Ilustrasi work from home (Photo by Andrea Piacquadio from Pexels)

Datanglah Virus Corona yang membuat ketakutan bagi sebagian besar warga dunia. Panic buying. Paranoid. Hal-hal yang jarang kita munculkan dalam keseharian sebelum wabah itu.

Di MRT, mata melihat dengan penuh kewaspadaan pada seorang perempuan bermasker yang sesekali batuk di sudut gerbong. Di antrean sebuah toko roti modern yang memajang jualannya secara terbuka, seorang bapak bersin, dan beberapa pengantre di belakangnya perlahan meletakkan kembali baki berisi beberapa roti yang masih hangat yang tadinya akan menjadi kudapan mereka.

Cuplikan-cuplikan viral bermunculan di platform media sosial. Mempertontonkan beberapa contoh kekisruhan di pusat perbelanjaan di berbagai belahan dunia. Dua orang berebut tisu gulung. Begitu sengitnya mereka rebutan, hingga petugas supermarket melerai dan memutuskan untuk menghukum mereka dengan tidak memperbolehkan mereka membeli barang tersebut.

Masker? Tidak perlu diperdebatkan lagi betapa dicarinya benda ini. Masih dengan prinsip ekonomi, permintaan yang tinggi memunculkan efek harga menjadi ikut melonjak. Tidak peduli dengan isu kemanusiaan, tidak hanya penimbunan masker baru saja menjadi fenomena, bahkan polisi menemukan penimbunan masker bekas untuk dipakai lagi!

Baca juga: Bagaimana Mengelola Masker dengan Baik, Mirip Mantan

Isu lockdown muncul, kembali ada pro dan kontra mengenai wacana ini. Tak sedikit yang menyetujui, namun tidak sedikit pula yang menentang. Dari argumen logis sampai penjelasan yang egosentris.

Semua itu kurang lebih merefleksikan perilaku manusia belakangan ini yang bernuansa negatif. Perilaku yang masih dapat dikategorikan ‘wajar’ sebagai respons dari situasi yang tidak dapat terprediksi. Insting bertahan hidup mengambil alih proses kognitif yang taat logika: yang penting saya bisa selamat.

Lockdown sudah menjadi pilihan beberapa negara di dunia. Beberapa lainnya lebih memilih menggunakan pendekatan edukasi kuat tentang social distancing. Social distancing menjadi sejenis ilmu baru yang dalam hari-hari ini kita bisa temukan infografis maupun video pendeknya dari sumber yang cukup dapat dipertanggung jawabkan.

Intinya, social distancing adalah menghindarkan orang dari kerumunan dan menjaga jarak satu sama lain untuk mencegah atau memperlambat penyebaran penyakit. Bagi yang tetap bekerja di luar rumah, tetap semangat! Salut untuk kalian. Bagi yang positif COVID-19, semoga cepat sembuh, doa kami selalu menyertaimu!

Baca juga: Virus Corona: 4 Hal Penting untuk Menghindari Penularan Baru

Nah, menyikapi isu lockdown dan social distancing yang mendunia saat ini, saya melihat sebuah peluang besar untuk mendudukkan kembali posisi dan kekuatan sebuah keluarga.

Seperti yang kita bisa rasakan sendiri, kita acap begitu sibuk dengan pekerjaan, bisnis, pencapaian-pencapaian manusia dewasa lainnya, hingga terkadang kita lupa dengan komunikasi yang hangat dalam keluarga.

Tidak jarang dari kita bahkan karena sudah amat terbiasa dengan aplikasi pesan online, memanggil atau berkomunikasi dengan pasangan kita di rumah, pakai WhatsApp. Memanggil anak kita yang sedang asyik dengan gadget di kamarnya di lantai atas, dengan menggunakan direct message Instagram.

Betul, teknologi dan perkembangan peradaban membuat adanya distancing itu sendiri antar anggota keluarga kita di rumah.

Saat ini, sebagian besar pekerja didorong untuk bekerja dari rumah. Di DKI Jakarta dan daerah lain, semua sekolah diinstruksikan untuk tutup sementara, dan siswa belajar di rumah dengan panduan orangtua.

Di balik besarnya upaya kita untuk menyesuaikan metode bekerja yang baru, sebetulnya kita sedang mendapat peluang untuk memperbaiki jalinan komunikasi keluarga di saat seperti ini. Mau tidak mau, banyak keluarga yang akhirnya menghabiskan waktu di rumah. Tak hanya itu, para orangtua pun akhirnya mau tidak mau mengajarkan anaknya menggantikan peran guru di sekolah. Meskipun, peran tersebut memang seharusnya diemban oleh orangtua dan guru hanya sebagai penguat, bukan?

Baca juga: ‘Panic Buying’ Hanya Mereka yang Berduit, Sobat Misqueen Bisa Apa?

Tiba-tiba, banyak anak menjadi berstatus homeschooling. Suami istri yang tadinya bertegur sapa, bahkan mungkin akhirnya hanya berkomunikasi dengan instruksi-instruksi atau informasi saja dengan pasangannya, mau tidak mau sekarang harus bertatap muka dan terpaksa mau belajar kembali berkomunikasi lebih hangat seperti awal-awal perkenalan dulu.

Bagi orangtua yang dulunya berdalih terpaksa memberi gadget kepada anak dengan alasan tidak ada waktu, lagi-lagi, momen saat ini adalah momen dimana kita bisa mengevaluasi diri, serta mengeksplorasi bentuk harmonisasi yang lebih baik dengan anak-anak kita.

Apa dampak positif dari kembali ke khittah seperti ini? Tentu banyak. Dan, bagi setiap keluarga, dampak positifnya bisa amat beragam. Tanpa kemudian mengesampingkan teknologi, karena untuk orangtua yang belum punya ide apa yang harus dilakukan, tinggal browsing, maka dengan segera bisa menemukan hal-hal menarik yang dapat dilakukan bersama anak dan pasangan dalam menjalani hari-hari baru ini.

Bukalah situs parenting, situs yang mengulas mengenai hubungan berumah tangga, temukan beragam sumber menarik di internet. Toh, menyalakan televisi maupun mengakses portal berita hanya akan diisi dtopik COVID-19 yang mungkin bikin tambah para paranoid.

Artikel populer: Virus Corona: 10 Alasan Mengapa Anda Tidak Perlu Panik

Bagi orangtua yang harus mengajarkan materi sekolah kepada putra-putrinya, ini menjadi kesempatan untuk melatih empati pada guru di sekolah. Mencoba meresapi betapa tidak mudahnya tugas mencerahkan para siswa di sekolah. Mencoba memahami mengapa seorang guru bisa terkadang menampilkan emosi negatif, marah, dan memberi teguran pada anak kita.

Maka, ini saatnya kita mengembalikan harmonisasi keluarga. Menguatkan kembali sendi-sendi fundamental manusia. Tidak hanya dalam skala mikro, namun ketahanan peradaban manusia.

Semoga saja begitu, bukan malah di rumah pada sibuk dengan gadget masing-masing. Atau, jalan-jalan karena merasa ini seperti musim liburan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini