Sosialita dan Buka Bra Ala Feminis

Sosialita dan Buka Bra Ala Feminis

Ilustrasi (nydailynews.com)

Tanggal 13 Oktober rupanya menjadi hari gencatan senjata bagi para serdadu perang hashtag di Republik Twitter Indonesia. Sebab, pada tanggal tersebut, nyaris tidak ada hashtag (#) soal Presiden Jokowi dari lovers maupun haters.

Pada 13 Oktober, linimasa Twitter dipenuhi oleh #NoBraDay. Hashtag hari tanpa bra atau BH atau kutang itu bahkan menjadi trending topic dunia. Pada tanggal tersebut, perempuan diminta berpartisipasi untuk tidak memakai bra seharian penuh.

Tapi jangan ngeres dulu, No Bra Day sebenarnya bentuk keprihatinan dan solidaritas terhadap penderita kanker payudara. Belakangan ini, kanker payudara menjadi pembunuh nomor satu perempuan Indonesia.

Lalu, apa hubungannya bra dengan kanker payudara? Wah, saya tidak tahu persis, karena saya tidak pakai bra. Tapi menurut penelitian, memakai bra terlalu lama bisa meningkatkan suhu di sekitar payudara, yang bisa memicu timbulnya kanker.

Seorang ilmuwan dari Australia bernama Soma Grismaijer pernah melakukan penelitian. Intinya waktu ideal mengenakan bra adalah kurang dari 12 jam. Biar nggak kepanasan atau overheating kali. Ayo lepaskan kalau sudah kelamaan.

Nah, tidur adalah saat yang tepat untuk mengistirahatkan payudara. Mungkin dia lelah… Jadi, jangan malu-malu, bukalah bra kalau mau tidur. Buka yang lainnya juga boleh.

Sebenarnya masalah bra atau tanpa bra sudah hot sejak lama. Pada 1970-an, seiring revolusi pemikiran tentang peran perempuan di Amerika, kaum feminis memprotes ikon-ikon yang dianggap mengekang perempuan. Salah satunya bra.

Salah seorang feminis intelektual, Germaine Greer bahkan menyebut bra sebagai produk yang menggelikan. Ketika itu, banyak perempuan memutuskan untuk tak lagi mengenakan bra. Gerakan ini cukup memukul industri bra.

Cikal bakal bra memang tak lepas dari industri, sosialita, dan perang. Bra pertama kali muncul di Prancis pada 1889. Waktu itu namanya brassiere. Desain bra itu dibuat oleh seorang pengusaha pakaian bernama Herminie Cardolle.

Bentuknya masih menyerupai korset. Lalu, kebiasaan memakai korset sempat punah ketika Perang Dunia I. Ketika itu, industri militer negara-negara yang terlibat perang membutuhkan banyak logam untuk memproduksi peralatan perang.

Nah, logam pada korset kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan yang dianggap jauh lebih mendesak kala itu. Hasilnya, sebanyak 28.000 ton logam berhasil dialihfungsikan untuk keperluan industri perang. Jumlahnya bahkan cukup untuk membuat dua buah kapal perang besar.

Namun, rupanya perempuan di Amerika kreatif-kreatif. Mereka putar otak untuk mencari alternatif pembungkus dada. Sampai pada akhirnya Mary Phelps Jacob, seorang sosialita Amerika, mulai memperkenalkan bra modern yang pertama pada 1910.

Awalnya, Jacob bermaksud menghadiri sebuah pesta besar dengan mengenakan sebuah gaun malam tipis berpotongan dada rendah. Bersama salah seorang pelayannya, dia lalu membuat pakaian dalam dari dua saputangan sutra yang disatukan dengan pita merah muda.

Bra modern kemudian diproduksi secara massal. Pada 1920-аn, Ida dan William Rosenthal mendirikan perusahaan pembuat bra, Maidenform, yang akhirnya sukses luar biasa.

Maidenform bahkan masih beroperasi sampai sekarang. Produsen-produsen bra saat ini juga menjamur. Indahnya kapitalisme. Dari urusan penyangga payudara sampai menjadi mesin pencetak uang.

Tapi saya punya teman wanita. Sehari-hari dia mengaku tidak pernah memakai bra. Bukan lagi No Bra Day, tapi levelnya sudah No Bra Everyday, bahkan everywhere.

Perilaku teman saya itu pasti tidak disukai kaum kapitalis penghasil bra. Bagaimana kalau banyak perempuan berperilaku sama? Mungkin bra bakal masuk museum. Apakah No Bra Day akan berubah menjadi No Bra Everyday?