Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Ilustrasi (Vicki Nunn via Pixabay)

Feminisme menjadi ideologi yang merebak di kalangan milenial. Narasinya begitu dekat dengan keseharian. Bukan hanya persoalan hak perempuan, melainkan juga laki-laki. Ini yang menjadikan feminisme terus mendapat respons positif.

Namun, ada saja yang menyederhanakan feminisme dengan narasi yang tidak tepat. Misalnya, tentang beberapa hal yang harus ditinggalkan ketika memilih menjadi seorang feminis.

Narasinya kira-kira begini, “Orang-orang feminis suka halu, bilang anti-patriarki tapi menikmati ‘fasilitas’, ‘hak istimewa’, dan ‘kenyamanan’ yang dibentuk sistem patriarki.”

Contoh yang sederhana adalah dibayarin ketika kencan, terus dibantu kalau angkat barang yang berat-berat. Kemudian, disediakan kursi khusus perempuan di angkutan umum hingga urusan domestik dan selalu ingin dimengerti.

Katanya yang begitu-begitu, yang bisa bikin feminis merasa ‘guilty pleasure’, harus rela ditinggalkan. Sebab, itu adalah ‘fasilitas’, ‘hak istimewa’, dan ‘kenyamanan’ yang diberikan patriarki.

Ah, masa sih? Fasilitas? Fasilitas apa? Fasilitas untuk saling menindas dan menjatuhkan? Kenyamanan apa yang perempuan peroleh dari sistem patriarki? Kenyamanan menjadi warga negara kelas dua?

Tidak ada perempuan yang untung dalam sistem patriarki. Ini seperti persoalan buruh, mau berapa besar gajimu, yang kaya tetap bosmu. Mau berapa banyak ‘kenikmatan’ dalam masyarakat patriarkis, yang utama tetap laki-laki.

Mari kita simak…

1. Ditraktir saat kencan

Sebagian orang memang masih beranggapan, kalau kamu feminis, kamu tidak boleh ditraktir oleh pasanganmu. Sebab, itu akan melukai nilai yang kamu anut. Well, berelasi tidak se-hierarkis itu sayangku.

Baca juga: Anggapan Keliru terkait Feminis yang Harus Diluruskan Agar Pikiranmu Tidak Cupet

Tidak semua perempuan mau ditraktir karena merasa menikmati kencannya tersebut, sehingga sah-sah saja kalau ikutan bayar makan, nonton, atau apapun itu.

Tetapi, ada juga perempuan yang mau ditraktir, karena tak ingin melukai ego para lelaki. Bukan karena nggak punya duit atau cari gratisan. Masa iya, di depan kasir harus bilang, “Gak usah bayarin aku mas. Aku bisa bayar sendiri.” Bisa tersinggung kekasih kita.

Tidak sayang, kita berelasi untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Nanti, di lain waktu, kami ganti itu makanan dengan sesekali masakin pasangan, sembari memberi kejutan di depan kosan. Romantis kan? Iya dong.

Soal pemberian lain, misalnya hadiah. Its okay, kita saling bertukar hadiah, selama bukan dengan pejabat dan nilainya miliaran. Bisa-bisa dianggap gratifikasi, bukannya romantis malah ditangkap KPK. Kalau dibikin FTV kan gimana-gimana gitu. Masa judulnya “Pacarku Ditangkap KPK”. Yhaa…

Jadi, tak masalah kamu dibayarin atau kamu yang bayar. Tidak merusak atau melukai ideologimu, apalagi agamamu…

2. Tidak boleh berada di ranah domestik

Feminis kok mau di wilayah domestik? Santai-santai di rumah sambil terima duit dari laki-laki itu fasilitas patriarki, tahu?! Owww… Begitu kira-kira narasi yang sering disampaikan oleh teman-teman, baik yang mendaku sebagai feminis maupun bukan.

Begini… Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan di luar rumah maupun di ranah domestik itu tidak hadir melalui sistem patriarki. Ia telah hadir sejak dulu kala, bahkan ketika era matriarki dimana sistem keluarga belum terbentuk.

Baca juga: Menjadi Seorang Feminis Jawa Kekinian

Patriarki hadir justru menghancurkan tatanan keseimbangan itu dan menciptakan sistem seolah domestik hanya tugas perempuan dan non-domestik adalah milik laki-laki.

Patriarki membuat kita menganggap bahwa domestik adalah ruang tanpa nilai dan kekuatan. Padahal, domestik adalah kekuatan perempuan. Ia memiliki nilai yang sama berharganya dengan tugas-tugas yang dianggap maskulin.

Its okay kamu di domestik atau tidak. Berada di domestik tidak lantas menjadikan kerjamu kalah bernilai dengan kerja laki-laki di luar sana.

3. Dibantu angkat barang yang berat-berat

Iya, ini sering! Katanya feminis, alahhh… ngangkat meja aja minta bantuan. Katanya feminis, angkat koper di kabin masih minta bantuan orang. Belum lagi urusan angkat galon air. Ya, patriarki memang membentuk pemahaman bahwa perempuan rapuh dan laki-laki kuat.

Perlu diketahui, ideologimu sebagai seorang feminis tidak akan luntur, meskipun kamu dibantu orang lain untuk angkat barang. Apalagi, bagi yang berkeluarga, suamimu ikut membantu gendong anakmu. Sama-sama angkat beban berat juga. Menyenangkan, bukan? Berbagi tugas.

4. Selalu ingin Dimengerti

Oh, saya setuju banget dialog dan komunikasi itu penting. Kalau seandainya dialog dan komunikasi antar gender kita benar, mungkin patriarki takkan pernah hadir di muka bumi.

Seandainya perempuan tidak dibungkam dan berdiam diri di dapur, mungkin perempuan akan lebih mudah dipahami. Sayangnya, sejarah kita terlalu lama membungkam perempuan. Alhasil, pikiran dan isi kepala perempuan terasa asing di masyarakat.

Artikel populer: Makna ‘Lagi Syantik’ bagi Perempuan

Dalam masyarakat patriarkis, hanya pengetahuan versi laki-laki yang dominan dalam percakapan sosial. Itu mengapa hingga hari ini kita sering menemukan komunikasi antar gender yang berjalan secara asimetris.

Bisa saja mereka yang mengeluh pasangannya sulit dimengerti memang belum mampu menangkap pola komunikasi pasangannya.

Namun, waktu akan membantu. Masa iya, sudah lima tahun bersama masih belum paham kalau pasangannya lagi ngambek. Tidak hanya perempuan, laki-laki pun akan kesal kalau pasangannya susah memahami mereka.

Dan, bisa jadi bukan pasanganmu yang tidak mengatakan apa maunya, melainkan kamu yang tidak memahami apa yang pasanganmu ingin sampaikan. Nah, feminisme berusaha mendialogkan kedua bahasa itu, mailav…

5. Body shaming sama diri sendiri

Apaan, katanya feminis, tapi suka sekali body shaming pada diri sendiri. Wow, luar biasa… Body shaming itu ketika kita mempermalukan orang lain dengan membahas fisiknya. Apakah seseorang yang mengaku gendut bertujuan untuk mempermalukan dirinya sendiri? Belum tentu!

Kita mengenal my body my authority, suka-suka temanmu dia mau unggah foto dirinya dengan caption gemuklah, kuruslah, cebonglah, kampretlah. Itu tubuh dia, bukan tubuhmu!

Lagipula, siapa yang tahu kalau dia ngaku gemuk agar dikomen “nggak kok beb, kamu kurus”. Lha, situ bisa baca pikiran orang? Kurang-kurangilah prasangka. Sudahi pikiran-pikiran yang menyandarkan gemuk atau kurus pada standar industri. Semua orang punya ukurannya masing-masing.

Namun, jika dalam aktivitas media sosialnya menunjukkan tanda-tanda insecure dan depresi dengan bentuk tubuhnya, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk merangkulnya. Setidaknya memberi support bahwa ia sudah cantik dan sempurna sebagai dirinya.

Jika mendaku feminis, jadilah feminis yang solutif, bukan feminis yang hobi nyinyir, wahai temanku.

6. Kursi khusus di angkutan umum

Feminis kok pakai kursi khusus perempuan. Itu produk dari kebijakan patriarki, tahu?! Begitu kata rang-orang.

Tanpa mereka sadari, kebijakan publik mengenai kursi khusus perempuan itu tidak lahir dari masyarakat patriarkis. Ia justru lahir dari kebijakan yang mengedepankan pengarus-utamaan gender.

Memang belum sempurna dan sesekali tidak memenuhi social policy yang diharapkan. Tetapi, dia tidak hadir dari sistem patriarki, ia justru melindungi perempuan dari patriarki.

Jadi, begitulah… Ini tidak hadir sendiri, melainkan melalui diskusi dengan teman-teman lainnya, baik laki-laki maupun perempuan. Feminis kan tidak selalu perempuan, banyak juga kok laki-laki feminis.

Dan, pengetahuan yang mensimplifikasi feminisme jangan terus menerus direproduksi, karena ini menyangkut kehidupan kita sehari-hari. Ya kamu, orang tua, anak, saudara, suami, pacar, atau gebetan, eh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.