seseorang dimiliki secara penuh oleh orang tersebut, bukan oleh orang lain atau masyarakat?

Sepertinya, Hawking sendiri paham, jika apa yang dilakukannya bagi ilmu pengetahuan tak lantas membuat semua orang memujanya hanya karena ia memilih untuk ‘berdiri di seberang’ Tuhan.

Hal itu ia tuangkan dalam salah satu seri buku fiksi ilmiah, yang ia tulis bersama Lucy, putrinya. Dalam buku George and The Blue Moon, Annie memilih menjadi dirinya sendiri, dengan tidak mempedulikan apa kata teman-temannya yang memang kesulitan memahami karakter serta cara berpikirnya.

Selamat jalan Mr Stephen Hawking…

Mungkin jasadmu tenggelam dalam lubang hitam segelap black hole, tapi karya-karyamu akan tetap cemerlang menjadi terang bagi sejuta jalan ilmu pengetahuan baru.

3 KOMENTAR

  1. Anda tidak setuju/kurang nyaman dengan pandangan/komentar orang yang memiliki Iman (Agama) tapi anda pun melakukan hal yang sama dengan mereka. 🙂 never ending story

    Jika anda memilik “pandangan sama” dalam meng-TUHAN-kan LOGIKA/RASIONALITAS maka sampaikan apa yang menjadi pencapaian terbaik seorang Stephen, itu akan lebih bijak.

  2. Sayangnya, saya termasuk orang yang merasa bahwa iman seseorang adalah ranah pribadi, yang tak perlu di-justifikasi ataupun dipamerkan, sebagaimana kita menyembunyikan dosa-dosa kita 😊

    Sebetulnya pendapat anda pun kembali ke diri anda kok, sebagaimana anda menjustifikasi saya sebagai orang yg menuhankan rasionalitas…

    O ya, sayangnya, saya hanya sebagian kecil manusia yg percaya, bahwa logika dan agama bisa kita amini sebagai jalan hidup kok 😊
    Beragama, bukan berarti tak mempunyai akal dan logika to 😊

    Terimakasih apresiasinya,
    Salam

    • Maaf, baca tulisan saya dengan seksama tanpa perlu menggunakan ego, untuk klarifikasi Alinea #1 dan #2 dari tulisan jawaban anda.

      Saya sangat setuju dengan anda di alinea #3 pada tulisan jawaban anda dan silahkan gunakan totalitas logika /rasio dalam mempelajari agama anda. Karena saat ini, media belajar agama melalui media tulisan (Kitab) dapat kita pelajari dengan mudah.

      Dengan senang hati, saya akan menunggu kesimpulan anda dari pendalaman kitab agama yang anda anut untuk bisa saling berbagi ilmu.

      Terimakasih feedbacknya,
      Salam

TINGGALKAN PESAN