Sok Kenal Sok Dekat Justru Bisa Bikin Ribet

Sok Kenal Sok Dekat Justru Bisa Bikin Ribet

Ilustrasi (Image by Engin Akyurt from Pixabay)

Meski berdomisili di Bandung Timur, ada sebuah tempat di Jakarta yang saya tahu betul seluk-beluknya karena cukup sering ke sana. Bukan karena rindu, melainkan terpaksa. Tempat itu adalah pangkalan bus di daerah Cililitan.

Pangkalan bus itu selalu menjadi tempat untuk mengawali petualangan di Ibu Kota atau perjalanan penuh kerinduan pada rumah. Tempat tersebut dan bus-bus yang terparkir di situ juga menjadi pelajaran tentang relasi dengan orang asing (stranger). Ya, untuk para perantau atau komuter, transportasi umum seperti merangkum sebagian dari hidup.

Maka, saya jadi bad mood ketika lini masa media sosial memperlihatkan perdebatan tentang iklan KitaBisa di KRL.

“Bapak-bapak SKSD banget, ngajak ngobrol di kereta!” – “Padahal, dia tahu kok kamu lagi capek. Dia cuma kangen sama anaknya yang seumuran kamu. Anaknya tinggal di kampung, sementara dia cari nafkah di ibukota (ibu kota, btw). Buat kamu mungkin dia kebanyakan basa-basi, tapi buat dia percakapan ini jadi obat kangen yang sangat berarti.”

Baca juga: Percakapan-percakapan Ajaib di Dalam Transportasi Massal

Saya langsung tak sepakat, karena yakin bahwa seorang ibu atau bapak yang memahami anaknya tidak akan mengusik ketika ia tahu bahwa anaknya sedang merasa lelah.

Lalu, mengapa perlu membahas itu? Ini penting karena berkaitan dengan kebijakan kita dalam meletakkan diri di posisi orang lain. Jika seorang ibu atau bapak bisa memahami anaknya, mengapa banyak orang lain yang tidak bisa paham, terutama atas ketidaknyamanan lawan bicaranya?

Ketika membaca iklan itu di media sosial, secara otomatis memori saya memutar ulang beberapa pengalaman buruk yang identik dengan kata “SKSD” alias sok kenal sok dekat.

Sebelum ini, saya pernah menulis tentang pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang asing di transportasi umum. Sebab, ada satu pengalaman dengan orang SKSD yang sangat membekas dan bikin kapok bicara dengan teman duduk di angkutan umum.

Baca juga: Nyaris Jadi Korban Pelecehan Seksual Pengemudi Ojek ‘Online’

Pengalaman buruk itu ternyata juga dialami banyak orang. Beberapa orang turut menceritakan kisahnya di media sosial. Bahkan, ada yang menjadi korban gendam, hipnotis, copet, penguntitan, pelecehan seksual, dan lainnya. Tahun lalu, di KRL saja, ada 34 kasus pelecehan seksual terlapor – 20 di antaranya dibawa ke ranah hukum.

Dengan kata lain, orang-orang yang menganggap bahwa iklan itu mengganggu, berarti pernah merasakan – atau minimal punya pengetahuan yang cukup tentang – menjadi korban perampasan hak-hak individu atas ruang privat.

Sebaliknya, ada yang mengatakan “hidup jadi ribet banget, ngajak ngobrol aja dianggap pelecehan” atau “ngobrol nggak bisa digeneralkan sebagai pelecehan” atau “ramah itu kan budaya Indonesia, kenapa harus bawa yang bukan budaya kita?” Bahkan, setelah iklan itu akhirnya diturunkan, banyak yang berkomentar bahwa itu atas dasar kekuatan SJW!

Baca juga: Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

Sorry to say, ini adalah perkara perampasan ruang privat – yang tidak mengenal batas-batas wilayah kultural. Kita semua berhak atas hidup nyaman. Hak asasi manusia itu keberadaannya mendahului negara dan sistem hukum positif. Ia tidak diberikan oleh negara, tetapi melekat pada manusia sebagai manusia.

Siapapun orangnya, berhak punya ruang privat. Ketika hidup kita jadi urusan tetangga atau teman duduk di angkutan umum – bahkan sampai tak punya kontrol terhadap hidup atau tubuh kita sendiri – ketika itulah kita sedang dijajah.

Alih-alih membuat pihak yang terjajah berani memperjuangkan haknya, malah ada upaya memaklumi bahwa sikap SKSD itu tidak apa-apa. Ya, kapan merdekanya kalau gitu?

Soal keramahtamahan, itu pada dasarnya merupakan sikap yang memang diharapkan dalam hubungan antar manusia sehari-hari. Orang yang baik hati, menarik budi bahasanya, manis tutur kata, dan sikapnya tentu akan menyenangkan. Persoalannya, selama ini telah tercipta suatu kondisi yang membuat kebanyakan orang tidak percaya bahwa interaksi dengan stranger bisa berakhir baik-baik saja.

Artikel populer: Orang kok Bisa-bisanya Bilang Tiket Pesawat Tidak Mahal?

Iklan sudah diturunkan. Pihak KitaBisa bahkan merilis permintaan maaf. Lalu, apakah kita bisa bersorak? Tentu tidak. Bukan itu substansinya. Tidak ada yang perlu disorak-soraikan di tengah kondisi masyarakat yang masih menganggap bahwa membuat orang lain tidak nyaman itu tidak apa-apa – dengan alasan ramah tamah.

Bukankah, setelah merdeka, tak hanya melepaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan, tapi juga perlu menyusun sistem hidup yang baru? Hal ini kerap dilupakan setelah revolusi nasional.

Maka, problem pelecehan bukan sekadar tanggung jawab perempuan sepenuhnya atau laki-laki sepenuhnya. Begitu kan perdebatan selama ini? Kamu berada di pihak perempuan atau laki-laki? Kamu playing victim atau tidak? Selalu begitu. Padahal, siapapun kamu, setiap orang yang hidup di tengah masyarakat punya tanggung jawab atas terciptanya harmoni.

Jadi, daripada menghakimi, lebih baik menggali dan berbagi pengalaman serta sudut pandang deh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.