Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Spider-Man: Far From Home (Instagram/@tomholland2013)

Sebagai pahlawan puber, eh super, Spider-Man tampaknya tidak disiapkan untuk melawan musuh yang overpower macam Ultron atau Dormammu yang membahayakan jagat raya. Peter Parker menjadi Spider-Man untuk menjaga lingkungan saja. Semacam hansip belia dengan kostum kelewat canggih.

Di film sebelumnya, Spider-Man: Homecoming, sang manusia laba-laba harus berhadapan dengan si burung bangkai alias The Vulture. Sebenarnya, Spider-Man dan Vulture adalah lawan yang sepadan. Keduanya punya kesamaan: memungut puing-puing kejayaan pihak lain. Spider-Man numpang tenar dengan Iron Man. Sementara, Vulture tercipta dari sisa-sisa teknologi alien yang sebelumnya dipecundangi oleh Avengers.

Di film pertama, Peter Parker sangat percaya diri dan ‘banci tampil’. Sampai ia bertindak gegabah dan bikin Tony Stark sang mentor jadi sebel. Namun, di film keduanya, Peter jadi anak yang minder. Mungkin karena pernah jadi korban jentikan jari Thanos yang membuatnya mengeluh, “Mr Stark, I don’t feel so good.” Seolah kepercayaan dirinya terhapus jadi debu dan tidak kembali lagi.

Peter juga menyamakan profesi superhero sama seperti pegawai kantoran yang butuh liburan. Ketika musuh mengancam, Peter tak mau ikut-ikutan. Sebab, ia ingin fokus pedekate dengan gebetannya, yakni MJ yang terancam ditikung teman sekelas. Memang inilah konflik yang wajib ada di kehidupan setiap Peter Parker: percintaan.

Baca juga: Membayangkan ‘Superhero’ Marvel Beraksi di Indonesia

Peter Parker versi Tom Holland memang masih terbilang anak baru dibandingkan dengan dua seniornya. Namun, Peter Parker era milenial ini seperti tak mau mengulang kesalahan Peter Parker edisi Tobey Maguire yang sering mengecewakan Mary Jane. Dari mulai telat datang pas kencan, ingkar janji, mangkir dari undangan, sampai jadi emo yang nggak jelas juntrungannya.

Apalagi, Peter Parker mode nangisan ala si cengeng Andrew Garfield: tiap seri ada tokoh penting yang mati. Paman Ben pun hidup-mati hidup-mati karena waralaba yang amazing ini.

Spider-Man kemasan Tom Holland mengakhiri repetisi kematian Paman Ben. Memang, Paman Ben bukan Kuririn yang seenaknya bisa dibunuh kapan saja, lalu dibangkitkan pakai bola naga. Terima kasih, Jon Watts!

Bersama Tom Holland, kita juga bisa percayakan MJ versi Zendaya akan punya akhir cerita yang bahagia. Tidak perlu bernasib sama dengan Gwen Stacy yang diperankan oleh Emma Stone. Tidak juga seperti di film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse, dimana Mary Jane harus menjanda karena cerai hidup atau ditinggal mati suaminya.

Baca juga: Andaikan Jon Snow dan Tony Stark Curhat ke Cermin Lelaki

Sebagai penghubung antara akhir era Iron Man dan pambuka fase keempat Marvel Cinematic Universe, Spider-Man: Far From Home memuat banyak sekali referensi dari film-film pahlawan super Marvel sebelumnya. Jadi, Spider-Man hampir mirip seperti Deadpool yang banyak menyinggung nama superhero lain. Bahkan, dalam satu adegan heroik, Spidey sempat bikin parodi tentang Thor dan Captain America.

Di film solonya, Spider-Man masih belum bisa lepas dari magnet Iron Man. Bagi Peter, Tony Stark adalah sosok paman ketemu gede yang ia sayangi dan rindukan. Di semesta sinematik Marvel, Tony Stark sudah seperti Paman Ben yang mengajarkan kepada Peter bahwa orang yang memiliki kekuatan besar harus memikul tanggung jawab yang juga besar.

Sepeninggalnya Iron Man (I love you 3000, Mr. Stark!), Spider-Man dapat warisan dari Tony Stark. Nah, warisan inilah yang nantinya jadi sumber keributan. Yang bisa disebut sebagai kekuatan besar dalam makna sebenarnya.

Baca juga: X-Men Mestinya Ganti Nama Jadi X-Women

Selain itu, sang jagoan harus menghadapi makhluk-makhluk Elemental dari dimensi lain. Para makhluk misterius ini terdiri dari empat elemen alam seperti di animasi Avatar: The Legend of Aang, yaitu air, api, udara, dan tanah. Kali ini, Spider-Man dibantu oleh Mysterio, pahlawan super anyar.

Kepada Peter Parker dan Nick Fury, Mysterio bercerita, “Dahulu saya dan penduduk bumi di dimensi lain hidup damai. Namun, semuanya berubah saat Elemental Api menyerang.”

Konon, tujuan The Elementals ngamuk di berbagai belahan dunia adalah untuk melalap inti bumi sampai lenyap. Wabil khusus, Elemental Api yang paling kuat sebagai bos terakhir. Bersama Mysterio, Spider-Man pun melawan Revolusi Mental Elemental.

Namun, sekali lagi, Spider-Man adalah pahlawan puber yang tugasnya menjaga lingkungan. Musuh semacam Elemental terlalu imbalance untuk Spidey yang masih imut-imut. Nyatanya, antagonis di film ini bukan itu. Memang ada empat elemen, tapi elemen-elemen itu adalah hoaks, pencitraan, prank, dan fitnah.

Pertama, hoaks. Isu Elemental yang mengancam keselamatan bumi ternyata hoaks. Para Elemental hanyalah ilusi ala CGI sinetron laga lokal. Musuh yang sengaja diciptakan dan dikalahkan sendiri oleh musuh yang sebenarnya.

Artikel populer: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Kedua, pencitraan. Sekelompok orang sengaja membuat drama pertempuran settingan untuk mengangkat nama seorang tokoh. Setelah itu, elektabilitas tokoh ini naik dan menjadi pahlawan palsu.

Ketiga, prank. Demi konten, pelaku kejahatan menjebak target dengan perangkap dan tipu daya yang mengandung clickbait. Setelah mangsa termakan umpan, ia tertawa bersama tim kreatifnya.

Terakhir, fitnah. Seperti yang sudah-sudah, Spider-Man dituding seolah-olah ia adalah penjahatnya. Yang sabar ya, Peter. Habiskan jatah kambing hitammu sebelum datang jatah kambing gulingmu.

Cerita Spider-Man telah menyesuaikan zaman. Tak ada lagi musuh abadi Spider-Man seperti Green Goblin, Doctor Octopus, atau Venom. Musuhnya kini hanya manusia biasa penuh dendam dan haus popularitas dengan teknologi multimedia tingkat tinggi. Sangat relevan dengan pesatnya era informatika seperti saat ini.

Ketika berita bisa direkayasa, kabar bisa dikaburkan, sudah barang tentu kita perlu cek dan ricek. Film superhero Marvel dengan Nick Fury di dalamnya selalu mengingatkan kita tentang satu pelajaran penting: jangan (gampang) percaya siapapun.

Sebab, ketika kita sudah percaya, kemungkinannya hanya dua; kepercayaan berikutnya di masa depan atau berakhir menjadi kekecewaan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.